Istri Cantik Tuan Muda Kejam

Istri Cantik Tuan Muda Kejam
S2.Kelembutan suami


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Pagi sudah menyapa, sepasang patsuri yang sudah menikah satu tahun itu nampak sedang memakai pakaian kerja nya masing-masing.


"Sayang dasinya mana?." tanya Kiano.


Anaira berjalan mendekati suaminya. "Ini, warna nya cocok sama baju kamu." seru Anaira, lalu berjalan ke meja rias untuk merapihkan penampilan nya.


Kiano mengerutkan keningnya melihat Anaira yang nampak berbeda, lebih tepatnya setelah acara makan malam minggu kemarin di rumah mertuanya istrinya berubah drastis.


Bahkan untuk sekarang pun Anaira tidak lagi memasangkan dasinya, tidak merapihkan pakaian untuk penampilan nya saat bekerja, dan yang paling membuat nya merasa bingung adalah karna Anaira tidak banyak bicara setelah acara makan malam di rumah besar minggu lalu.


Bahkan mandi yang biasanya berdua kini keduanya malah mandi sendiri-sendiri, Anaira seperti sedang menjauhinya dan hal itu membuat Kiano kebingungan dengan perubahan sang istri.


"Sayang." panggil nya.


Anaira menoleh sebentar lalu kembali melihat ke pantulan wajahnya di cermin. "Kenapa kak?." sahut nya tanpa melihat.


Tuh kan baru saja Kiano bilang istrinya berubah, kini Anaira kembali bersikap dingin lagi.


"Kamu kenapa?." tanya Kiano sambil melangkah mendekati istrinya.


"Tidak apa, memang aku kenapa?." tanya balik nya, dan dari nada nya Kiano merasakan kekesalan di setiap kata yang di lontarkan sang istri.


Kiano menghela nafasnya, dia harus menjaga sikap nya di depan istrinya, tidak boleh emosi dan harus bisa bicara baik-baik tanpa kekerasan.


"Lihat aku, aku sedang bicara dengan istriku, bukan musuhku." kata Kiano lagi, memegang bahu istrinya, lalu membalikan wajah Aniara untuk balik menatap nya.


Tatapan keduanya beradu, Anaira masih memperlihatkan wajah kesal nya, dan itu membuat Kiano tak nyaman ingin segera mengetahui alasan yang membuat istrinya menjadi seperti ini.


"Kamu kenapa? apa aku menyakitimu?." ucap Kiano sambil menatap lekat wajah istrinya.


Anaira menggeleng. "Tidak, kakak tidak menyakiti ku." jawab nya lalu memalingkan wajah nya.


"Lalu kenapa kamu berubah? kenapa kamu menjadi dingin dan tidak pernah tersenyum lagi? apa salahku?." tanya Kiano masih belum puas mendapatkan jawaban nya.


Anaira terdiam, lalu dia melihat ke jam di ponselnya, "Sudah siang, jalanan macet." ucap Anaira mengelak dari semua pertanyaan yang di layangkan suaminya.

__ADS_1


Kiano menghela nafas nya pelan, dia masih ingin mendapatkan jawaban yang benar dari istri nya, tapi di sisi lain jam sudah menunjukan waktu yang mendekati jam kerjanya, dan Kiano tidak bisa mengatakan apa lagi selain hanya menahan semua pertanyaan yang ada di hati nya.


"Aku menunggu di luar." ucap Kiano, keluar dari kamar.


Melihat kepergian suaminya Anaira langsung menghela nafasnya pelan, "Maaf kak." gumam nya sambil menatap pantulan wajah nya.


Bukan ingin nya berubah, tapi Anaira kesal dengan suaminya yang tidak pernah mengerti dirinya, dia ingin seperti istri pada umumnya menunggu suaminya pulang kerja dan memberikan pelayanan yang terbaik pada suaminya.


Anaira berdiri lalu melangkahkan kakinya dengan tas selempang nya, kaki jengjang nya menuruni satu persatu anak tangga, Anaira melirik ke arah meja makan, tapi tak melihat Kiano.


"Bi, makanan nya dimakan aja, sisa nya bisa bibi bawa." ucap Anaira pada bibi pembantu nya.


Mereka memang tidak mengerjakan pembantu untuk full time, Meraka hanya mengaji untuk bersih-bersih sampai sore dan setelah sore pembantu nya akan pulang.


Saat akan menutup pintu rumah Anaira melihat suasana sepi di rumah nya, sunyi tanpa suara anak kecil.


Anaira masuk kedalam mobil, Kiano mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dan Sepenjang perjalanan keduanya duduk tanpa saling mengatakan satu patah kata pun.


Kiano fokus menyetir sedangkan Anaira nampak terdiam, larut kedalam pikiran nya sendiri.


Pagi berganti menjadi siang dan jam sudah menunjukan pukul 11 siang lebih menandakan waktu istirahat.


Saat masuk Kiano melihat Anaira yang masih sibuk bekerja, membuat dia menghela nafasnya pelan lalu berjalan mendekati meja kerja sang istri.


"Ini sudah waktu istirahat sayang, ayo makan dulu." kata Kiano lembut.


Anaira menggeleng. "Aku belum lapar." sahutnya pelan dan kembali menggeluti pekerjaan nya yang ada di laptop nya.


"Jangan begini sayang, ayo makan nanti kamu sakit." ucap Kiano lagi masih pelan, dia tau istrinya belum makan dari pagi, begitupun dengan dirinya yang sama-sama belum makan dari pagi.


Tak mendapatkan sahutan dari istrinya membuat Kiano yang sedari tadi sudah menahan sabar nya karna tingkah aneh istrinya kini sudah kehilangan kesabaran nya lagi.


"Aku perduli padamu sayang, ayo makan aku mohon jangan diam kan aku, jika aku salah katakan dimana letak kesalahan ku biar aku bisa memperbaiki kesalahan ku, aku mohon jangan diam kan aku." kata Kiano sambil menatap istrinya dengan pandangan yang tidak bisa di artikan.


Anaira bangkit dari duduknya, runtuh sudah pertahanan nya untuk menjauhi suaminya, nyatanya cintanya pada suaminya jauh lebih besar dari keinginan nya.


Tak memberikan sepatah katapun Anaira langsung menghamburkan tubuhnya ke pelukan suaminya, menghirup aroma maskulin dari tubuh suami nya lagi.


Kiano membalas pelukan sang istri dengan lembut, nyata nya semarah apapun dirinya pada sang istri Kiano tidak akan pernah bisa berkata keras atau pun mengabaikan istrinya, jika dia marah Kiano hanya akan diam, sifatnya copasan dari Zex sang Papa.

__ADS_1


"Maaf." hanya kata itu yang terucap dari bibir tipis Anaira.


"Kamu kenapa? apa yang membuat mu sedih seperti ini?." tanya Kiano, dia tidak ingin masalah kecil melebar kemana-mana dan kenyamanan istrinya adalah yang utama bagi nya.


Anaira melepaskan pelukan nya, lalu menatap suaminya dengan tatapan yang penuh arti. "Aku mau menjadi istri yang selalu ada di saat suami pulang kerja, menyiapkan makanan nya, menyiapkan untuk mandi dan melayani mu dengan sepenuh hati ku." Anaira berbicara sambil mengeluarkan air nya.


Kiano terdiam, memberikan waktu untuk istri nya mengatakan unek-unek nya.


"Pulang kerja aku selalu langsung tidur, aku tidak pernah memaksakan mu, menyiapkan mandi untuk mu bahkan untuk melayani mu di malam hari pun aku terkadang tidak bisa." kata Anaira lagi, dia mengatakan nya dengan hati yang menyayat hati.


Tangis nya pecah setelah mengatakan itu, inilah yang selalu di rasakan Anaira setiap harinya, dia sedih karna tidak bisa menjadi istri yang seperti istri pada umum nya, kegiatan nya di kantor selalu menyita waktu nya, sehingga dia selalu melupakan suaminya dan terkadang tidak memperhatikan nya.


Jauh dari itu Kiano tidak pernah meminta lebih dari istrinya, untuknya selagi Anaira ada di samping nya membuat kesan kebahagian tersendiri di hati nya, dan untuk saat pun sama hal nya dengan hari-hari nya sebelumya, dia selalu bahagia hidup bersama wanita yang di cintai nya.


"Kamu telah melakukan yang terbaik, aku bahagia bersama mu, jangan katakan itu karna ada kamu di samping ku membuat hidup ku lebih berwarna." kata Kiano, dia memegang tangan istrinya dengan penuh kelembutan.


Sebenarnya bukan itu saja alasan Aniara bersikap dingin pada suaminya, alasan sebenarnya adalah karna Aniara mau melepaskan tanggung jawab nya sebagai CEO, dan menjadi istri seutuhnya seperti impian nya.


"Aku mau kamu menjadi CEO, menggantikan ku." ucap Anaira sambil menatap lekat wajah sang suami, dia ingin menjalani perannya sebagai istri dan ingin mulai program kehamilan, karna dokter mengatakan jika kondisi rahimnya sekarang sangat lemah untuk bisa mengandung, dan hal itu yang membuat Anaira mengharuskan menjalani usul sang dokter untuk tidak terlalu banyak pikiran dan aktivitas di luar yang mengharuskan dia untuk kesana kemari.


Mendengar ucapan istrinya yang meminta nya menjadi CEO membuat Kiano terdiam untuk sejenak, ini bukan pertama kalinya Anaira memintanya menjadi CEO, dan Kiano masih ragu untuk menerima nya meski mertua dan keluarga nya mendukung nya untuk menjadi pemimpin di perusahaan milik keluarga' Rafasya.


Bukan tanpa sebab Kiano menolak, dia merasa tidak berhak menerima semua itu, apalagi dia tau posisi nya, dia hanya seorang menantu yang pekerjaan dan dari ukuran harta masih jauh di bawah kemewahan yang di miliki istrinya.


"Aku akan memikirkan nya dulu, sekarang kita makan dulu ya, waktu istirahat sudah hampir habis." kata Kiano, dia masih butuh waktu untuk menerima tawaran itu, dan sekarang yang lebih penting adalah kesehatan istrinya, Kiano tidak mau istrinya merasakan kelaparan karna sedari pagi belum mengisi perut nya.


Anaira mengangguk, dia harus menghargai keputusan suaminya, dan kini keduanya duduk di sofa yang ada di ruangan nya, keduanya makan dengan saling suap menyuapi.


"Terimakasih." kata Anaira sambil memberikan suapan lagi pada suaminya.


Kiano hanya tersenyum, kini dia harus memikirkan perasaan istrinya, dan untuk posisi CEO Kiano belum tau harus mengambil posisi itu atau tidak, dia masih merasa tidak pantas, tapi demi istrinya Kiano akan mempertimbangkan nya lagi.


_____________


🌹🌹🌹🌹🌹


Meski dingin tapi Kiano itu lembut ya guys.


Jangan lupa jejak♥️

__ADS_1


__ADS_2