
^^H A P P Y R E A D I N G^^
๐น๐น๐น๐น๐น
Memasuki hari-hari menuju persalinan nya Lili sangat menjaga kesehatan nya, dukungan dari orang tercinta dan keluarga membuat Lili yang sebentar lagi akan melahirkan babby grils nya nampak bisa lebih tenang.
Ketakutan memang menyertai nya, di usia Lili yang masih 18 tahun Lili akan melahirkan anak pertama nya.
tak hanya Lili yang takut, tapi Andrian juga merasakan khawatir berlebih pada istrinya, meski Lili terlihat tenang tapi Andrian tau akan kecemasan sang istri.
Lili bangun dari tidur nya, dan tangan nya tidak merasakan pergerakan di sebelahnya, membuat Lili mengerejapkan matanya beberapa saat.
"Pasti sedang masak." gumam Lili sambil tersenyum.
Andrian adalah suami idaman, pria yang serba bisa meski pelit tapi Andrian adalah sosok pria yang perhatian dan paham akan keinginan pasangan nya.
Tangan Lili mengusap perutnya yang sudah sangat buncit, Lili tersenyum saat merasakan ada pergerakan di perutnya.
"Mama menunggu mu cantik, cepatlah keluar papa mu akan menyayangimu." ucap Lili sambil mengusap pelan perut buncit nya.
Sekolah dan kebebasan sudah Lili tinggalkan hanya untuk suaminya, dan Lili tidak pernah menyesal menyiakan-nyiakan waktu untuk kebebasan nya, Lili malah bangga karna di usianya yang masih terbilang sangat muda Lili sudah akan menjadi seorang ibu.
Saat ingin bangun tiba-tiba saja Lili merasakan rasa nyeri di bagian perutnya, dia merasa ingin buang air besar tapi rasanya terlalu sakit, dan Lili tak mampu menahan rasa sakit nya lagi.
"Sayang." teriak Lili yang masih tiduran di ranjang, tentunya dengan rasa sakit nya.
Andrian yang sedang membuatkan sarapan langsung kaget, apalagi mendengar teriakan istrinya.
"Ada apa sayang, kenapa?." tanya Andrian sambil melihat wajah istrinya khawatir.
Lili mengusap perutnya, wajahnya nampak penuh dengan keringat, "Perut aku sakit." ucap Lili sambil menahan rasa sakit yang teramat susah di jelaskan.
Andrian mendekat, dia membuka selimut yang menutupi sebagian tubuh sang istri. "Astaga sayang, air ketuban nya sudah pecah." ucap Andrian panik.
Melihat suaminya yang panik membuat Lili menarik nafasnya lalu membuangnya lagi secara pelan. "Gendong aku, sepertinya aku mau melahirkan." ucap Lili, sebelumnya dia sudah belajar beberapa tanda-tanda wanita yang akan melahirkan, dan ini adalah salah satu tanda akan melahirkan.
Dengan cepat Andrian menggendong sang istri, dan berjalan ke luar kamar, Andrian terus berjalan sampai keluar rumah dan mendudukkan sang istri di jok depan.
Mobil melaju dengan cepat, Lili menarik nafas nya pelan lalu membuangnya lagi secara pelan juga, hal itu dia lakukan berulang kali agar mengurangi rasa sakit yang kini menerpa nya, meski rasa sakit masih sama dan tak berkurang.
"Sayang, cepetan.. hiks..sakit banget." ucap Lili, dan rasa sakit itu kembali menerpa nya.
Andrian melihat wajah Lili, sungguh dia tidak tega melihat istri kecilnya harus menahan sakit untuk melahirkan keturunan nya, tapi Andrian juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menenangkan sang istri dan meyakinkan Lili semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Sabar sayang, sebentar lagi sampai." ucap Andrian sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, dia tidak kuat melihat Lili yang menahan sakit.
Setelah beberapa menit mobil yang kendarai Andrian sampai di loby rumah sakit, dengan cepat Andrian menggendong istrinya di pelukan nya, dan tak lama kemudian ada perawat membawa kursi roda.
Lili di dudukan di kursi roda, dengan cepat Andrian di temani dua suster berjalan ke arah ruangan persalinan dengan kursi roda yang di dorong suster.
Sesampainya di depan ruangan persalinan Lili menggenggam tangan suami nya, dia takut dan panik, tapi Lili tidak mengetakan satu hal pun, dia diam dengan tangan yang memegang tangan Andrian erat seolah tak rela melepaskan suaminya.
"Aku akan menemanimu." ucap Andrian sambil membalas memegang tangan Lili, dan hal itu tentu saja membuat Lili senang dan tersenyum.
"Aku membutuhkan mu." ucap Lili, lalu untuk sesaat keduanya berpelukan untuk saling menguatkan dan mengusir ketakutan di hati masing-masing.
Akhirnya keduanya masuk, kini Lili sudah berbaring di ranjang rumah sakit, Lili akan melahirkan bayi nya dengan cara normal karna itu adalah impian nya sejak lama, Lili ingin merasakan rasanya melahirkan secara normal mengingat dulu bunda nya melahirkan dia dengan cara oprasi sesar.
Dokter memberi instruksi Lili untuk mengeden, dan Lili menurut setiap instruksi yang di berikan sang dokter.
"Masih pembukaan 8 ya pak." ucap si dokter.
Jam berputar terus bahkan Lili dan Andrian sudah hampir dua jam berada di ruangan itu.
Andrian yang masih setia menggenggam tangan Lili ikut merasakan penderitaan sang istri.
tak henti-henti nya Andrian berdoa untuk keselamatan kedua orang yang di cintai nya.
Lili tersenyum, dia merasakan rasa yang teramat dan susah di jelaskan, mungkin ini lah yang di sebut perjuangan seorang ibu, Lili sekarang bisa merasakan rasa sakit itu, rasa yang tidak pernah dia alami sebelum nya.
"Apapun yang terjadi aku mencintaimu, sayang " ucap Lili lalu dia merasakan rasa sakit itu lagi.
"Dokter!!." teriak Andrian.
Membuat dokter dan suster dengan cepat berjalan ke ruangan persalinan, dan mereka mengecek kembali kondisi Lili, dan dokter melihat wajah pucat pasi Lili membuat mereka saling tatap.
"Kenapa kalian diam saja, cepat bantu istri ku, dia akan melahirkan." ucap Andrian marah karna cemas.
"Sayang jangan marah-marah." ucap Lili lirih.
"Tarik nafas..buang.. tarik nafas lalu dorong nona." ucap dokter kembali memberikan instruksi.
Lili melakukan nya, dia kembali mengikuti instruksi dokter, sampai Lili merasakan rasa yang teramat sakit, di barengi genggaman tangan yang kuat pada tangan suaminya.
"Oekk.. oekk.." (Anggap aja suara bayi๐ )
Andrian melihat bayi merah yang di lahirkan istri kecilnya, dan langsung memberikan kecupan di kening Lili.
__ADS_1
Cupp..
"Terimakasih sayang, terimakasih." ucap Andrian sambil mengecup kembali kening wanita yang telah mempertaruhkan hidup dan mati nya hanya untuk melahirkan putri nya.
Lili tersenyum dengan wajah nya yang pucat. "Aku bahagia, sekarang aku sudah menjadi ibu sayang." ucap Lili lalu memegang tangan Andrian.
"Aku yakin putri kita akan menjadi gadis yang sangat beruntung karna memiliki ayah yang sebaik dan setampan kamu, meski sedikit pelit tapi kamu tetap yang terbaik sayang." sambung Lili.
Andrian tersenyum, "Kita akan membesarkan nya bersama, aku janji akan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk kalian berdua." kata Andrian lagi, dia merasakan bahagia teramat karna status nya sudah berganti menjadi seorang ayah.
Dan saat Andrian akan melihat bayi nya Lili memegang tangan Andrian, "Sayang aku titip putri kecil kita sama kamu ya, aku mohon jangan pernah berubah." ucap Lili tiba-tiba menangis.
Membuat Andrian kebingungan, sedangkan dokter yang sudah tau kondisi Lili sangat lemah hanya bisa saling melirik dan diam.
"Apa maksud kamu sayang, jangan katakan hal itu lagi kita akan menjaga putri kecil kita bersama." ucap Andrian tidak suka dengan ucapan istrinya yang seolah mengakan perpisahan.
Lili memegang tangan Andrian lalu menaruh di dada nya. "Aku tau tidak ada yang menginginkan perpisahan sayang, tapi aku benar-benar sudah tidak kuat, sakit." ucap Lili lirih.
"Cintaku masih tetap bersamamu meski kita di dunia berbeda, aku mencintaimu om tampan ku." sambung Lili, dan setelah itu Lili memejamkan matanya.
Melihat Lili yang memejamkan matanya Andrian tertawa, "Sayang jangan bercanda, aku tau ini hanya prenk kan." Andrian tertawa getir.
"Sayang." Andrian mengguncangkan pelan tubuh istrinya.
Namun nihil Lili sudah tiada membawa kebahagian nya yang sudah melahirkan putri kecil nya, meninggalkan pria yang di cintai nya untuk menghadap sang pencipta.
"Kalian kenapa diam saja, cepat cek kondisi istriku." teriak Andrian menggema.
Dokter dengan takut memeriksa Lili, dan benar saja tak ada tanda-tanda kehidupan di tubuh Lili, dia telah tiada membawa rasa sakit nya setelah perjuangan besar nya.
"Maaf tuan, tapi nona Lili sudah meninggal dunia." ucap sang dokter pelan.
Andrian melihat Lili, tidak..tidak mungkin Lili tadi pagi masih sehat, bahkan semalam keduanya masih sibuk menyiapkan kamar untuk babby grils nya, tapi kenyataan sekarang Lili telah meninggalkan nya.
"Lili sayang, aku mohon jangan tinggalkan aku." ucap Andrian sambil terisak.
Air matanya lirih tak tertahan kan, apalagi saat melihat Lili yang memejamkan matanya dengan wajah yang tersenyum cantik.
"Tidak!!... Lili sayang.. bangun."
_____________
๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1
Aku nangis๐ช