
...Nabila...
...Cantik kan kan kan πππ berwajah cantik, kalem, lemah lembut, baik hati, tidak sombong dan rajin menabungππ....
...Adam....
...Arumi...
...Wajah cantik, imut tapi kayaknya galak...dan tegas....
...Tommy...
Bagaimana guys setuju tidak dengan deskripsi untuk Nabila dan Arumi jika dilihat dari wajahnya....????
...β€β€β€β€β€β€β€...
Kini Arumi dan Tommy sudah tiba di sebuah rumah mewah nan megah berlantai 3 dengan di lengkapi lift khusus untuk mencapai lantai - lantai berikutnya
__ADS_1
Kini Tommy di sambut oleh beberapa pelayan dan langsung mengarahkan mereka menuju taman belakang yang sudah di sulap sebagai tempat dinner romantis bersama sang kekasih hati sekaligus bertemu dengan calon ibu mertua.
Arumi pun mengagumi desain interior dan eksterior dari rumah sang pujaan hati dan tak henti - hentinya melayangkan pandangannya kesetiap sudut ruangan.
"Beruntungnya aku jika aku bisa menjadi menantu di rumah ini. Aku tidak perlu repot - repot bekerja dan setiap hari aku pastikan selalu bisa shopping membeli barang - barang mewah." ucap Arumi berdialog dalam hati membayangkan kejadian - kejadian apa yang bakal terjadi jika dia dan Tommy sudah resmi menjadi suami istri kelak. Tommy pun menggenggam tangan sang wanitanya sambil terus berjalan menuju taman belakang
"Sayang ... kok tangan kamu dingin dan gemetaran?" tanya Tommy dan menghentkan langkah kaki mereka.
"Sayang aku takut," ucap Arumi gugup dan menunduk.
Tommy pun menatap wajah sang pujaan hati sambil mengangkat dagu sang pujaan hati, "Sayang... apa yang kamu takutkan? Mama dan Papa ku cuman makan nasi tidak makan orang." ucap Tommy menggoda wanitanya.
"Apaan sih kamu." ucap Arumi sambil tersemyum simpul.ππ
Kemesraan mereka tanpa mereka sadari ternyata di saksikan oleh Mama Dinda dan Papa Dias. Mereka pun berjalan mendekat
"Kalian sudah lama datangnya," ucap Mama Dinda basa basi.
Mama Dinda pun meniliti Arumi dari kepala hingga kaki, "Ini Tom yang kamu ceritakan pada Mama dan Papa waktu itu?" tanya sang Mama dengan ekpresi biasa saja.
Arumi pun membelalakan matanya mendengar penuturan wanita paru baya yang kini berdiri sekarang di hadapannya itu.
Untuk membuang rasa gugup, malu, dan canggung Arumipun mencoba mengakrabkan diri sekaligus merebut hati Mama dan Papa Tommy agar mereka merestui hubungannya dan mau menerima Arumi sebagai menantunya.
"Tante dan Om apa kabar? Sehat? Saya Arumi," ucap Arumi kemudian sambil memasang senyum terbaik dan termanisnya.
"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat." ucap Mama Dinda dengan ekspresi biasa - biasa saja. Arumi yang menangkap eskpresi itu berusaha sebisa mungkin bersikap biasa - biasa saja juga. Jangan sampai dirinya bertindak kasar dan menghancurkan semua cita - cita dan keinginannya untuk menjadi Nona muda di rumah ini.
"Ayo kita kebelakang," ajak sang Papa kepada tamu mereka dan kemudian kini mereka berjalan bersama - sama. Jika di lihat sepintas sepertinya mereka satu keluarga yang rukun, harmonis dan romantis.
__ADS_1
Papa dan Tommy berjalan lebih dulu di depan sementara Arumi dan Mama Dinda berjalan berdampingan, sambil mencekal lengan Arumi, "Kamu jangan pernah bermimpi untuk bisa menjadi menantuku dan jangan lupa wajah ini akan selalu aku ingat hingga akhir hayatku." ucap Mama Dinda seraya melepas cengkramannya lalu berjalan menyusul suami dan anaknya.
Arumi yang mendengar penuturan Mama Dinda pun bingung dan tak mengerti kenapa dirinya tiba - tiba berkata begitu karena rasa - rasanya Arumi baru kali ini dia bertemu dengan orang tua sang pujaan hati. Dan merasa tidak pernah punya musuh.
"Maksud tante apa ya? Arumi tidak mengerti?"
"Arumi Dharmawangsa."
"Dari mana tante tau."
"Seorang putri pengusaha terkenal dan Ayahnya meninggal ketika pergi menjemput sang Adik Dina Nabila di kampus dan kakak bernama Akbar Dharmawangsa...." ucapan Mama Dinda di potong oleh Arumi.
"Apa maksud Tante? Dan bagaimana Tante bisa tau keluarga Arumi?"
Ketika Mama Dinda ingin melanjutkan kalimatnya, Papa Dias yang sudah melangkah jauh didepan baru sadar jika sang istri dan calon mantu tidak membuntut di belakang pun menoleh kebelakang, "Ayo sini kalian ngapain di sana?"
"Iya pah bentar." sahut Mama Dinda.
"Camkan itu." ucap Mama Dinda searaya menepuk - nepuk pipi Arumi kemudian melangkah pergi dengan hati sakit dan hancur jika mengingat kejadian beberapa tahun silam.
...πππππππ...
Ada apa dengan Mama Dinda?
Apakah mereka sebelumnya sudah pernah bertemu?
Dan apa kah di antara mereka memiliki dendam pribadi?
...TERIMA KASIH...
__ADS_1
...ππππππππ...