
Kini mereka sudah duduk di taman halaman belakang. Arumi duduk di samping Tommy sementara kedua orang duduk di kursi yang ada di hadapan mereka.
Ada kecanggungan yang tercipta di antara mereka, terutama Arumi dan Mama Dinda. Arumi sudah mati - matian berfikir sebenarnya ada salah apa dirinya sama calon ibu mertuanya itu, namun Arumi tidak menemukan di mana letak kesalahannya karena rasa - rasa nya Arumi dan Mama Dinda baru kali ini berjumpa. Lalu di mana letak kesalahan Arumi.....π€π€π€π€ jika Arumi mengklaim baru kali ini bertemu dengan Mama Dinda.
Papa Dias yang menyaksikan pertarungan hati antara istrinya dan Arumi tidak bisa berbuat apa - apa lantaran Papa Dias pun merasakan hal yang sama dengan sang Istri. Namun dirinya tak boleh egois kebahagiaan sang Anak lebih utama dari pada harus meninggikan egois. Sakit ya sungguh memang sakit, tidak terima mungkin itu yang lebih tepat menggambarkan suasana hati mereka saat ini tapi dia akan berusaha berdamai dengan hati dan perasaannya lantaran kebahagiaan anak yang lebih utama.
Setelah cukup lama terdiam, dan hanya alunan musik romantis yang sengaja di pasang di taman halaman belakang menjadi pemecah kesunyian di antara mereka semua. Sang Ayah pun angkat bicara ketika melihat makanan yang ada di atas meja belum tersentuh sama sekali oleh mereka berempat.
"Ayo Nak dimakan! Apa makanannya tidak enak?" tanya Papa Dias pada Arumi.
Arumi yang sedari tadi hanya menunduk kini mendongakkan kepalanya, "Makanannya enak kok Om."
"Apa kamu mau nambah makanan sayang," ucapan Tommy sukses membuat merah merona pipi Arumi yang mendadak di panggil sayang di depan kedua orang tuanya sang kekasih hati.
Mama Dinda yang melihat sang Anak memberikan perhatian kecil pada Arumi hanya bisa tersenyum kecut, sementara sang suami sendiri berharap Arumi lah yang kelak manjadi menantunya, tanpa melihat kesalahan apa yang sudah di perbuatnya. Walau bagi siapa pun yang mengetahui kesalahan Arumi di masa lalu pasti akan berfikir seratus bahakan seribu kali untuk menjadikan nya menantu.
"Kalau enak kenapa makananya belum di makan?"
"Sudah .. sudah nanti juga dia makan Pah kalau sudah lapar, benar begitukan Arumi?"
Ucapan sederhana namun memiliki arti yang sangat dalam bagi siapa pun yang mendengarnya begitu pula dengan Arumi.
"Iya Tante."
Tapi dia masih penasaran siapa sebenarnya wanita paruh baya ini dan ada motif apa di balik semua ketidak nyamanan ini. Karena rasa - rasanya dia tidak punya musuh. Tapi entahlah hanya author yang tau jawabannyaπππ.
...πππππππ...
Kini Nabila dan Adam sudah kembali dari minimarket dengan membawa masing - masing dua tas kantongan belanja yang berisikan cemilan yang terbuat dari bahan dasar coklat. Nabila hanya bisa bergidik ngeri menyaksikan sang suami yang menurutnya aneh bin ajaib. Seumur - umur dia belum pernah melihat sang suami menjadi penggila coklat.
Kini mereka tengah duduk di taman halaman hotel. Dengan posisi Adam duduk sementara Nabila sendiri berdiri.
"Habibi ini tidak salah kok beli coklat segini nya banget yakin kamu bisa menghabiskannya semua?" tanya Nabila yang masih di liputi dengan rasa penasaran sebenarnya ada apa dengan sang suami.
__ADS_1
Adam hanya menganggukan kepalanya saja. Setelah menikmati beberapa bungkus cemilan coklat Adam pun tiba - tiba memeluk sang Istri.
Nabila pun hanya bisa mengalungkan tangan di leher sang suami, dan Adam pun menikmatinya.
"Habibi meluknya udahan ya! Malu di lihat orang nanti di kira kita tidak bisa membedakan tempat mana yang pantas."
Namun Adam hanya menggelengkan kepala. Nabila hanya bisa pasrah dengan kelakuan sang suami yang menurutnya manja, aneh dan ajaib. πππ.
"Habiba biarkan aku seperti ini untuk beberapa saat ya," ucap Adam sambil menengadahkan pandangannya.
Nabila pun menganggukan kepalanya dan berusaha masa bodoh pada orang yang lalu lalang dan menyaksikan kebodohan mereka berdua. πππ.
Setelah puas memeluk, "Habiba ayo kembali masuk kamar dan melanjutkannya di sana," ucap Adam seraya berdiri dan berlalu pergi membawa kantong belanjaannya. Nabila hanya bisa terbengong - terbengong dan segera menyusul sang suami.
...βββββββ...
Kini waktu sudah menunjukan pukul 22.00 waktu setempat. Setelah puas bercerita Arumi pun pamit undur diri.
"Oh iya om hampir lupa ma,alum terlalu terbawa suasana. Iyakan Mah?" tanya sang suami sambil melirik sepintas kearah sang istri.
Sang Istri hanya bisa menganggukan kepala dan tersenyum kecut untuk menyembunyikan ketidak sukaanya kepada Arumi.
"Tom, buruan gih antar Nak Rumi pulang ntar Ibu nya gelisah menunggu anak gadis yang belum pulang - pulang hingga sekarang." titah sang Ayah.
"Baik Pah." ucap Tommy seraya berdiri dan meraih punggung tangan sang Ibu dan Ayah lalu menciumnya begitu pula dengan Arumi.
Mereka pun berjalan beriringan hingga keteras rumah.
"Om Tante terima kasih atas jamuan makan malamnya."
"Iya Nak sama - sama sering - seringlah main kesini jika ada waktu luang." ucap Papa Dias dengan penuh ramah karena dia berusaha berdamai dengan hati nya.
__ADS_1
Sang Istri yang menyaksikan itu hanya bisa tersenyum hambar.
"Om Tante Arumi permisi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kini Arumi dan Tommy sudah berbaur dengan pengendara mobil lainnya.
"Yang ... seperti nya mama kamu tidak menyukaiku," ucapan Arumi sontak membuat Tommy menepikan mobilnya di jalan raya.
"Apa maksud kamu Yang dengan Mama tak menyukaimu. Perasaan dari tadi Mama biasa - biasa saja dan tidak ada berucap macam - macam dan tidak ada berucap tidak suka denganmu."
"Iya Yang aku ngerti tapi kan mana mungkin orang yang tidak suka akan mengatakan secara langsung ketidak sukaannya." ucap Arumi bersikeras dan mempertahankan argumennya.
"Sudah lah Yang itu hanya perasaan kamu saja, tolong percaya sama aku," ucap Tommy berusaha menenangkan sang kekasih hati seraya mengelus - elus kepala wanita yang di cintainta setelah orang tuanya terutama sang Mama.
Arumi hanya menganggukan kepala, "Ok aku percaya denganmu." ucap Arumi singkat, namun dia tetap tidak boleh lengah dengan kebaikan sang kekasih siapa dan dia akan menyelidiki apa motif di balik semua ini ataukah hanya perasaannya saja.
Mereka pun melanjutkan perjalanannya.
...πππππππ...
Di rumah besar berlantai 3, orang tua Tommy sedang beradu argumen antara sang Istri dan suami.
"Pokoknya Mama tidak setuju dan tidak akan pernah setuju jika mereka nekad tetap akan melanjutkan hubungan ini, tunggu mama mati dulu." suara sang istri menggema di seluruh ruangan.
"Mah ... mama bicara apaan sih? Mama jangan egois mama sakit hati, papa juga merasakan hal yang sama, tapi kita jangan egois dan harus selalu memberi maaf kepada orang Tuhan aja bisa memaafkan umatnya masa mama tidak bisa memberi maaf pada Arumi. Lagi pula ini tuh sudah lama kejadiannya tak usah di ungkit - ungkit lagi. Papa tau kalau mama sakit jika mengingat semuanya apa lagi sekarang Tommy dekat dengan Arumi, sama mah papa juga sakit tapi papa akan berusaha berdamai dengan takdir dan berdamai dengan ego."
Dengan tatapan mata berkaca - kaca, dan meninggikan nada bicaranya satu oktaf, "Apa papa bilang? Memaafkan? Mama bisa aja memaafkan tapi kembalikan apa yang sudah dia ambil dari Mama. Dan jika itu tidak bisa terjadi jangan harap kata maaf bisa mama berikan untuk dia." ucap Mama Dinda seraya berlalu pergi dengan membawa sejuta rasa kecewa dan sakit hati yang menusuk dadanya.
...πππππππππ...
...Terima kasih dan jangan ada dusta di antara kita....
__ADS_1
...ππππππππππππ...