
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Dengan wajah penuh gembira Anaira berjalan mendekati pria yang duduk di ruangan nya itu, "Astaga Bara terimakasih." ucap nya sambil tersenyum senang.
"Kamu ini kenapa?." tanya Bara heran melihat Anaira yang tersenyum kegirangan.
Anaira ikut duduk lalu dia menyandarkan kepala nya di sofa. "Rencana kita berhasil Bar, semuanya berjalan sesuai rencana kita." kata Anaira sambil menatap Bara.
"Kau serius? si dingin itu sudah mengakui perasaan nya padamu?." tanya Bara penasaran.
Anaira terdiam sebentar, lalu menggelengkan kepalanya, "Belum mengakui sih, tapi dia sudah memperlihatkan kecemburuan nya, dan aku sangat akin kalau dia masih memiliki rasa padaku." jelas Anaira sambil tersenyum senang.
Bara menghela nafasnya, kenyataan nya tidak ada hubungan spesial diantara keduanya, Anaira adalah sahabat Bara dan mereka merencanakan semuanya itu untuk membuat Kiano cemburu, dan mau mengakui perasaan nya.
Tapi siapa sangka jika setelah misi nya selesai Bara yang ternyata adalah seorang Gy itu malah menyimpan sedikit benih pada teman nya, gadis yang dua bulan ini menemani hari-hari nya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan selanjut nya?." tanya Bara.
Anaira tersenyum dengan wajah misterius nya, "Sepertinya hubungan kita di sudahi saja, aku tidak mau dia pergi karna cemburu, kau paham kan Bar?." ucap Anaira.
Bara hanya tersenyum kecil, dia senang saat melihat Anaira bisa bersemangat lagi, tapi sekarang mungkin dia yang harus mencoba belajar melupakan perasaan nya.
Menjadi seorang Gy yang tidak menyukai perempuan jelas membuat Bara sedikit aneh, karna sekarang dia malah tertarik pada teman sekaligus rekan bisnis nya itu.
"Aku mengerti, kalau begitu aku akan pergi, orang tuaku menyuruh ku pulang Ira." kata Bara sambil beranjak berdiri.
"Bara tunggu." ucap Anaira sambil berdiri.
Tanpa meminta ijin Anaira langsung memeluk Bara. "Terimakasih Bar, kamu adalah teman terbaik ku, aku harap kamu bisa sembuh dari penyakit mu dan kembali menjadi Bara teman ku yang dulu." ucap Anaira sambil mengeratkan pelukan nya.
"Dan aku sembuh karena menyukai mu Ira." ingin sekali Bara mengatakan itu, tapi dia urungkan Bara bukan tipe pria yang bisa menyakiti hati seorang wanita, apalagi wanita itu adalah Ira teman baik nya.
"Sama-sama Ira semoga kamu bahagia bersamanya." ucap Bara seraya membalas pelukan itu, hening tercifta keduanya masih sibuk saling memeluk.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu terbuka, dan memperlihatkan Kiano yang mematung di tempat nya, niat nya ingin meminta maaf dan ingin mengatakan kejujuran tentang perasaan nya tapi Kiano malah mendapatkan tontonan dimana gadis yang di cintai nya tengah dalam pelukan pria lain.
"Kak.." ucap Anaira sambil melotot lebar dan replek melepaskan pelukan nya.
"Maaf menganggu, saya permisi." ucap Kiano sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan Anaira.
Setelah kepergian Kiano, Ira menatap Bara dengan yang sulit di artikan dan Bara yang melihat itu bingung harus melakukan apa, yang dia lihat dari tatapan Kiano tadi adalah tatapan kekecewaan.
"Kejar dia, Ira." titah Bara.
Anaira masih diam sampai Bara memegang tangan nya, "Kamu mencintainya, jangan buang waktu lagi Ira dia pria yang tidak peka, jika kamu diam saja kamu yang akan menyesal." ucap Bara mengingatkan bahwa pria yang di sukai teman nya itu bukan lah pria yang mudah memiliki perasaan pada seorang gadis.
Tanpa menjawab ucapan teman nya Anaira berlari mengejar Kiano, saat di dalam lift Anaira dengan resah menekan tombol dan saat pintu lift terbuka Ira langsung berlari sekuat tenaga nya.
"Kak tunggu." teriak Anaira sambil berlari menyusul Kiano yang ada di parkiran.
"Kakak tunggu." teriak Anaira lagi yang berhasil membuat Kiano menghentikan langkah nya.
Anaira mendekati Kiano yang berdiri tak jauh dari tempat nya, "masuk." titah Kiano sambil masuk kedalam mobil.
Keduanya masuk ke dalam mobil Kiano.
Perduli apa Anaira pada status sosial nya, bahkan jika harus melepaskan jabatan ini Anaira tidak akan menolak, dia bosan harus menjadi seseorang yang sama sekali tidak dia sukai keterampilan nya.
Sejatinya yang di inginkan Anaira hanyalah menjadi desainer sesuai dengan kemampuan nya yang memang cekatan dan pandai dalam masalah fashion.
"Jangan mengatakan itu lagi, status sosial membuat ku merasa jauh dari orang yang ku cinta." kata Anaira sambil menatap Kiano.
Perlahan Kiano mengemudikan mobilnya dengan pelan, keduanya masih belum memulai pembicaraan setelah Anaira mengatakan kata terakhirnya.
Sampai mobil Kiano memarkir tepat di halaman rumah besar, "Sudah sampai nona, sebaiknya anda istirahat, saya juga harus pergi kembali kekantor." kata Kiano dingin.
"Kalau aku tidak mau turun?." Anaira mengangkat sebelah alisnya ke atas.
"Jangan memancing keributan nona, di rumah ada om Rafa dan tanteu Ririn yang bisa saja terganggu waktu istirahat nya." kata Kiano tegas.
__ADS_1
Anaira melirik Kiano namun yang di lirik hanya nampak diam tak berekspresi, dan hal itu membuat Anaira tersenyum bodoh, "Aku turun, hati-hati." kata Anaira akhirnya dia memilih turun dan berlari ke rumah nya.
Sedangkan Kiano yang masih di dalam mobil nampak memukul setir nya dengan tangan, dia masih kecewa pada Anaira tapi dia juga merasa bodoh karna telah sempat ingin mengutarakan perasaan nya pada Ira, meski niatnya terhalang oleh acara berpelukan nya Ira dan Bara.
Siang berganti sore, Anaira nampak menangis karna Rafasya sang Daddy telah mengetahui kabar putus nya Ira dan Bara, bahkan tak hanya itu Ira di paksa harus menerima petunangan nya dengan pria pilihan sang Daddy.
"Mom..Ira ngak mau." kata Anaira sambil menangis.
Ririn hanya mengelengkan kepalanya, kenapa anak-anak jaman sekarang sangat sulit di ajak kompromi padahal dulu dia yang masih berusia 19 tahun menuruti keinginan sang ayah untuk menikah dengan Rafasya, tapi sekarang jauh beda dengan putri bungsu nya yang terus menolak keinginan suami nya.
"Ira jangan menangis lagi, usia mu sudah 23 tahun kamu tidak malu dengan usia mu yang sudah tua itu?." ucap Ririn yang berhasil membuat Anaira terdiam dan cemberut.
"Mommy Daddy kolot, Ira masih muda Mom, teman Ira juga belum ada yang menikah." kata Anaira dia akan tetap menolak permintaan sang Daddy.
Ririn menghela nafasnya, kenapa juga sikap cengeng nya saja yang menurun pada sang putri bungsu, sedangkan sifat keras kepala suaminya malah mendominasi kedua putra putrinya.
"Dengarkan Mommy tidak ada satu pun orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya ke dalam kubah kegelapan sayang, semua orang tua mau yang terbaik untuk anak nya, dan begitu pun dengan Mommy Daddy, yang menginginkan kebahagian mu." kata Ririn,, yang entah sudah yang ke barapa kali nya.
Tiba-tiba Rafa yang selesai mandi pun ikut bergabung dengan anak istri nya, "Kamu mau lihat setampan apa pria yang akan menjadi calon suami mu?." tanya Rafa menawari.
Anaira mengelengkan kepalanya cepat, "Ngak mau, Ira masih belum siap Dad, dan dari mana Daddy tau masalah hubungan ku dan Bara yang telah selesai?." tanya balik Anaira.
Rafa melirik istrinya, lalu dia tersenyum aneh, "Itu tidak penting, yang paling terpenting sekarang adalah nanti malam akan ada acara makan malam, dan orang tua calon suami kamu akan datang." kata Rafa.
"Lalu?." tanya Anaira sewot.
"Berdandan lah, jangan kecewakan Daddy." kata Rafasya, dan hanya terdengar helaan nafas kekesalan dari sang putri bungsu.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa mampir di cerita Bian ya😊
udah Upp beberapa epsd loh♥️
__ADS_1
Jangan lupa jejak!!