Istri Cantik Tuan Muda Kejam

Istri Cantik Tuan Muda Kejam
Cinta yang terlambat


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Dian menatap jengah ke arah pepohonan yang sedari tadi seolah bergerak mengejarnya, dia menarik nafasnya percuma jika dia marah pun tidak ada guna nya, yang ada dia mati konyol kelindes kendaraan lain.


"Mau kemana sih Jar, jangan aneh-aneh aku kalo makan suka banyak, mahal nya ngak tangung-tangung." ucap Dian.


"Ngak papa, kita cari makan nya yang lebih enakan dikit, dulu kan kita sering makan di pinggiran sekarang aku mau ajak kamu makan di tempat yang lebih elit." sahut Fajar sedikit berteriak.


Motor yang di naiki Dian berhenti tepat di sebuah resti bintang tiga, yang membuat Dian menelan ludah nya kasar. "Ini anak ngak punya duit so so an ngajak makan enak, awas aja kalo ngak bisa bayar." batin Dian mengerutu.


"Kamu serius kita makan disini?." tanya Dian sekali lagi.


Fajar mengangguk cepat. " udah ayo, katanya mau makan." yang membuat Dian menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.


"Jangan banyak gaya Jar, aku ngak mau ya nanti pas udah makan di liatin banyak orang karna ngak bisa bayar terus ujung-ujung nya harus nyuci piring ogah aku." ucap Dian memperingati, sebenarnya Dian punya uang jika Fajar tidak bisa membayar sekalipun, tapi jiwa hemat nya berkata jangan keluarkan uang untuk hal yang mubajir, pemikiran yang bagus bukan?.


"Bawel, udah ayo kita masuk aja." ucap Fajar langsung memegang tangan Dian dan mau tak mau Dian pun menurut dan mengikuti langkah kaki pria itu.


"Kalau bukan di paksa ibu, ngak mau aku harus jalan-jalan sama si curut, ganteng sih ganteng..tapi lebih gantengan tuan Rey." batin Dian. " Astaga apa yang aku omongin barusan, tuan Rey kan udah punya pacar ngapain juga aku mikirin dia." guman Dian pelan merasa otak nya sudah geser.


"Kamu ngomong apa tadi?." tanya Fajar yang ternyata mendengar ucapan Dian meski tidak terlalu jelas.


"Ahk engak, kita mau makan apa? aku boleh pesen yang banyak ngak." Dian mengalihkan topik bicaranya.


"Iya terserah kamu aja." ucap Fajar.

__ADS_1


Dan benar saja Dian memesan beberapa makanan yang pernah dia makan saat dia menjadi asisten dari si nona muda, "Udah Lama aku ngak makan ini, uhhh rasanya ternyata tetap sama malah tambah enak." batin Dian di sela-sela makan nya.


"Emm Jar aku ketoilet dulu ya, kamu ngak papa kan nunggu disini?."


"Iya ngak papa, asal jangan lama."


"Kamu kan tau aku tuh kalo di toilet suka lama."


"Iya..iya jangan di bahas jikik tau, udah sana katanya mau ke toilet."


Dian tersenyum puas setelah bisa melarikan diri dari si Fajar, pria yang pernah menolak nya, rasa sakit hati itu tidak ada hanya saja rasa gedeg pada pria yang so kecakepan, bagaimana tidak tadi Fajar terang-terangan bilang kalau dia mutusin pacar nya gara-gara Dian, dan dia bilang Dian harus bertangung jawab karna Fajar memutuskan pacarnya karna terpesona oleh kecantikan Dian.


"Dulu kemana aja lo curut, enak banget ya dulu lo bilang aku jerawatan, sekarang setelah aku glow Up baru lo ngejar-ngajar? sorry ngak butuh pria playboy cap kadal kaya lo men." gerutu Dian dalam hati.


"Rasain emang enak di tingalin." ucap Dian sambil mengendap-ngendap lewat jalan samping.


"Dia kan wanita yang di gandeng tuan Rey waktu itu." batin Dian.


"Mba.. ngak papa?." tanya Dian pada wanita yang di tubruk nya.


"Ahk ngak papa mba." sahut wanita itu.


"Maaf ya mba, saya tadi ngak liat-liat jalan nya." ucap Dian.


"Ngak papa mba, saya juga salah jalan nya tadi ngak liat kanan kiri terlalu pokus chatingan sama calon suami saya." ucap Wanita itu yang mana membuat Dian menganga.


" Mba..mba..ngak papa?." wanita itu melambai-lamabaikan lengan nya di wajah Dian.

__ADS_1


"Eh iya mba kenapa?." Dian menjadi tidak pokus.


"Ngak papa, saya permisi duluan ya mba..lagi buru-buru soalnya." ucap Wanita itu yang langsung diangguki Dian.


Dian menatap wanita yag baru masuk kedalam mobil merah itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Selamat tuan, akhirnya anda bisa menemukan gadis yang mencintai anda." ucap Dian sambil tersenyum kecut. "Kenapa aku merasa sedih, hey Dian..kamu yang nolak diakan? lalu kenapa kamu sedih mendengar kabar pernikahan nya?." batin Dian.


Dian berjalan meninggalkan restoran itu dengan wajah yang menampakan raut wajah kesedihan, sepanjang perjalanan di dalam angkot Dian tak henti-hentinya mengutuki kebodohan nya, benar apa kata orang jika sudah tiada baru terasa dan sekarang hal itu juga yang Dian rasakan, dia merindukan sosok yang selalu menganggu nya.


"Hay Dian kamu bodoh, ngapain nangisin dia bukan nya kamu ngak cinta sama dia? ngapain juga kamu harus repot-repot nangisin dia yang udah pergi ngak guna." gerutu Dian sambil mengelap air matanya.


Para penumpang yang ada di dalam angkot nampak ketakutan melihat Dian bahkan ibu-ibu yang sedang mengendong bayi sampai mengucapkan kata Astagfirullohal adzim beberapa kali saking takut nya.


"Neng kalo setres jangan naik angkot, jalan kaki aja, bikin kita takut aja dasar anak muda cumab karna cinta bisa jadi gila." ucap bapak-bapak yang sedang memeluk ayam.


Dian melirik sekilas tak ingin membuat masalah akhirnya Dian memilih untuk turun, "Arghhhh.. aku ini kenapa sih? cuman gara-gara denger tuan Rey nikah kenapa aku harus sesedih ini, lagi pula dia juga pantas bahagia, kenapa aku merasa tidak rela..huh aku benci perasaan ini." ucap Dian sambil menghentak-hentakan kakinya berjalan tanpa tujuan.


___________


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Cinta memang kadang datang nya suka telat, makanya bangun nya pagian biar cintanya ngak telat๐Ÿ˜‚


Btw kenapa sih pada ribetin tinggi badan Ririn yang hanya 140 cm? dan berat badan Ririn yang hanya 45 kg? emang salah ya? lagi pula itu wajar ko Aothor aja segitu tinggi badan nya umur 17 tahun.


Plis biarkan haluan Aothor ningkat jangan bikin Aothor kepikiran karna banyak yang bilang Ririn visual Ririn kurang pas sama Rafa katanya Ririn kaya anak Sd lah? emang iya gitu?

__ADS_1


Thanks๐Ÿ’•


__ADS_2