
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi ini tidak ada mentari tidak ada awan cerah yang ada hanya awan hitam dengan di temani rintikan hujan lebat dan petir yang terdengar keras saling bersahutan, membuat siapapun orang yang memiliki kesibukan di luar ruangan bernama rumah pasti lebih memilih untuk bersembunyi di balik selimut alias rebahan di kamar.
Tapi ralat, itu semua tidak berarti untuk Alena yang memaksa pergi keluar karna tidak mau tugas yang dia kerjakan cape-cape itu sia-sia, mengingat tugas itu sudah cukup lama dia kerjakan dan hari ini adalah hari dimana dia mengumpulkan nya, dengan harapan yang penuh akan memiliki nilai yang memuaskan agar dia bisa lulus ditahun ini.
Arka yang semula meliburkan dirinya ke kantor mau tak mau harus mengantarkan Alena mengingat tidak ada supir yang datang, begitupun dengan Andrian yang mengirimkan sebuah pesan yang menyebalkan untuknya.
"Maaf bos, bunda lagi bikin makanan banyak, kasihan ngak ada yang habisin, emm..tapi kalau ada bonus 50% di bulan ini, mungkin hujan lebat ini tidak akan menjadi masalah untuk bolos kerja."
Sebuah pesan yang menyebalkan bukan, sejak kapan tanteu Dian punya daya semangat memasak? bahkan selama Arka hidup dia belum pernah merasakan masakan tanteu Dian yang lezat, adapun makanan ya paling gosong, dan rasanya jangan di tanyakan lagi, lebih ancur dari pada masakan anak tk.
"pakai jeket." ucap Arka yang sedang membuka payung, menyesal tidak memiliki supir dan pembantu.
Alena mengangguk, "Sudah, ayo." jawab Alena antusias.
Keduanya masuk kedalam mobil, melewati jalanan yang cukup gelap karna hujan besar yang membuat pandangan sedikit blur, Arka sesekali melirik Alena yang nampak sedari tadi terdiam, dan saat dia kembali melihat Alena Arka terbalak saat melihat Alena memakai Earphone yang tepat menempel di telinga nya.
"Aaaa !!! Sakit hiks..sakit." Teriak Alena saat Arka tiba-tiba merebut ponselnya dan mengambil paksa Earphone yang menempel di telinganya.
"Apa yang anda lakukan tuan, kembalikan itu miliku." ucap Alena sambil mengusap telinganya yang sakit karna ulah Arka tadi.
Arka tak menjawab, dia lebih memilih pokus pada jalanan yang masih terguyur air hujan lebat itu, dan hal itu membuat Alena kesal dan menatap Arka dengan penuh kekesalan yang tertahan.
"Tuan!!." berbicara sedikit keras, dan hal itu membuat Arka melirik dan mrnghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Tatapan tajam itu kembali terpancar dalam wajah tampan Arka membuat Alena menelan ludah nya kasar, "Bahkan saat dia menatap tajam ku seperti itu dia masih terlihat menggemaskan." batin Alena.
__ADS_1
"Bodoh, kamu mau mati tersambar petir hah!!." suara bernada tinggi itu kembali di dengar Alena.
"What?." Alena menatap tidak paham.
"Berapa usia mu? kenapa kamu bodoh, di luar sedang ada petir dan kamu malah sibuk mendengarkan musik, kamu mau tersambar petir apa." Arka berkata sambil kembali menancap gas pedal mobilnya.
Alena terdiam seribu bahasa, sikap Arka memang jauh dari kata manis, bahkan seharusnya Arka bisa memberitahu dia dengan cara yang lebih baik dari pada seperti tadi, tapi dia pun sadar sikap Arka pasti karna sikap nya yang awalnya malah membuat onar di perudahaan nya, meski dia tidak yakin apa tujuan Arka mau menikahinya, dan membantu dia mendapatkan hak nya.
Alena larut dalam pikiran nya yang tidak menentu, sebulan sudah dia menjadi istri dari seorang Arkasya Ammar Raid, ralat lagi hanya istri di atas kertas saja, sikap Arka yang pemarah dan seenak nya kadang-kadang membuat dia ikut kesal karna Arka selalu menyakiti nya dengan kata-katanya yang super duper pedas.
Seperti "Bodoh, Tuli, tidak punya harga diri, murah*n." Dia sudah kebal dengan semua kata-kata itu, Alena sadar jika ini semua juga bukan kesalahan Arka semata, tapi ini adalah salahnya sendiri yang memaksakan semua yang dia mau tanpa mengetahui apa yang dia lakukan adalah benar atau salah.
Lamunan itu sudah menjauh, sampai Alena mendengarkan suara keras yang sangat dia takuti selama ini.
"Mamah !!." teriak Alena ketakutan saat mendengarkan suara petir yang menggema di telinganya.
Alena replek memeluk lengan Arka yang ada di samping nya, menyembunyikan wajahnya dengan sebagian tubuh Arka dari samping.
"Kamu kenapa?." tanya Arka tanpa melirik.
"Aku takut petir, hiks tuan..aku pinjam tangan anda, dan emm..tubuh bagian samping, saya benar-benar takut." ucap Alena sambil terisak, menggesek-gesekan kepalanya ke bagian tubuh samping Arka yang menurutnya bisa membuat dia tenang.
Biasanya jika hujan Alena pasti di temani sang Mamah tapi sekarang dia harus melupakan gengsinya agar dia tidak merasakan ketakutan lagi, Alena memang bukan gadis yang cengeng, tapi setiap manusia pasti memilki rasa takut sendiri bukan? dan hal yang paling di takuti Alena adalah petur, emm dan mungkin hantu.
Huh !! Arka menghela nafasnya. "Baiklah, pakailah..anggap saja hari ini adalah hari keberuntungan mu." ucap Arka masih tidak melihat ke Alena dan lebih memilih melihat ke jalanan.
Alena mengangguk. "Tarimakasih tuan, tubuh anda hangat, saya menyukainya." ucap Alena tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang aneh dan sedikit mesum.
.
__ADS_1
.
.
Setelah selesai mengantarkan tugasnya Alena dan Arka memilih pulang, jalanan yang tadi di guyur hujan kini hanya tersisa basah nya saja karja hujan sudah reda satu jam yang lalu, mereka berniat pulang karna jam sudah menunjukan pukul 11 kurang.
Saat sedang di perjalanan Alena merasakan perutnya sakit dan tak lama suara alrm alam milik perutnya itu keluar tanpa meminta ijin membuat Alena menahan malu karna Arka menatap nya dengan pandangan aneh.
"Lapar?." tanya Arka.
Alena mengangguk meski dia sedikit gensi, "Iya tuan." jawab Alena.
Akhirnya Arka menepi sebentar tepat di sebuah restoran bintang 5 yang berada di tengah-tengah kota, mereka keluar dengan langkah yang berjauhan seolah pengujung yang saling tidak mengenal.
Sesuai perjanjian Arka memilih tempat yang lebih jauh dari Alena, begitupun dengan Alena yang memilih tempat yang agak jauh dari tempat Arka, keduanya mengikuti setiap isi kontrak yang mereka sepalati. "Tidak ada makan bersama, jika di luar pura-pura tidak mrngenal."
Nyam..
Alena memakan makanan nya dengan lahap karna lapar, berbeda dengan Arka yang nampak masih menyeduh Choffe chino dengan santai, tangan nya memegang ponselnya begitupun matanya yang tidak hilang arah hanya pokus melihat ke layar ponsel.
Saat sedang memakan makanan nya tidak sengaja mata Alena melirik ke samping dan saat dia melihat kesamping nya matanya membulat lebar, melihat penampakan keluarga berencana yang nampak tertawa riang sambil menimati makanan yang tersaji di meja.
Alena merapatkan tangan nya membentuk sebuah bulatan yang hampir di penuhi dengan urat lengan kecilnya, "Kalian bersenang-senang di atas penderitaan ku?, mungkin sekarang aku akan membiarkan kalian hidup berlimpah dengan uang keluargaku, tapi setelah itu kalian harus membayar apa yang kalian lakukan, Dean Ghani, aku bersumpah." batin Alena sambil menatap sinis meja di samping nya yang memperlihatkan keluarga Dean Ghani yang sedang menikmati makanan nya dengan canda tawa riang.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
Ini masih awalan, masalah belum di mulai, menurut kalian sampai disini sikap Arka gimana sih? kejam ngak?
__ADS_1
Ada Upp lagi, tapi seperti biasa tengah malem😅semoga kalian suka😙
Salam kenal untuk pembaca setia❤