
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Beberapa tahun berlalu...
"Kakak..!! "
"Kakak..!! "
"Kakak..ihk.. hiks.. kakak."
Bian menggelengkan kepalanya melihat sosok bocah empat tahun yang sedang berguling-gulingan di karpet bulu, ya.. dia tak lain adalah Arfan, si manja si pecicilan dan juga si cengengeng.
Sikap Arfan adalah sifat kebalikannya Bian, dan maka dari itu Bian selalu risih melihat tingkah bocah empat tahun itu yang menurutnya sangat merepotkan.
Dan Bian juga aneh sebenarnya adiknya ini mirip siapa, bahkan melihat Mama dan Papa nya tidak sedikitpun memiliki sifat aneh seperti adiknya, dan naasnya lagi hari ini dia harus mendapatkan tugas untuk menjaga adiknya.
Tidak ada Nanny, semua Nanny pergi karena tidak kuat menghadapi tingkah Arfan yang selalu membuat ulah, sebenarnya bukan ulah lebih tepatnya selalu membuat Nanny nya jantungan karena Arfan yang selalu tidak bisa diam.
"Stop crying Arfan, you've been crying for more than twenty two minutes."
"Berhenti menangis Arfan, kamu sudah menangis lebih dari dua puluh dua menit." kata Bian yang sedang duduk santai di sopa dengan buku nya.
Arfan menghentikan tangisan nya saat mendengar ucapan kakak nya yang selalu memakai bahasa aneh menurutnya.
"Kaka ngomong apa?." tanya nya sambil duduk.
Dasar..
Bian sangat gemas, entah untuk apa bocah itu menangis dari tadi, dan sekarang dia berhenti hanya karena tidak paham dengan apa yang dia ucapkan?, menyebalkan bukan?.
"Berhenti menangis, kamu sudah menangis lebih dari dua puluh tiga menit." Bian mengulang kata-kata nya lagi.
"Benarkah?, aku pikir sudah satu jam tapi ternyata masih kurang setengah jam lagi." ucap nya polos membuat Bian menanganga dengan penuturan adiknya.
Yang benar saja bocah itu kembali membuatnya pusing hanya karena ingin mencapai rekor menangis satu jam, memang lain dari yang lain.
"Haus kak." ucap Arfan menatap kakak nya.
Anak ini benar-benar..
"Nangis itu butuh tenaga loh kak." lanjutnya lagi semakin menyebalkan.
"Siapa suruh nangis." ketus Bian beranjak berdiri, dan mengambil gelas berisi jus jeruk yang ada di meja, bahkan untuk mengambil minum di depan mata pun adiknya ini sangat malas.
Arfan meminum nya sedikit lalu menatap sang wajah sang kakak lagi.
membuat Bian menghela nafasnya panjang, menghadapi adiknya yang super tengil ini harus banyak bersabar memang.
"Kenapa? mau apa?." tanya Bian jengah.
"Rasanya ko asem, ngak pait." celetuk Arfan dengan wajah Anehnya.
__ADS_1
"Jika bukan adik ku sudah aku buang kelaut nih bocah." gerutu Bian dalam hati.
Adiknya satu ini memang benar-benar ingin menguji kesabaran nya, entah tingkah apa lagi setelah ini yang akan di lakukan adiknya.
"Kak." panggil Arfan lagi.
"Apa Arfan." jawab Bian sedikit menahan kesal.
Namun Arfan malah diam dan kembali meminum jus jeruk lagi.
"Kak."
Astaga...!!!
"Apaa..!! "
"Nyalain tv dong." kata Arfan sambil menunjuk tv, "Aku bosan." lanjutnya lagi.
Dengan helaan nafas nya yang kesal Bian menyalakan televisi, dan kembali fokus pada buku nya lagi.
Arfan melirik kakaknya lagi, dia aneh melihat kakaknya yang terus fokus dengan buku tebal yang menurutnya bisa membuat nya pusing.
tapi hal itu sepertinya tidak dengan kakak nya yang selalu membaca, membaca dan membaca buku itu.
Jika kakaknya sejak dini sangat menyukai buku maka lain hal nya dengan Arfan yang sangat menyukai mainan, baginya belajar adalah belakangan, yang pertama adalah mainan dan mainan nya, tidak ada yang lain.
Arka dan Alena menghela nafasnya lega saat melihat dua buah hatinya yang sedang tidur di kamar nya.
Memang sejak satu tahun yang lalu Arka dan Alena menempatkan Arfan di kamar yang sama dengan Bian, mereka ingin Arfan bisa banyak belajar dari Bian yang sejak dini sudah pintar.
"Mereka terlihat lelap, sepertinya mereka lelah bermain." ucap Alena sambil tersenyum.
"Ya, mereka mungkin lelah bermain." sahut Arka menimpali.
Keduanya tidak tau saja kalau Bian dan Arfan sama sekali tidak bermain, hanya Arfan yang main tapi tidak dengan Bian berusia sembilan tahun sudah tidak menyukai permainan anak kecil, ralat Bian sibuk membaca buku.
Diam-diam Arfan tertawa cekikikan di bawah bantalnya, dan hal itu membuat Alena dan Arka langsung saling melirik.
"Pap ayo kita keluar, sepertinya tidak ada ciuman sebelum tidur untuk kedua putra tampan kita." ucap Alena sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Iya Mam, kayanya ngak ada yang akan ngerecokin kita lagi tidur deh." lanjut Arka semakin ingin menggoda putra nakalnya yang ternyata masih belum tertidur, padahal Bian nampak terlelap dengan buku di perlukan nya.
Saat Alena dan Arka membalikan tubuhnya Arfan langsung membuka matanya, berjalan pelan-pelan dengan tangan yang membawa balon dan sapu sepotong sapu lidi.
Dorrr..!!!
"Aaaaa.. Arfan..!! " bukan Alena dan Arka yang kaget, melainkan Bian yang sedang bermimpi menjadi peringkat pertama di sekolah nya lagi.
Melihat wajah marah sang kakak membuat Arfan menelan ludahnya kasar, buru-buru dia berjalan ke arah belakang Mama dan Papanya, mencari perlindungan.
"Mam, Pap tolong." cicit Arfan yang sedang bersembunyi.
Bian bangkit dari tempat tidur ingin menghampiri adiknya yang tengil untuk memberikan tatapan kemarahan nya, namun baru satu langkah Papa Arka memberikan kode untuknya sabar.
__ADS_1
"Belain aja terus." ketus Bian sebal, Papa nya memang selalu membantu Arfan jika bocah itu mengusili nya.
"Sabar kak, jadi kakak kan harus ngalah sama adiknya, namanya juga anak kecil." lanjut Alena menasehati.
Selalu saja itu yang di ucapkan Mama Papa nya, Bian ingin kembali ke tempat tidur namun tangan nya di tahan oleh Alena.
"Arfan." panggil Alena lembut.
Sosok yang di panggil langsung nongol, tapi hanya kepalanya saja, sedangkan tubuhnya masih betah bersembunyi di balik tubuh sang Papa.
"Sini, deketin kakak ayo." lanjut Alena.
"Takut, nanti kakak marah." jawab Arfan enggan keluar dari tempat persembunyiannya nya, dia tau kakaknya pasti akan kesal karena terkejut dengan ledakan balon yang di buatnya.
Bian menghela nafasnya, adegan ini selalu dia lakukan saat adiknya berbuat jahil padanya.
"Sini Ade Arfan ganteng yang ngak nakal, dan ngak nyebelin." Bian berkata dengan bibir yang tidak ikhlas, jika ingin adiknya mau mengakui kesalahan nya dia harus memuji adiknya dulu.
Arfan berjalan mendekati sang kakak, lalu melirik Mama dan Papa nya.
Dan hanya anggukan kecil yang di perlihatkan oleh Mama dan Papanya.
"Maaf kak." ucap Arfan sambil nyengir kuda.
"Kakak maafin, tapi mulai sekarang kamu ngak boleh bawa permen ke kamar lagi." kata Bian sambil tersenyum mengejek.
"Kakak." pekik Arfan tidak terima dengan syarat minta maaf nya.
Tapi saat melihat wajah menyeramkan kedua orang tuanya bocah empat tahun itu hanya menunduk takut, Arfan memang bandel di bilangin, padahal giginya sudah banyak yang hilang gara-gara makan permen.
Ekhem..
"Ya deh ngak makan permen lagi, tapi maafin ya." kata Arfan.
Bian mengangguk, dan terjadilah adegan teletabis, dimana kedua adik kakak itu sedang berpelukan, itu salah satu cara Alena dan Arka membuat anak-anak nya akur.
Alena dan Arka tersenyum melihat kedekatan kedua putranya.
dengan sengaja Arka mendekatkan wajahnya ke telinga istrinya lalu..
"Tambah anak yu.."
Seketika pipi Alena memerah..
END..
🌹🌹🌹🌹🌹
Kenapa END karena ceritanya sudah habis, dan untuk yang masih penasaran sama cerita nya Bian dan Arfan akan di ceritakan di judul ^^Istri Cantik Tuan Muda Kejam 2^^
Ada tambahan extra part nya, ngak banyak tapi semoga mengobati ke kepoan kalian terhadap pasangan Kiano dan Anaira, Andrian dan Nana.
__ADS_1
Terimakasih^_^