Istri Cantik Tuan Muda Kejam

Istri Cantik Tuan Muda Kejam
S2. Takdir yang sama.


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Andrian yang di suruh Bos nya untuk mencari Nana telah berhasil menemukan Nana, tapi kondisinya tidak dalam keadaan baik-baik saja melainkan sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


Berjam-jam Andrian menghabiskan waktunya untuk menemani Nana yang sedang sakit, semua itu dia lakukan karena perintah Bos nya.


"Dia sedang berduka, sebaiknya kamu temani dia, aku akan mentransfer mu berapapun yang kau mau tapi temani Nana di saat-saat terpuruk nya."


Perintah Bos nya terngiang di kepalanya, kenapa Bos nya selalu mau membayarnya dengan uang, padahal jika tidak di beri transferan pun dia akan mau, keadaan Nana sekarang pernah dia alami, dan Andrian tau seperti apa rasanya di tinggal.


"Mama.." lirih Nana.


"Akhirnya kau sadar." Andrian mendekat, lalu duduk di kursi dekat ranjang Nana.


"Jangan bergerak dulu, dokter bilang kau kekurangan cairan, dan kau harus makan yang bergizi seperti sayur ini." ucap Andrian lagi.


Nana menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau makan, aku mau bertemu Mama." sahut Nana dingin.


"Dimana Mama ku!." sambung Nana bertanya.


Andrian terdiam, yang dia tau ibu nya Nana sudah meninggal, dan beberapa jam yang lalu sudah di makamkan.


"Ibumu sudah di makamkan tadi sore." kata Andrian.


Deg..


Secepat itu kah? kenapa tidak menunggu dirinya kenapa secepat ini Mama nya pergi, padahal baru beberapa bulan Nana bisa mengurus Mama nya, bercerita keseharian nya dan kembali bisa memeluk Mama nya.


Perlahan air mata nya jatuh tak tertahankan, Nana menangis dalam diam tapi meski begitu air matanya terus jatuh membasahi pipinya.


"Kenapa tuhan begitu cepat mengambil Mama, hikss..kenapa tuhan tidak adil, kenapa." batin Nana menangis.


Melihat Nana yang sedang bersedih membuat Andrian memberikan waktu untuk rekan nya itu bisa melampiaskan rasa sedih nya, dia juga pernah mengalami rasa perih yang sama, dan tidak seperti yang di ucapkan banyak orang nyatanya kehilangan seseorang yang paling kita sayangi itu sangat menyakitkan.


"Ikut aku." ucap Andrian mengulurkan tangan nya.


Nana menatap Andrian dengan kening berkerut sebelah, "Aku tidak mau, aku ingin sendiri pergilah." kata Nana pelano, lalu kembali menangis.

__ADS_1


"Aku akan membawamu ke tempat yang bisa membuatmu lebih baik lagi." Andrian berkata lagi.


Namun Nana kembali menggelengkan kepala nya, "Aku bilang aku butuh waktu sendiri, apa kau tuli hah." sahut Nana sedikit berteriak dengan tatapan yang tajam.


Bukan nya pergi Andrian malah memegang tangan Nana, lalu memangku tubuh Nana layaknya bayi dan berjalan ke luar ruangan.


"Lepaskan aku, hikss mau di bawa kemana aku!! turunkan aku." teriak Nana.


Andrian tak menghiraukan teriakan Nana yang meminta di lepaskan, dia tetap fokus berjalan melewati beberapa orang-orang yang lalu lalang di rumah sakit.


Saat sampai di dalam mobil tubuh Nana langsung di dudukan di jok depan, Andrian pun dengan cepat duduk di jok sebelah Nana.


"Buka pintu mobilnya, aku mau keluar hikss apa yang anda lakukan tuan, hikss aku mohon keluarkan aku." Isak Nana sambil menangis.


Nana terus mengoceh sambil menangis, membuat Andrian yang mengendarai mobilnya menjadi tidak fokus.


"Menangis lah selagi tangis itu bisa membuat mu sedikit nyaman." Kata Andrian tanpa melihat ke arah Nana.


"Stop!" teriak Nana, "Turunkan aku disini." teriak Nana lagi.


Andrian menghentikan mobilnya, lalu menatap Nana dengan wajah tidak bisa di artikan.


"Apa kau tau rasanya di tinggalkan orang tersayang? Hah! apa kau tau rasanya tidak bisa melihat sosok yang sangat kamu sayangi pergi untuk selama-lamanya tanpa mengucapkan kata selamat tinggal, apa kau pernah hah!." sambung Nana sedikit berteriak.


Andrian tersenyum mendengar ucapan Nana, jelas dia pernah merasakan itu semua, dia di tinggalkan sosok istri kecil nya bersamaan dengan putri nya Ansela.


Melihat Andrian yang tersenyum membuat Nana melotot, bisa-bisa nya pria itu tersenyum di atas penderitaan nya.


"Buka pintunya, hikss buka." Isak Nana semakin kencang.


Andrian menekan tombol untuk membuka pintu mobilnya, membuat Nana yang melihatnya langsung ingin keluar, tapi tangan nya malah di tarik oleh Andrian.


Nana jatuh ke pelukan Andrian, sekeras mungkin Nana berusaha berontak tapi Andrian malah semakin mempererat pelukan nya.


"Aku pernah ada di posisi mu, aku tau rasanya di tinggalkan jauh dari pada yang kamu rasakan, istri dan putriku meninggal secara bersamaan, bukan hanya kamu yang tidak bisa mengucapkan selamat tinggal pada Mama mu, tapi aku juga tidak bisa mengucapkan selamat tinggal yang terakhir untuk istri dan putriku." kata Andrian.


"Menangis lah jika menangis bisa membuat mu tenang." sambung nya masih dengan memeluk Andrian.


Keduanya menangis sambil berpelukan, Nana baru sadar jika pria di depan nya juga pernah merasakan di tinggalkan.

__ADS_1


Setelah pelukan di lepaskan Andrian dan Nana saling terdiam, lalu sedetik kemudian keduanya saling berpandangan.


"Aku akan mengantarkan mu ke makam ibumu." ucap Andrian memecahkan keheningan.


Nana hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun, dan Andrian kembali melajukan mobilnya ke tempat yang akan di tuju nya.


Sesampainya di pemakaman Nana turun dari mobil dan berjalan masuk ke area pemakaman, langkah nya yang gontai membuat Andrian tidak tega dan membantu Nana berjalan.


Di tatapnya tanah merah yang ada di depan nya, nisan nya bertulisan nama sang Mama, membuat Nana semakin merasakan sakit di hatinya.


"Mama." lirih Nana sambil mengelus nisan sang Mama.


"Aku datang Ma, maaf telah membuat Mama terlalu lama merasakan sakit." Nana kembali berucap sambil menatap foto yang ada di atas tanah merah yang di penuhi bunga warna-warni itu.


Andrian berdiri sambil melihat Nana yang rapuh, dulu dia juga pernah ada di posisi Nana, sulit menerima takdir yang menimpa nya.


Rasanya sangat sesak saat mengetahui fakta yang di alami Mama nya, Nana benar-benar tidak habis pikir dengan Papa nya yang bisa-bisa nya menyembunyikan Mamanya selama bertahun-tahun lamanya.


"Istirahat yang tenang Ma, aku janji akan membuat Papa menyesali semuanya." sambung Nana sambil mengepalkan tangan nya.


Nana beranjak berdiri, Andrian Kembali membantu Nana berjalan.


"Jangan menyimpan dendam, itu tidak baik." kata Andrian bijak.


"Dia yang membuat Mama dan adik ku tersiksa, aku tidak akan pernah memaafkan nya." sahut Nana dingin.


Andrian menggelengkan kepalanya. "Papa mu sudah mengakui kejahatan nya pada polisi, untuk apa membalaskan dendam lagi?." Andrian menaikan sebelah alisnya.


Dia sendiri yang menjadi saksi saat Papa nya Nana menyerahkan diri nya ke kantor polisi.


"Itu belum cukup, aku harus bisa memastikan jika dia menderita di jeruji besi, aku tidak akan pernah rela dia hidup senang di penjara." gumam Nana, tapi masih terdengar di telinga Andrian.


"Balas dendam hanya akan menyia-nyiakan waktu, lebih baik kau mendoakan Mama dan adikmu dari pada membuang waktu hanya untuk dendam yang tidak akan ada habisnya." kata Andrian menasehati namun tidak sama sekali di gubris oleh Nana.


_________


🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan lupa jejak, ♥️

__ADS_1


__ADS_2