Istri Cantik Tuan Muda Kejam

Istri Cantik Tuan Muda Kejam
Exstra part (Kejahilan si cucu Mafia)


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Suasana di rumah besar Rafasya sangatlah ramai, dimana semua keluarga nya dan keluarga teman-teman nya juga ikut meramaikan acara weekend nya.


Dari dulu acara weekend ini memang tidak berhenti, mereka ingin anak cucu mereka bisa menyambungkan silaturahmi setelah mereka tiada, maka dari itu acara bakar-bakaran setiap hari minggu selalu di hadirkan.


Mereka memilih rumah Rafasya yang menjadi tempat berkumpulnya, kenapa?, jawaban nya adalah karena rumah Rafasya lebih megah dari pada rumah mereka, dan yang paling terpenting nya rumah Rafasya memiliki taman belakang yang luas untuk bermain anak-anak.


"Opa." panggil Arfan sambil nyengir kuda, tak lupa dengan giginya yang banyak ompong nya.


"Kenapa?, apa kurang?." tanya Rafa pada cucu tengilnya, sebelum nya Arfan meminta banyak mainan padanya, dan sekarang entah apa lagi yang cucunya mau.


"Tidak Opa, mainan masih banyak hanya saja aku merasa suntuk bermain dengan para bocah gede itu, mereka sibuk sendiri." sungut Arfan sebal, dia sedari tadi di abaikan oleh kedua kakaknya yang sibuk dengan buku.


"Achel, dia kan ada." lanjut Rafa.


Arfan menggelengkan kepalanya, "Apalagi Achel gadis gembrot itu terus mendekatiku, aku tau wajah ku yang tampan ini bisa membuat semua orang terpesona, tapi sayangnya aku tidak suka sama gadis gembrot itu." celoteh Arfan sambil duduk di samping sang Opa.




(Arfansya Ammar Raid, si tengil, si jahil, dan anak yang sangat aktif).


Bocah tujuh tahun itu memang tingkat kepedean nya sangat tinggi, bukan hanya narsis tapi juga tingkat kenakalan nya juga cukup membuat orang sesak nafas.


Semua bapak-bapak menggelengkan kepalanya mendengar celotehan Arfan, mereka sudah terbiasa dengan sikap Arfan yang memang selalu asal jeplak, tapi hanya satu yang menatap sosok bocah tengil itu dengan tatapan garangnya, siapa lagi kalau bukan Rey yang tidak terima jika cucu cantik nan menggemaskan nya di sebut gembrot oleh cucu teman nya.


""Enak saja gembrot, Achel itu cantik dan manis." sungut Rey tidak terima.


Baginya cucunya itu adalah gadis paling cantik, meski terkadang cucunya itu selalu membuat nya sakit pinggang karena selalu meminta di gendong.


"Tapi badannya bengkak." lanjut Arfan sambil mengambil sate yang sudah di panggang sang Opa.


"Arfan hanya bercanda, santai Rey." kata Rafa tau akan wajah sebal teman nya, Rey memang baperan apalagi hal-hal berbau cucu gembrot nya, tidak seperti Zex yang santai saja duduk dengan cucu tomboy nya, Kinara.


"Kekanakan ya Opa." kata Nara pelan.



(Kinara Natasha Pariska, si cantik yang selalu berpakaian tomboy).


Zex hanya tersenyum menanggapi ucapan cucu kesayangan nya yang kadang bijak dan kadang manja, Nara yang berumur enam tahun jauh lebih dewasa dari pada anak sebaya nya, hanya saja cucunya selalu bersikap layaknya laki-laki, bahkan pakaian nya sudah terlihat tomboy, benar-benar kontras dengan Achel cucu kakak iparnya.


Rey masih sebal dengan tingkah cucu Rafasya yang tengilnya minta ampun itu.


jika bukan cucu Rafasya sudah habis dia kuliti bocah itu, saking kesalnya.

__ADS_1


"Opa." terdengar suara anak perempuan, membuat para bapak-bapak itu langsung teralihkan.


"Lihat Opa, tangan Achel kotol." kata bocah tiga tahun yang sedang memegangi tangan nya yang terkena lumpur.




(Rachel Putri Pariska, si gembrot yang menggemaskan, kesayangan Opa Rey).


Rey langsung mengelap tangan cucu kesayangan nya dengan lap kain di depan nya, dan hal itu membuat Achel merasa jijik.


"Opa jorok, ihk..lap nya bau ihk." lanjut Achel akan menangis.


"Aduh cucu Opa sayang, maafin ya, jangan nangis lagi nanti cantiknya hilang." kata Rey sambil mengusap pipi cucu nya dengan tangan nya dan sontak hal itu membuat Achel semakin kencang menangis nya.


"Hua.. Opa tangan nya kan bau daging, Hua..pipi Achel kotol..Hua." tangis Achel semakin kencang membuat Arfan yang duduk di samping Opanya menutup telinga nya.


"Tuhkan aku bilang juga apa, si gembrot itu berisik cengeng." kata Arfan yang sibuk menutup telinga dengan satu tangan nya, dan satu tangan nya lagi memegang sate ayam untuk dimakan nya.


Dan sontak mendengar celotehan Arfan lagi membuat tangis Achel semakin menggema, dan mau tak mau jika sudah begini maka Andrian yang harus turun tangan dalam hal meluluhkan hati putrinya.


"Eee..anak Papi ko nangis sih, kan cantik masa iya nangis, uhh sayang nya Papi jangan nangis lagi ya, nanti kak Arfan nakal nya bakalan Papa Arka jewer, iya kan Papa Arka." Andrian memangku putri kesayangan nya, lalu menatap teman nya.


Arka mendelik tajam pada sang putra, dan yang di lihat hanya nyengir kuda, membuat Arka sebal.


"Aduh Pap sakit..hikss..sakit Pap, huaaaa bilangin Mama awas ya." ucap Arfan sambil menangis dengan air mata buaya nya, padahal Papa nya tidak melakukan apapun padanya.


Malam tiba, semua orang sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing, bakar-bakaran sudah siap dan tinggal makan.


semua anggota keluarga besar tiga bersahabat itu berkumpul di taman belakang, dengan baralaskan tikar mereka makan dengan khitmat.


Pasangan Alena dan Arka, Anaira dan Kiano, Andrian dan Nana, Kelle dan Rico, dan ketiga legend pun ikut makan, menikmati makanan hasil bakar-bakaran para bapak-bapak.


Setelah selesai acara makan bersama itu para ibu-ibu berkumpul di ruangan tv, menggosip ala ibu-ibu tempong.


sedangkan para bapak-bapak nampak sibuk dengan pembicaraan seriusnya di ruang tamu, apa lagi kalau bukan masalah bisnis nya.


Sedangkan di dalam ruangan kamar nampak dua sosok anak laki-laki yang sudah memasuki masa remaja, siapa lagi kalau bukan Bian dan Boy.


Keduanya sengaja mengunci pintu agar tidak di ganggu oleh anak-anak itu, terutama Arfan, sosok tengil yang sangat di hindari oleh keduanya.


"Bian." Panggil Boy.


"Hemmm.."


"Hey." panggil Boy lagi.


"Hemmm.."

__ADS_1


Boy menatap jengah pada sosok yang terus bergelut dengan laptop itu, jika tidak dengan buku-buku tebal ya pasti dengan laptop itu, dia selalu di abaikan oleh sepupunya dan kalah dengan buku-buku tebal, benda pipih itu.


"Hallo Rere."


Seketika Bian melirik ke arah sepupunya, dan yang di lirik langsung memperlihatkan wajah kesalnya.



(Albiansya Ammar Raid, si tampan yang cuek."


"Kau selalu mengabaikan ku, tapi jika membicarakan masalah gadis baru saja sewot." sungut Boy kesal.



(Giorgino Boy Febrian, si narsis yang selalu terabaikan).


"Kau tau aku tampan, kaya dan juga miliki pesona yang penuh kharisma, Rere akan menyukaiku, dan tidak akan menerima cintamu." kata Boy sinis dengan kata-kata penuh pujian pada dirinya sendiri.


"Lalu?." Bian menatap tak suka pada Boy.


Huhh..


Saat Boy akan berucap tiba-tiba dia mendengar suara cekikikan di almari, dan hal itu membuat Boy beranjak berjalan mendekati almari.


Dorrr..!!!


Arfan tersenyum saat berhasil membuat Boy menganga karena terkejut, "Kena, hahaha..!! " kata Arfan sambil berjalan santai mendekati sang kakak, mengabaikan sosok Boy yang sedang kesal padanya.


"Kak, pinjam laptop dong mau nonton flm yang darah-darahan itu." kata Arfan sambil duduk di samping sang kakak.


Bian mendelik tak suka pada sosok adiknya, "Tidak ada, anak kecil ngak boleh nonton yang begituan." tegas Bian.


"Kak."


"Tidak! "


"Kak."


"Kakak..!! "


Huh..


"Kak Rere..!! "


Langsung Bian melirik, membuat Arfan sebal.


"Dasar bucin si bule." sungut Arfan kesal.


_________

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


Cerita Bian udah sampai Epsd 71 loh, yu gercep di cerita Bian dan jodohnya♥️


__ADS_2