
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Keduanya makan dengan khitmat, sesekali Nana melirik Andrian begitupun dengan Andrian yang sama melirik-lirik ke arah Nana, rasanya sangat cangung.
Suasana restoran yang memang bertema Alam membuat keduanya bisa merasakan bagaimana sensasi makan di tengah hutan, burung berkicauan di atas ranting-ranting pohon, dan ada juga kolom ikan di samping mereka, dengan berbagai jenis ikan di dalam nya, salah satunya ikan badut, atau ikan koi.
"Bagaimana apa sudah baikan?." tanya Andrian basa-basi.
Nana yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya langsung melirik, sebelum dia menjawab dia menelan habis dulu makanan yang ada di mulut nya.
"Belum, tapi aku merasa lebih tenang saat memaafkan Papa." kata Nana dengan raut yang tidak bisa artikan.
Andrian tersenyum, setidaknya Nana tidak menjadi sosok yang pendendam, lagi pula dendam tidak baik.
"Syukurlah." lanjut Andrian, bingung mengatakan apa lagi, dia tidak terlalu pandai berbicara di hadapan seorang wanita, meski pernah menikah tapi nyatanya dia sosok yang sulit membuka awal percakapan.
Andrian kembali memakan makanan nya, menghilang kan rasa cangung yang melanda nya, entah sejak kapan perasaan itu ada tapi Andrian benar merasa tidak nyaman.
Beberapa hari ini dia selalu terbayang wajah Nana, membuat nya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, selalu khawatir dengan keadaan mantan Nanny nya Bian itu.
"Terimakasih." ucap Nana pelan, sangat pelan.
Prenkk..
Sendok yang di pegang Andrian jatuh ke piring nya, menimbulkan suara bising, dalam hati dia mendengkus kesal kenapa dia ceroboh, tapi kegugupan nya membuat Nana ingin tertawa.
"Kenapa?." tanya Nana sambil cekikikan.
Andrian menggelengkan kepalanya. "Replek." jawab nya ketus, tak suka menjadi bahan tawaan, tapi melihat Nana yang tertawa kenapa hatinya malah lumer seperti es cream?.
"Terimakasih telah memberikan sandaran itu, aku tidak tau jika kamu tidak ada mungkin saja aku sudah kehilangan arah." Nana mengucapkan kembali rasa terimakasih nya pada sosok di depan nya, dimata nya Andrian adalah sosok penolong nya, sumber yang memberikan dia kenyamanan di hari tersedih nya.
Andrian yang mendengarnya hanya tersenyum, "Tidak apa, aku hanya memberikan sedikit pengalaman ku untuk mu, tapi aku ternyata salah karena kamu lebih kuat dariku, kamu hanya butuh waktu sebulan untuk memahami keadaan, sedangkan aku?." Andrian menjeda ucapan nya, menarik nafasnya lalu menatap ke sembarangan arah.
"Aku terlalu lemah." sambung nya pelan.
Bukan nya sedih mendengarnya Nana malah tertawa cekikikan.
Hahaha..
"Sudahlah, aku malas mendengar yang sedih-sedih, lebih baik setelah makan kita nonton atau ke mana gitu, tenang saja aku yang akan mentraktir mu." ucap Nana tak lupa dengan cekikikan nya.
__ADS_1
Nana Rasa dia harus mengubah sosok yang selalu menyemangati nya itu, dia pikir Andrian selalu bersandiwara di balik ke rapuhnya nya, dan Nana tidak suka hal itu karena pura-pura bahagia di atas kesedihan itu tidak lah menyenangkan.
Tapi anehnya Andrian malah bisa stay di fase itu selama kurun waktu yang cukup lama, bukan kah itu membosankan?.
Yang sudah tiada harus di doakan, bukan di tangisi, bukan juga untuk menjadi penghalang kebahagiaan, itu yang di katakan Mr Galak bin matre padanya waktu itu.
"Aku ngak suka nonton." sahut Andrian cepat, menonton bioskop adalah kebiasaan dulu dia dan Lily, dan entah berapa lama Adrian tidak menginjakan diri ke tempat itu, mungkin selama Lily pergi.
Nana menaikan sebelah alisnya.
"Yakin ngak suka?." tanya Nana sambil memakan steak kedalam mulutnya.
Kenapa dengan perasaan nya, mulut nya malah kontras dengan hati nya, mengatakan jika dia mau dan ingin, benar-benar tidak tau malu.
"Mau ngak?." tanya Nana lagi.
"Anggap aja ini sebagai rasa terimakasih aku karena kamu sudah mau menjadi teman di saat aku sedih." sambung Nana menampilkan raut wajah setulus mungkin.
huhh..
"Baiklah, aku ikut." ucap Andrian akhirnya mau.
Setelah membayar semua makanan yang di semua habis itu Nana dan Andrian langsung meluncur ke tempat yang kedua, tepatnya sebuah bioskop di salah satu Mall.
Di area pembelian tiket nampak Nana yang terus tersenyum ke arah sosok pria yang sedang ikut antrian tiket, dia tidak menyangka jika ternyata Andrian bisa juga di ajak bermain.
Setelah menunggu cukup lama Andrian datang dengan satu popcorn dan satu minuman di masing-masing tangan nya, Nana tersenyum lalu mengacunkan jempolnya.
"Mana karcis nya?." tanya Nana, dia mengambil satu popcorn lalu di masukan ke mulutnya.
"Di saku." sahut Andrian.
Nana mengangguk lalu merogok saku celana Andrian dengan tangan nya, namun hal itu ternyata malah membuat Andrian merasakan sensasi yang telah terkubur lama.
"Astaga apa dia tidak tau jika yang dia lakukan itu sama saja dengan secara perlahan ingin menyiksaku. " gerutu Andrian dalam hati.
"Dapat.." ucap Nana senang, mengoyang-goyangkan tiket yang ada di tangan nya di depan Andrian.
Keduanya masuk kedalam ruangan gelap itu bersamaan, dan entah sebuah kesialan keduanya malah duduk di kelilingi sosok anak muda yang sedang berkencan.
Nana menonton sambil sesekali memakan popcorn nya, begitupun dengan Andrian yang sama-sama memakan nya, sesekali tangan keduanya juga bertabrakan.
"Haus." gumam Nana, ingin mengambil minuman nya, namun malah bertabrakan lagi dengan Andrian.
__ADS_1
"Minuman nya? kenapa cuman satu?." tanya Nana heran.
Andrian langsung melirik ke arah minuman itu, shitt.. dia lupa jika dia ke bioskop bukan bersama Lily, melainkan bersama Nana sosok teman wanita nya.
"Aku lupa membelinya, kamu minum saja." ucap Andrian memakan popcorn agar menghilangkan ketegangan nya.
Namun pikiran Nana malah ke hal yang lain, dia ingat bahwa pria di samping nya itu memiliki predikat matre dan pelit, apa iya penyakit pelitnya kumat lagi?.
"Minum berdua saja, tidak apa kamu tidak punya penyakit serius bukan?." ucap Nana bertanya.
Dan hal itu membuat Andrian tersedak popcorn yang di makan nya.
"Pelan-pelan makan nya, Nih minum." Nana memberikan minuman nya, dan tanpa sadar Andrian meminum nya.
"Astaga." gumam Andrian memegang bibirnya.
Andrian melirik Nana yang sedang fokus menonton di sebelah ya, kenapa dia menjadi cangung seperti ini, setelah minum minuman yang satu sedotan dengan Nana.
Apa dirinya telah jatuh cinta lagi? tapi apakah secapat itu?, kenapa Andrian merasa semakin lama dekat Nana dia semakin penasaran dengan sosok itu.
Kecanggungan melanda keduanya, Nana yang sedang berjalan itu nampak tidak fokus, ingatan nya masih terbayang saat di bioskop tadi, dimana Andrian yang menutup matanya saat Nana menyaksikan acara ciuman.
"Jangan di lihat, itu tidak baik otak mu akan tercemar."
Padahal jelas Nana sudah sering menonton flm romantis seperti itu, bahkan jika khilaf dia sampai sering kebablasan nonton yang lebih hot dari itu seperti Action hot luar negri, yang lebih menantang adrenalin dan lebih greget tentunya.
Awww..!!
"Ehk Maaf." ucap seorang wanita matang.
Nana yang terjatuh di bantu berdiri oleh Andrian, tapi saat dia melihat sosok yang bertabrakan dengan Nana Andrian langsung melotot.
"Bunda, Tante." Andrian mengaga melihat Dian dan Hanny yang menatapnya sambil tersenyum sumringah.
"Sudah lanjutkan lagi kencan nya, Bunda dan Tenteu Hanny akan pergi berbelanja dulu, nikmati kesenangan kalian sayang." ucap Dian sambil mengangkat kedua jempol nya, bukan hanya Diam Hanny juga melalukan hal sama dengan kakak iparnya, mengangkat kedua jempol nya dengan senyuman cekikikan nya.
Astaga rumit sekali.
____________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak, ♥️
__ADS_1