
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Sudah dua hari Arka tidak ke perusahaan nya, semuanya urusan nya baik pekerjaan nya berikan tanggung jawab pada Asisten nya, Arka yakin Andrian bisa di andalkan dalam detik-detik seperti ini.
Entah kenapa rasa mualnya melihat orang botak semakin bertambah, apalagi Arka tau jika di perusahaan nya ada beberapa karyawan tetap yang sudah paruh baya, dan memiliki kepala botak, membuatnya memilih untuk istirahat sejenak di rumah nya, sampai menunggu ketakutan nya hilang.
"Ayo makan, dari pagi kamu muntah terus pasti perut kamu kosong banget." ucap Alena, memegang semangkok bubur buatan tangan nya sendiri.
"Kamu memang istri terbaik." kata Arka sambil menerima suapan dari sang istri.
"Tentu saja aku baik, kalau kamu sakit kan ngak ada yang cari uang buat aku shofing, mana anak udah mau dua lagi." sahut Alena dengan wajah yang menahan senyum nya.
Tiba-tiba saja Arka memberikan cubitan di tangan istrinya, membuat Alena mengaduh sakit, namun ekspresi nya malah tertawa.
"Haha, aku bercanda sayang.. uuh suami tampan aku, cepat sembuh ya suami tampan ku agar istrimu yang cantik jelita ini bisa cepat-cepat belanja tas branded." kata Alena lagi sambil tertawa.
Arka mengerucutkan bibirnya sambil menerima suapan dari sang istri, lebih tepatnya pura-pura merajuk.
"Dasar mata duitan." sungut Arka pura-pura kesal.
Alena berdecak. "Bukan mata duitan, tapi emang harus matrealistis sayang, mana ada barang branded bisa di beli dengan cinta, kan pake uang." seru Alena merasa puas telah menggoda suaminya.
"Awas ya, nanti aku blokir kartu tanpa batas baru tau rasa." Arka malah ingin menambah panas obrolan kecil nya.
Sontak saja hal itu membuat Alena melebarkan matanya sempurna, "Oh ya? mau di blok ya?." Alena menaikan sebelah alisnya, namun dia masih tetap memberikan suapan untuk suaminya.
"Canda sayang." Arka langsung memberikan ekspresi wajah lucunya, meski hal itu sama sekali tak di tanggapi Alena.
Bisa hilang jatah malam nya jika Alena ngambek, apalagi gara-gara masalah spele seperti ini, bahkan jika Alena meminta di belikan barang branded yang banyak sekali pun Arka akan menuruti keinginan sang istri, jelas saja dia turuti, uang nya banyak dan semua hasil kerja kerasnya itu juga untuk istri dan anak-anaknya.
Huhh..
"Gimana masih takut sama itu? (maksudnya orang botak)." Alena bertanya, tentu saja di jawab anggukan oleh Arka.
__ADS_1
Arka memang tidak mau ada yang memanggil nama pria botak, baru mendengar kata botak saja dia sudah merinding, dan ujung nya pasti mual lagi.
Sebenarnya Alena sangat kasihan pada suaminya yang harus menderita ngidam nya, tapi apa boleh buat calon anak keduanya memilih suaminya yang merasakan ngidam nya.
"Aa lagi." kata Arka sambil membuka mulutnya.
Alena kembali memberikan suapan lagi untuk sang suami tercintanya, dan Bian menerima nya dengan wajah yang tersenyum, bahagia karena istrinya mengurusnya dengan baik dan penuh sayang.
Keduanya mengobrol sampai bubur di mangkuk itu habis, dan Alena yang melihat bubur buatan nya habis langsung menaruh mangkuk bekas bubur itu di nakas.
"Minum dulu sayang." ucapnya, memberikan minum.
Arka menerima minum nya, dan meminum sampai habis setengahnya.
"Terimakasih sayang." kata Arka sambil tersenyum.
"Makasih terus, aku kan istri kamu dan sudah sepantasnya aku ngurus kamu kalo lagi sakit." sahut Alena ingin beranjak namun dia teringat akan sesuatu yang belum di ketahui suaminya.
"Kenapa?." tanya Arka heran istrinya tak jadi pergi.
Kabar kehamilan adik iparnya sudah sampai di telinga nya, karna kemarin mertuanya menelpon nya, dan Alena lupa tidak memberitahu suaminya karna tadi malam Arka kembali mual lagi setelah menonton flm animasi si kembar botak upan dan ipan.
"Benarkah." Arka terkejut, lebih tepatnya kaget dengan kabar bahagia ini.
Alena mengangguk, "Iya sayang, kemarin Anaira menelpon tapi karna kamu lagi stay di kamar mandi gara-gara nonton si kembar botak, aku jadi lupa bilang." jelas Alena.
Sungguh kabar kehamilan adiknya membuat Arka bahagia, apalagi dia tau bagaimana perjuangan adik kesayangan nya saat bulak balik ke rumah sakit untuk berkonsultasi pada dokter.
Sebagai kakak siapa yang tidak bahagia mendengar kabar baik dari adiknya, Arka berharap semoga saja kandungan sang adik bisa berjalan lancar tanpa halangan.
"Kita harus memberikan hadiah untuk Anaira, menurutmu apa yang harus kita berikan." Arka bertanya, karena bagaimana pun uang suami adalah uang istri, dan saat memutuskan sesuatu tentunya Arka harus memberikan istrinya untuk memberi tanggapan, baik setuju ataupun penolakan, tapi itu semua demi rumah tangganya agar tetap harmonis.
Alena tersenyum mendengar pertanyaan sang suami, dia beruntung memiliki suami yang selalu mau mendengarkan pendapatnya, percayalah setiap istri pasti ingin merasakan di nomer satukan, meski sebagian orang menganggap hal itu adalah hal yang sangat meribetkan seperti menganggap istri terlalu banyak kuasa dalam rumah tangga misalnya.
"Bagaimana kalau mobil?, karna kalau alat bayi pasti masih lama bayi nya lahir, terus kita juga belum tau kan jenis kelamin anak nya Anaira cwe atau cwo nya." Alena memberikan saran nya.
__ADS_1
Dengan cepat Arka mengangguk setuju, "Iya, kita belikan mobil terbaru untuk Ira, dia pasti sangat senang." sahut Arka lagi, dia sangat tau sifat adiknya yang memang hobby nya belanja barang branded, sama seperti istrinya yang cantik jelita itu.
Sedangkan di tengah rumah nampak Bian yang sedang main, di temani dengan Nanny tersayang nya.
"Nanny, kemarilah." panggil Bian, menepuk sopa yang di duduki nya.
Nana mendekat, dia duduk di sopa yang di teluk anak majikan nya tadi, lalu tersenyum. "Ada apa tuan muda?." tanya Nana, lembut.
Bian menunjuk tv besar di depan nya, membuat Nana menelan ludahnya, pasti anak majikan nya akan memintanya untuk menyetelkan flm aneh-aneh itu lagi.
"Tuan muda, sebaiknya kita nonton di kamar tuan muda saja, nanti jika ketahuan Mama tuan muda bisa kena marah." kata Nana mencoba berbicara selembut mungkin.
Namun nihil anak asuhnya terlalu keras kepala, susah di kasih tau, ya maklum masih anak-anak, tapi hal itu membuat Nana yakin pasti ujung nya akan ada masalah.
Dia menuruti keinginan tuan mudanya, namun baru beberapa menit menonton terdengar suara deheman di tangga, membuat Nana replek melirik ke samping.
"Nona." pekik Nana pelan sambil menunduk, namun Alena memberikan kode untuknya pergi beranjak dari sopa, dan Nana melakukan nya.
Perlahan Alena duduk di samping putranya yang nampak asyik menonton flm kesukaan nya, tangan nya terulur untuk mengambil remote di meja, dan tak lama kemudian dia memencet tombol merah di remote.
"Aa.. Nanny tv nya kenapa dimatikan sih." kata Bian kesal karna tv nya mati, dan adegan nya sangat mendebarkan membuat jiwa keingintahuan nya Bian semakin membeledak, ingin tau apa yang akan terjadi di akhir flm nya.
"Mama cantik, astaga lihatlah perut mama yang buncit, sangat cantik dan seksi." puji Bian meniru kata-kata yang selalu di katakan sang Papa di pagi hari, dan Alena yang sedang berdecak pinggang hanya melotot dengan wajah kesal nya.
Putranya yang satu ini memang copasan Arka, semuanya mirip dengan Arka bahkan Alena sampai bingung sendiri kenapa di jiwa putranya tidak ada sedikitpun yang mirip dengan nya.
"Apa gayaku kurang bagus saat membuat nya dulu?." batin Alena, mulai berpikir aneh-aneh.
___________
🌹🌹🌹🌹🌹
Cerita Bian dan Lisa udah sampai Epsd 34 ya, yu kunjungi ceritanya di judul yang sama yaitu ^^Istri Cantik Tuan Muda Kejam 2^^
Jangan lupa jejak, ♥️
__ADS_1