
...Menurut Vote antara Baby dan Honey Vs Pipi dan Mimi skor tertinggi di peroleh Baby dan Honey. Ok terima kasih atas masukannya ya....
Lanjut.
Di tempat yang berbeda Nabila dan Tuan Adam sudah sama - sama menyelesaikan ritual mandinya. Tuan Adam lebih memilih berkumpul dengan Ayah, Bunda serta Nenek tercintanya, sementara Nabila sendiri lebih memilih istirahat setelah seharian jalan - jalan dan bermain drama di sore hari.
Kini aku sudah mendudukan tubuh ku di atas tempat tidurku, perlahan - lahan ku raih bingkai foto yang ada di atas nakas di samping tempat tidurku, lalu kuusap wajah yang ada di dalam sana tanpa terasa air mata ini turun membasahi wajah itu tanpa meminta permisi.
"Kini do,a menjadi satu - satunya alat komunikasi denganmu, aku percaya tuhan maha mendengar. Seandainya waktu dapat diputar, aku ingin lebih banyak lagi menghabiskan waktu bersamamu Ayah. Jika Ayah dapat mendengarku, aku ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukan Ayah. Terima kasih karena sudah menjadi Ayah yang terbaik untuk Nabila," perlahan - lahan bingkai foto itu kupeluk lalu ku cium hingga berkali - kali untuk mengungkapkan rasa rinduku yang teramat sangat dalam.
Tok ... tok ... Ketukan pintu dari luar.
Secepat mungkin ku hapus air mataku, aku tak ingin ada orang yang tau kalau aku sedang menangis, tapi begitulah wanita walaupun sudah berjanji dalam hati untuk tidak menangis itu tidak bisa menjamin karena itulah cara mereka untuk meredam rasa sakit dan menumpahkan segara rasa beban di hati selain bersujud di atas sajadah.
Bingkai foto itu pun ku kembalikan ketempatnya semula.
"Masuk."
Pintupun terbuka dan ternyata Bik Asih yang datang dengan membawa nampan di tangannya berisi makanan.
Sambil meletakkan di atas meja nakas, "Non, makan dulu!"
"Nabila tidak lapar Bik."
Bik Asih pun duduk di samping ku sambil mengelus bahuku, "Sudah lah Non makan ya walau sedikit, kalau Non sakit bagaimana?"
__ADS_1
Dengan menunduk, "Sungguh Bik, Nabila tidak lapar."
Dengan membuang nafas secara kasar, "Non makan ya walau hanya sedikit. Bibik suap ya." sambil berdiri dan mengambil piring di atas nampan lalu kemudian duduk kembali ketempat semula.
Aku pun menatap wajah Bik Asih yang kini sudah tak nampak muda lagi, dengan mata yang kini kembali berkaca - kaca, "Bik terima kasih, untung ada Bibik di sini menemani Nabila yang selalu setia mendengar keluh kesah Nabila di saat Nabila sedih, jatuh dan terpuruk."
Bik Asih pun meletakkan kembali piringnya di atas nampan lalu memegang kedua tanganku, "Non mau sampai kapan Non mau mengucapkan terima kasih, sudah seharusnya kita saling tolong menolong."
"Terima kasih Bik, terima kasih." Kami pun berpelukan. Setelah melepas pelukan, "Non makan ya, Bibik suap!"
Dengan tersenyum, "Siap komandan."
Di tempat yang lain.
"Dam katanya tadi sore ada yang mau di bacarakan, silahkan berbicara berhubung semua anggota keluarga sudah berkumpul disini." ucap sang Nenek mengawali pembicaraan.
Adam pun menoleh kearah sang Nenek, kemudian menoleh ke arah sang Bunda dan sang Ayah, hening sejenak hanya mata saling memandang satu sama lain. Ragu ya ragu, ragu jikalau tak di ijinkan oleh ke dua orang tuanya dan sang Nenek tercinta. untuk mempercepat pernikahannya.
Dengan menghembuskan nafas kasar seraya menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal, "Bun, Yah, Nek, Adam ingin mengatakan sesuatu sama kalian semuanya." hening kembali di ruang keluarga itu hanya denting jam yang mengalun merdu di sana.
Sang Nenek pun membenarkan posisi duduknya, "Kamu mau bicara apa sih sayang? Kamu mau mobil baru? Mau ponsel baru? Mau jam tangan, dasi, jas, sepatu. Cepat katakan harta Nenek tak akan habis jika kamu yang menginginkannya, karena hanya kamu cucuk nenek satu - satunya penerus Widjayakusuma."
Sang cucu pun tersenyum, "Adam ingin menikahi Nabila segera kalau bisa sih dalam minggu ini," ucap Adam lirih, takut, gugup bercampur menjadi satu.
Mereka pun saling berpandangan satu dengan yang lainnya dengan wajah keheranan dengan penuturan sang putra, kemudian mereka pun tertawa, "Ha ... ha ... ha ... Jadi, ini masalahnya," ucap sang Nenek setelah berhenti tertawa.
__ADS_1
Adam pun bingung dan bertanya - tanya ada apa dengan mereka ?
"Nenek, Bunda, Ayah, kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?"
Dengan tersenyum, "Rupanya kamu sudah tidak sabaran ya, ingin menikmati yang namanya malam pertama," ucap sang Ayah sambil menertawakan kata - kata sang Anak.
"Ayah," ucap Adam sambil tersenyum kecut.
Sang Bunda yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia kini ikut menimpali, "Yah, bukankah ini berita yang sangat bagus? Dengan Adam menikah cepat lebih cepat pula kita dapat cucu. Bukan begitu Yah, Bu?"
Sang mertua pun membenarkan kata - kata sang menantu, "Benar juga apa katamu Irene, dengan begitu Ibu akan segera dapat cicit dari anak kamu yang ganteng mempesona ini."
Setelah berkata seperti itu, mereka pun larut dalam pemikiran masing - masing.
Episode selanjutnya : Menikah 2.
...❤❤❤...
...Terima kasih untuk yang sudah hadir memberikan like dan komentar dan terima kasih untuk like mode kalem. Maaf komentarnya tidak bisa aku balas satu persatu. Untuk yang mau promo monggo promo tapi Ni spam promo ya. lalu like karya aku dan tinggal kan jejak di kolom komentar biar aku berkunjung balik ke karya keren - keren anda semuanya....
...Semangat, mari saling mendukung dan tetap jaga kesehatan. Maaf baru ada jaringan....
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
...❤❤❤...
__ADS_1