
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Kata orang jodoh adalah gambaran dari diri kita sendiri, tapi bagi Arka dan Alena jodoh adalah keterbalikan dari semua sikap nya masing-masing, tapi meski demikian disatukan nya dua insan berbeda prinsip jelas membuat suatu perubahan besar di kehidupan keduanya.
Hari ini adalah weekend dan seperti hari-hari libur lain nya, Arka dan Alena selalu mengunakan hari ini untuk quali time dengan keluarga besar nya.
Keduanya kompak membawa Bian yang sudah berusia satu setengah tahun itu ke rumah besar orang tuanya, dan hal itu tentu saja membuat Ririn dan Rafa yang sudah berstatus Oma Opa menjadi gembira dan senang karna kedatangan cucu kesayangan nya.
"Cucu Oma, tampan nya..sini Oma cium." ucap Ririn sambil mencium gemas pipi gembul Bian.
"Mam..mama..mama." ucap Bian dengan senyuman nya, dan hal itu tentu saja membuat Ririn dan Rafa menjadi gemas dengan tingkah Bian yang kini sudah mulai berbicara meski gigi Bian belum terlalu banyak.
"Ira kemana Mom?." tanya Arka.
"Biasa lagi belanja sama pacarnya, nanti pulang nya sore katanya." sahut Ririn, matanya masih memandang sang cucu gembul nya.
"Lihat Bian, Opa ada hadiah untuk kamu, sini peluk Opa." ucap Rafa sambil memperlihatkan sebuah mobil-mobilan yang tentu harganya tidak main-main.
Bocah gembul itu berjalan dengan sempoyongan, Bian memang baru belajar berjalan dan masih jatuh-jatuh saat belajar, beruntung Bian jatuh ke karpet bulu-bulu sehingga Bian tidak akan merasakan sakit jika terus jatuh.
Melihat Bian yang tak kunjung mendekat membuat Rafa semakin gemas, apalagi melihat cucu nya yang gembul itu sudah merentangkan tangan nya seolah meminta di gendong sang Opa.
"Cucu Opa yang tampan, ini hadiah dari Opa buat Bian, cepat lari ya nanti Opa kasih bola mahal buat belajar main bola." ucap Rafa yang kini tengah mengendong cucu gembul nya.
Alena dan Arka hanya tersenyum melihat intraksi Opa dan cucu itu, keduanya senang karna Bian anak yang tidak pilih-pilih orang yang mengendong, bocah gembul itu terlihat sangat nyaman saat di gendong sang Opa.
"Bian berapa kilo Al?." tanya Ririn sambil melihat suaminya yang nampak sibuk menimang cucunya.
"15 kg Mom, padahal usianya baru satu setengah tahun." sahut Alena yang tengah membukakan kacang tanah untuk dimakan nya sendiri.
Ririn mengangguk, "Ngak papa, bagus itu sehat lagi pula dulu juga Arka sama kaya Bian, gembul dah gitu pinter nen*n nya." ucap Ririn tanpa filter, dan hal itu tentu saja membuat Arka yang sedang meminum teh menjadi tersedak.
__ADS_1
"Yang benar dong sayang minum nya." kata Alena sambil memberikan tisue pada suaminya.
"Bian juga pinter Mom, malahan aku kadang kewalahan saking rakus nya Bian nen*n, uhh udah kaya_____." ucap Alena terhenti karna Arka menepuk paha nya.
Ririn terkekeh pelan, ternyata putranya masih punya malu, tapi yang membuatnya tersenyum adalah fakta jika buah tidak jatuh dari pohon nya, dan sikap Arka dan cucunya juga sama hal nya dengan Rafa, ketiga laki-laki berbeda generasi itu sama-sama rakus akan meminum Asi.
"Ma..ma.. pa..pa." ucap Bian yang kini tengah melempar-lempar mobil nya.
"Jangan di lempar Ndut, gini nih caranya." Rafa mendorong mobil-mobilan nya, dan hal itu di lihat oleh Ririn dan yang lain nya.
Mereka menahan tawa saat bocah gembul itu berdiri dan dengan tingkah lucu nya Bian mengambil mobil itu lalu berjalan ke arah Arka, "Pa..pa..pa.." ucap Bian sambil berjalan sempoyongan ke arah Arka.
"Uhhh anak papa yang tampan, sini duduk sama papa." kata Arka dengan rentangan tangan nya, bersiap menyambut putranya yang akan mengadu padanya.
Namun belum juga sampai Bian malah berbalik arah dan nampak tertawa ke arah Oma nya, dengan jalan nya yang jatuh-jatuh terus Bian berusaha membawa mobil-mobilan itu dan berakhir di pangkuan sang Oma.
"Ma..ma..ma." Kata Bian, seperti mengadu jika mobilnya telah di pakai sang Opa.
Rafa yang melihat itu tidak terima, dia mengambil beberapa mainan lagi seperti robot-robotan dan beberapa mainan Avengers untuk kembali mengambil perhatian si gembul, namun nihil si gambul hanya meliriknya sekilas lalu kembali menyembunyikan tubuh gembrot nya di pelukan sang Oma.
"Ngak papa, kan Papa nya juga kaya kalo masalah mainan mah Papa juga bisa beli." ucap Arka sewot.
"Kalo Daddy ngak kaya kamu juga ngak bakalan jadi anak sultan." ucap Rafa mendelik tak suka pada putranya.
"Tapi aku kerja Dad, uangku banyak bukan dari Daddy." ucap Arka tak mau kalah, memang benar jika sedari kecil dia sudah jadi anak sultan, begitupun dengan Bian yang jadi cucu sultan.
Ririn dan Alena hanya mengelengkan kepala melihat perdebatan kecil anak dan Daddy itu, seperti itulah Rafa dan Arka yang selalu berdebat kecil hanya karna masalah spele.
Bocah gembul itu kembali berdiri, dan nampak celingak-celinguk nampak seperti mencari sesuatu, sampai akhirnya Bian menatap tajam pada benda yang ada di sebelah Opa nya.
Rafa yang melihat cucu nya berjalan sempoyongan ke arah nya langsung memancarkan senyuman nya, "Lihat Bian kembali, Daddy yakin Bian mau mainan yang Daddy bawa." ucap Rafa dengan bangga nya.
__ADS_1
Dan saat Bian sampai di depan Rafa Bian malah menatap Opa nya dengan wajah aneh nya, tangan nya di taruh di kening dan hal itu tentu saja membuat Arka dan yang lain nya tertawa.
Lalu di lanjut dengan tangan yang menopang pipi, membuat pipi si gembul nampak terlihat lebih berisi.
"Kenapa?." tanya Rafa sambil mengerucutkan bibirnya.
Bian yang tak mengerti dengan apa yang di ucapkan sang Opa hanya terdiam, lalu tangan nya meraba wajah sang Opa yang sedikit keriput itu, jari-jari lentiknya meraba kemana-mana dan berujung di hidung sang Opa.
Tus..tus..
Jari mungil itu di masukan ke bibir sang Opa, dan dengan wajah yang menahan senyum nakal Rafa malah mengigit kecil jari mungil sang cucu, membuat Bian melotot lalu sedikit demi sedikit terisak.
Hua..
Tangis Bian menggelegar membuat Ririn dan yang lain nya melotot tajam.. "Dad.. " teriak mereka bersamaan.
Rafa menoleh pada semua mata yang menatap nya tajam itu, dia nyengir memperlihatkan gigi putihnya. "Daddy hanya bercanda, huh cucu Opa yang ganteng ngak sakit kan sayang, maafin Opa ya.. Papa kamu memang nakal jangan ikutin jejak nya yang jelek, ikutin Opa aja yang ganteng dan baik hati." kata Rafa sambil meniup-niup jari sang cucu.
Sontak ucapan Rafa barusan mengundang tatapan tajam dari Arka yang tidak terima di kambing hitam kan dalam kesalahan sang Daddy, "Opa mu lebih jelek, jangan ikuti jejak nya." kata Arka.
"Papa mu lebih kejam, jangan ikuti dia " ucap Rafa lagi.
"Opa mu lebih kejam lagi jauh dari pada Papa " kata Arka lagi, tidak mau kalah.
"Jangan ikuti keduanya, sama-sama jelak." kata Ririn dan Alena serempak, lalu keduanya bertos sambil tersenyum.
Seolah paham dengan apa yang dikatakan Mama dan Oma nya Bian berhenti menangis, bayi gembul itu berjalan mendekati wanita yang menjadi sumber kehidupan nya itu.
"Ma..ma..ma.." ucap nya sambil mencium pipi Alena, dan hal itu membuat Arka dan Rafa cemburu, karna keduanya belum pernah di cium si gembul, lain hal nya dengan Ririn yang sering mendapatkan ciuman di pipi dri snag cucu tersayang nya.
_________
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak,!!!