
Kini mereka sudah duduk di kursi meja makan. Seperti biasa Nabila akan melayani sang suami terlebih dahulu, baru setelah itu melayani dirinya sendiri. Tidak ada percakapan di antara mereka hanya mata yang saling berpandangan.
Tidak butuh waktu lama, kini mereka sudah menyelesaikan sarapan paginya. Nabila pun mengantar sang suami sampai kedepan pintu utama, selepas sang suami pergi dia pun kembali masuk kedalam rumah.
"Sayang ... hari ini kamu ada acara apa?"
Suara itu memaksanya untuk berhenti melangkah, lalu kemudian menoleh keasal datangnya suara.
Nabila pun berjalan mendekat, sembari mengulas senyum, dan duduk di samping Bunda Irene, "Memangnya ada Bun? Apa Bunda mau kesesuatu tempat?"
Dengan hati - hati agar tidak menyinggung perasaan sang menantu, "Apa Bunda boleh bertanya?"
"Bunda mau tanya apa?"
"Apa selama 6 bulan itu kamu tidak merasakan yang aneh pada tubuhmu. Misal mual atau sejenisnya gitu?"
Dengan tatapan penuh keheranan dengan pertanyaan sang Bunda, "Maksud Bunda?"
Dengan berusaha setenang mungkin, agar tidak menyinggung perasaan sang menantu, "Kapan kalian memberi Bunda cucu? Bunda kan sudah tua, Bunda ingin sekali segera kalian beri cucu."
Nabila pun meraih tangan Bunda Irene kemudian mengelusnya, "Bunda bukannya Nabila tidak mau memberi bunda cucu hanya saja tuhan belum mempercayakan seorang malaikat kecil untuk kami jaga dan rawat," kini dengan mata berkaca - kaca.
"Yang di katakan Irene benar tu Nabila. Kapan kalian memberi kami cucu. Kamu tau sendiri kan kalau kesehatan Nenek setiap hari bukannya sehat melainkan semakin hari kesehatan Nenek semakim menurun, jadi kalau bukan sekarang kalian memberikannya kapan lagi. Kalian mau menunggu wanita tua ini mati dulu baru kalian memberiku cucu," ujar sang Nenek yang datang dari dalam dan ikut duduk dan bergabung dengan Bunda Irene dan Nabila.
Dengan tergagap, "Bu_bukan begitu Nek, tapi...."
"Tapi, apa. Tapi, apa? Apa karena kamu mandul dan tak bisa memberi keturunan pada keluarga ini?" tanya Nenek Luciana dengan menaikkan satu oktaf nada suaranya.
__ADS_1
"Nenek, Ibu," ucap Nabila dan Bunda Irene bersamaan seraya menatap wajahnya.
"Ibu ... tidak boleh berkata seperti itu. Setiap kata adalah do,a. Ibu mau jika Nabila sungguh mandul?"
Sementara Nabila sendiri air matanya yang sedari tadi di tahannya kini tumpahlah sudah.
Bunda Irene pun menenangkan, sambil memeluknya, "Sudah lah sayang, sudah kamu jangan menangis lagi. Kata - kata Nenek tidak usah kamu masukin kedalam hati. Kamu pasti hamil kok tapi nanti jika tuhan sudah memberikan kalian kepercayaa itu."
Nabila hanya bisa mengangguk kan kepala sebagai jawabannya.
"Makasih Bunda ... makasih."
"Sudah, sudah, sudah dari pada kalian mellow di situ lebih baik Nabila kamu bawa kerumah sakit untuk memerikasakan tingkat kesuburannya," ucap Nyonya Luciana seraya menatap Bunda Irene dan Nabila bergantian.
Dengan lembut dan di usapnya kepala sang menantu, "Sayang kamu mau kan kalau hari ini kita kerumah sakit untuk memeriksakan kesehatanmu?"
"Ya sudah ayo berdiri kita siap - siap sekarang," ucap Bunda Irene seraya membantu sang menantu untuk berdiri.
Sebelum mereka melangkah pergi, "Bu tidak mau ikut dengan kami pergi kerumah sakit?" tanya Bunda Irene.
"Tidak. Ibu di rumah saja menunggu kabar baiknya." ucap Nyonya Luciana seraya berdiri dan meninggalkan sang menantu dan cucu menantu yang masih diam mematung di tempat.
*********
Di tempat yang lain.
"Kamu sudah rapi sepagi ini mau kemana?"
__ADS_1
tanya Bu Yana yang saat ini sedang membersihkan ruang tamu dan lemari yang penuh dengan debu dan kotoran.
"Arumi mau ketempat yang biasa wanita datangi untuk memanjakan diri mereka Bu."
Bu Yana pun mengerutkan kening tanda tak mengerti dengan tempat memanjakan diri untuk seorang wanita. Di dalam otak Bu Yana sudah mengada - ada dan membayangkan betapa suramnya tempat memanjakan diri wanita yang kurang dan haus akan belaian seorang laki - laki yang tidak terikat akan tali pernikahan.
"Rumi kamu jangan aneh - aneh, jangan malu - maluin nama keluarga kita."
Arumi pun menatap heran, "Maksud Ibu apaan? Rumi tidak ngerti."
"Tempat memanjakan wanita."
Arumi pun tertawa seraya merangkul pundak sang Ibu, "Bu, tempat memanjakan diri bagi seorang wanita itu moll, salon kecantikan juga termasuk tempat memanjakan diri untuk wanita."
Bu Yana pun melirik wajah putrinya itu, "Sejak kapan kamu pecinta salon kecantikan? Bukan kah selama ini kamu lebih menyukai dirimu apa adanya?"
"Pertanyaan Ibu tidak usah di jawab ya, Arumi pergi dulu bu," ucap Arumi seraya mencium pipi kanan dan kiri sang Ibu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
...🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎...
...TERIMA KASIH...
...🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎...
__ADS_1