
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Sepanjang perjalan kedua bocah itu terus beradu mulut, Andrian yang menjadi supir dua bocah sultan itu hanya bisa menutup telinga nya.
Bian yang selalu percaya diri dan dingin, sedangkan Boy sombong dan selalu memperlihatkan kemampuan nya, seperti memiliki banyak bodyguard, dan mobil.
Setelah membeli makanan di McD keduanya memilih untuk berhenti di sebuah pusat perbelanjaan yang menjual mainan, dan Andrian hanya bisa menurut.
"Uncle, kemarilah." teriak Boy yang sedang memilih robot.
"Om, aku membutuhkan bantuan, kemarilah." ucap Bian yang sedang memilih beberapa buku.
Andrian bingung harus mendekat ke bocah yang mana dulu, dua-duanya adalah tuan muda nya, dan sama pemarah jika keinginan nya tak terpenuhi.
Tiba-tiba datang pengasuhnya Bian, membuat Andrian mendekati pengasuh itu.
"Awasi Bian, jika dia ingin sesuatu katakan dulu padaku." ucap Andrian pada si pengasuh.
"Baik tuan." sahut pengasuh yang memiliki nama lengkap Nana itu.
Si pengasuh mendekati tuan muda kecilnya, membuat Bian yang melihat nya kesal. "Kenapa Nanny? kenapa bukan Om?." tanya Bian, dia ingin di temani Andrian untuk memilih buku bisnis yang akan di baca nya, meski masih empat tahun tapi Bian sudah pandai membaca dan karna usianya yang masih muda Bian mudah menghafal dan mempelajari ilmu pengetahuan yang tidak seharusnya dia pelajari di usia nya yang masih kecil.
"Tuan Rian sedang mengurusi tuan muda Boy, tuan muda." jawab si pengasuh.
Sedikit bocoran tidak ada yang betah lama bekerja menjadi pengasuh Bian, alasan nya jangan di tanyakan lagi, Bian selalu membuat pengasuh nya kesal karna jika Bian sudah fokus membaca dia akan melupakan segala sesuatu termasuk melupakan jika dia pipis di celana.
Nana mengambil pekerjaan ini karena paktor ekonomi, sebelum nya dia adalah seorang office grils baru di perusahaan milik Arkasya, si hari pertama nya bekerja Nana telah membuat masalah besar dengan menubruk Asisten CEO dan menumpahkan kopi panas ke jas yang di pakai si Asisten CEO.
Dan saat akan di pecat saat itulah Bian datang dengan ceria nya bocah itu memanggil nya Nanny, dan itu membuat nya terselamatkan dari kemarahan Asisten CEO, dan menjadikan nya sebagai pengasuh tuan muda kecil seperti sekarang ini.
__ADS_1
Bian menghela nafasnya kesal, lalu menunjuk ke etalase yang tinggi. "Nanny tolong ambilkan aku buku yang di atas." tunjuk nya pada buku-buku tebal yang ada di rak paling atas.
"Baik tuan muda." sahut nya, Nana berjinjit untuk bisa menjangkau rak paling atas, namun nihil dia kesusahan.
Bian tersenyum melihat pengasuh nya yang kesusahan, lalu duduk santai dan membaca buku yang ada di tangan nya.
Berbeda dengan Andrian yang nampak sibuk dengan beberapa barang yang di beli bocah sultan di samping nya, Bian heran kenapa Boy sangat boros? padahal setau nya Kelle tidak terlalu boros dan setelah kembali berpikir Andrian tau itu adalah kebiasaan Riko, berteman baik dengan Riko selama beberapa taun Andrian jadi tau kebiasaan mantan casanova hot itu yang selalu mudah menghamburkan uang.
"Uncle mobil ini juga, dan ini, itu juga bagus." ucap Boy dengan semangat.
Andrian menggelengkan kepalanya melihat keranjang nya yang sudah penuh dengan beberapa mainan yang di beli anak mantan gebetan nya.
"Tuan muda, ini sudah lebih dari cukup, tidak boleh boros, nanti orang tua mu marah." ucap Andrian memberikan peringatan.
Nihil bocah tiga tahun itu hanya mengangakat bahunya tidak perduli. "Tidak apa uncle, uang Daddy banyak, Daddy bilang aku boleh membeli apapun yang aku mau." ucap Boy sengan enteng, lalu terdiam sebentar.
Anak ini benar-benar, huh Andrian sangat gemas.
Hufh...
Andrian tidak dapat berkata-kata lagi selain, "Benar-benar sombong, percaya diri dan mengesalkan." gerutu Andrian dalam hati.
Sedangkan di sana Nana yang masih mencoba menggapai buku yang di inginkan anak majikan nya nampak masih sibuk berjinjit, dia masih belum bisa mencapai buku itu.
"Nanny, aku sudah selesai, ayo pulang." ucap Bian, dia menaruh buku yang di baca nya kembali ke tempat semula.
Nana mengerutkan kening nya melihat anak majikan nya, bukan kah Bian meminta nya untuk mengambilkan buku itu?.
"Maaf tuan muda, buku nya terlalu tinggi saya tidak sampai." ucap Nana.
Bian melirik, "Tidak apa, Nanny aku memaafkan nya, jangan ulangi lagi." ucap Bian, menarik tangan si pengasuh lalu berjalan menghampiri Boy dan Om Andrian.
__ADS_1
Kini Nana sadar, dia di kerjai bocah sultan itu, biasanya Bian akan marah jika keinginan nya tidak di turuti, dan sekarang apa? bukan kah aneh jika bocah itu malah tersenyum manis, yang mana membuat Nana semakin yakin jika si tuan muda kecil telah mengerjai nya, membuat nya berlama-lama berjinjit untuk mencapai sesuatu yang sama sekali tidak penting.
"Mana mainan mu?." tanya Andrian.
Bian menggelengkan kepala nya. "Tidak ada yang menarik, ayo pulang." ucap Bian.
Boy yang melihat sepupu nya tidak belanja membuat nya tersenyum mengejek, "Astaga kau benar-benar tidak punya uang Bian, astaga ya tuhan astaga lihat lah aku banyak membeli mainan." ucap Boy dengan wajah yang penuh percaya dirinya.
Bian mengangguk. "Ya, kali ini kau memang Boy." ucap nya dengan raut wajah sedih.
Dan saat melihat sepupu nya sedih Boy langsung mengambil paper bag berisi mobil-mobilan yang di beli nya tadi, " Ini untuk mu, jangan sedih aku tau aku kaya." ucap Boy kembali memuji diri sendiri.
Bian tersenyum dan menerima mobil-mobilan itu, rencana nya berhasil, sebelum nya Bian tau jika nenek nya alias Mommy nya Boy telah melarang bocah itu untuk tidak terlalu boros membeli mainan, dan sekarang Bian yakin sepupu nya itu akan di marahi habis-habisan oleh nenek nya karna telah memboroskan uang nya.
"Hehe, selamat menikmati bawel nya nenek sepupu ku." batin Bian tersenyum penuh kemenangan.
Sekarang Andrian harus di buat bungkam dengan apa yang di lihat nya, dimana dua bocah itu telah menunjukan sisi buruk masing-masing, "Bian pintar memanfaatkan orang, dan Boy bocah itu sangat suka pamer kekayaan, astaga dua bocah itu sangat menjunjung tinggi gen orang tua nya." batin Andrian.
Sedangkan untuk Nana yang melihat tingkah dua bocah itu hanya bisa mengelengkan kepalanya, uang untuk dua bocah itu bukan apa-apa, sedangkan untuk nya butuh waktu lama untuk bisa membeli mobil-mobilan itu, dan kalaupun bisa membelinya Nana mungkin akan memikirkan berulang puluh kali, lebih baik dia membayar hutang nya di kampung yang setumpuk itu dari pada harus membeli barang-barang tidak penting.
"Andai aku menjadi mereka, mungkin aku akan senang." kini pikiran Nana malah ingin menjadi di posisi dua bocah sultan itu, banyak uang dan punya orang tua yang penyayang, sungguh itu adalah idaman kaum rakyat jelata seperti dirinya.
___________
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Bian udah epsd 27 ya😊
yang penasaran sama kisahnya Bian besar yu langsung aja ke ^^Istri Cantik Tuan Muda Kejam 2^^
jangan lupa jejak♥️
__ADS_1