
Kini Nabila sudah berada di kamar, dia kini berdiri di depan jendela sambil menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajahnya. Kadang - kadang dia tersenyum miris jika mengingat ucapan Nyonya Luciana di beberapa menit yang lalu, tiba - tiba air matanya turun begitu saja tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Ada rasa yang tak biasa yang kini menjalar keseluruh tubuhnya serta ketakutan pun kini menghantuinya bagaimana jika dia tidak bisa memberi keturunan pada keluarga ini, bagaimana jika mereka disuruh berpisah lantaran tidak bisa memberikan apa yang mereka mau, bagaimana ... bagaimana ... bagaimana .... pertanyaan itu kini memenuhi rongga kepala Nabila.
"Huuuuuffffffff...." Nabila pun membuang nafasnya secara kasar, lalu kemudian berjalan menuju di mana tempat tidurnya berada. Lalu duduk di sana.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan," tanyanya pada diri sendiri.
"Ceklek," pintu tiba - tiba terbuka. Nabila pun buru - buru menghapus air matanya dengan punggung tangannya dan berusaha menetralkan kembali fikiran dan perasaannya.
"Habiba ternyata kamu ada disini, aku kira kamu kemana karena dari tadi aku tunggu kamu di ruang keluarga eh ... ternyata kamu tidak balik - balik lagi kesana," ucap Adam dan duduk di samping sang Istri.
__ADS_1
Nabila pun mengalihkan pandangannya kelain, dia tidak ingin kesedihan yang dia rasakan di ketahui oleh sang suami, bukannya tidak ingin berbagi hanya belum siap untuk berbagi keluh kesah. Adam yang melihat ada yang tak beres dengan sang Istri pun mendesak untuk bercerita.
Sambil memegang lembut tangan sang Istri kemudian di kecupnya, "Habiba, coba ceritakan padaku apa sebenarnya yang sudah terjadi? Dan kenapa wajahmu tiba - tiba murung? Bukankah dari tadi kamu baik - baik saja?"
Namun Nabila masih saja enggan untuk berbicara.
"Huuuffff ... ya sudah lah jika kamu tidak mau berbagi denganku tidak apa - apa, aku tidak akan memaksa," ucap Adam kemudian berdiri hendak meninggalkan Nabila sendirian di dalam kamar. Namun, belum jauh Adam melangkah, masih pada posisi duduk dan memunggungi Adam, "Apakah jika aku tidak bisa memberi keturunan pada keluarga ini, apakah kamu akan meninggalkan aku? Apakah kamu akan mencampakkan aku, dan menceraikan aku, lalu mencari wanita lain yang lebih sempurna dari aku?" lirih namun masih nampak di telinga Adam.
Luruh sudah pertahanan yang sedari tadi di pertahan oleh Nabila, kini air matanya sudah tidak bisa di bendung lagi dan sudah membanjiri wajah cantiknya.
__ADS_1
Jantung Adam serasa berhenti berdetak mendengar penuturan sang istri, Adam pun berbalik dan kembali ke tempat duduk semula. Sambil mengerutkan keningnya, "Apa yang habiba sedang bicarakan? Aku tidak mengerti. Dan siapa yang akan meninggalkan mu? Bukan kah Anak, rezeki, hidup dan mati manusia sudah ada yang mengatur. Jika sampai saat ini kita belum di beri keturunan, percaya dan bersabarlah Tuhan sedang menguji kita dan jika sampai saat ini Tuhan belum memberi kita keturunan itu tandanya Tuhan menyayangi kita dan Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya di luar batas kemampuan umatnya, Dan jangan sekali - kali mengucap kata pisah karena sampai kapan pun aku tidak ingin kita berpisah dan satu lagi aku tidak ingin mendengar kata - kata itu kamu ucapkan lagi. Kalau masih aku dengar aku tidak akan segan - segan membumkam mulutmu hingga tidak bisa lagi untuk berbicara." ucap Adam dan membawa Nabila kedalam pelukannya.
Sambil membelai rambut sang Istri, "Menangislah jika itu bisa membuatmu merasa tenang dan tak terbebani."
Nabila pun menumpahkan segala beban yang ada di pundaknya lewat air matanya. Dan berniat dalam hati dia akan berkunjung kerumah sakit untuk mengetahui kondisi fisik tubuhnya apa kah baik - baik saja ataukah.......???? 🤔🤔🤔
...❤❤❤❤❤❤...
...TERIMA KASIH...
__ADS_1
...❤❤❤❤❤❤...