ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
BAB 191. PSH ( IP : S4 )


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...****************...


...Selamat pagi jelang siang...


...****************...


1 minggu kemudian.


"Ah.." Tiara mengeluh pelan, berusaha menutupi cahaya yang menyilaukan mata dengan telapak tangan. Pandangannya kabur namun terlihat bahwa ada orang disana. Seseorang yang nampak heboh melihat Tiara bangun dan tersadar dari komanya, heboh nampak baru melihat idolanya.


"Tiara ... Tiara ini aku, terimakasih Tuhan,"


Ia tak lagi mendengar kan kata - katanya, namun ia tahu sejak cahaya itu menyilaukan matanya ia tak henti-hentinya mengucap syukur.


"Dokter ... dokter..." ucap Bara memanggil dokter untuk segera memeriksa keadaan Tiara walaupun pada dasarnya ia pun seorang dokter namun ini bukanlah wilayahnya.


Setelah koma berhari-hari, akhirnya Tiara bangun dan sadar dari komanya. Perlahan-lahan ia mulai membuka matanya lalu ia dapat melihat dengan jelas. Seiring dengan itu ternyata banyak hal yang dia lewatkan. Ia disini dengan terbaring lemas dengan infus ditangan, selang oksigen masih menempel dihidung serta kabel - kabel yang menempel ditubuh.


"Aku berada dirumah sakit? Sudah berapa lama aku tertidur?" gumam Tiara dalam hati.


Tak lama kemudian datang seorang laki - laki memakai seragam putih dan dua wanita di belakangnya juga mengenakan pakaian sama. Dia pastilah dokter dan dua orang belakangnya pastilah perawat. Dokter itupun berjalan mendekat, kemudian memeriksa. Ia mengungkapkan satu - dua Kalimat sebelum akhirnya melangkah keluar.


Ia tersenyum melihat tingkah laku Bara yang terlalu heboh melihat Tiara membuka mata.


"Kamu terlaluan." ucap Bara kemudian menyeka ujung matanya.


Tiara kembali tersenyum, "Sudah berapa lama aku disini?" tanya Tiara lemah.

__ADS_1


"Menurut kamu? Terimakasih banyak Tuhan engkau masih memberikan kesempatan untuk sahabatku yang paling menyebalkan ini bangun lagi." Air matanya benar-benar mengalir kali ini. Dia tiba - tiba memeluk Tiara dengan erat.


"Kamu tau tidak, kalau kamu adalah sahabatku yang paling menyebalkan yang pernah aku punya. Setiap hari aku harus datang kesini demi melihat kamu tertidur dengan pulasnya. Aku harus rela mengoceh nggak jelas hanya untuk melihat kamu terdiam. Berjam - jam aku harus rela mondar-mandir demi melihat jemari kamu bergerak. Kamu itu...."


"Sttttttt... Makasih ya Bara," Mereka pun kembali berpelukkan.


"Dan hari ini setelah seminggu, akhirnya perjuangan ku nggak sia - sia."


"Tunggu? Apa? Seminggu?" Tiara terbelakak mendengar penuturan bara. Bara melepas pelukannya, mengangguk tersenyum sambil menyeka kembali matanya.


"Apa yang terjadi denganku?"


"Kamu nggak ingat?" Bara balik bertanya.


Ia menggeleng, benar - benar nggak tau apa yang terjadi pada dirinya.


"Kok aku bisa lupa ya? Padahal kan aku masih muda tapi kok sudah diberi penyakit pikun." ucap Tiara.


Hening sejenak,....


Setelah sibuk dengan pemikiran masing-masing, Tiara pun kembali berbicara.


Sambil menangkup kedua tangannya didada, "Bara, aku boleh minta sesuatu nggak sama kamu?"


"Ya silahkan katakan apa keinginan anda tuan putri?" ucap Bara seraya terkekeh melihat wajah cemberut Tiara tatkala mendengar Bara memanggil nya dengan sebutan Tuan putri.


"Kamu cemberut makin cantik juga ya." ucap Bara menggoda Tiara.


Tiara malu, dia pun menundukkan wajahnya. Menyembunyikan merah merona di wajahnya.

__ADS_1


"Issss Tiara kamu apa - apaan sih. Kamu tidak boleh memberikan sebuah harapan kepada Bara, jika dikemudian hari kamu akan melukai hatinya." Tiara berdialog dalam hati.


"Katakan apa yang kamu inginkan dari aku?" Bara mengulang kembali pertanyaan nya. Sesaat kemudian Tiara pun mendongakkan wajahnya.


"Sungguh kamu akan mengabulkannya jika kamu tahu apa yang aku inginkan?" ucap Tiara penuh harap, mengingat kondisinya yang kian menurun dia harus berbuat sesuatu agar selalu bisa di kenang oleh orang terdekatnya.


"Hmmmmmm..."


"Aku ingin kita menikah?" ucap Tiara.


Bara yang mendengar itu hanya bisa mengerut kan kening tanda tak mengerti. Barapun mengulang kembali pertanyaan Tiara.


"Apa kamu ingin kita menikah?"


"Hmmmmm..."


Ketika sedang sibuk memikirkan permintaan sahabatnya itu, Tiara tiba - tiba tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.


"Ha... ha... ha.... Dari wajahmu aku sudah bisa menebak, kalau kamu tidak akan pernah mau memiliki pendamping hidup seperti aku. Tapi kamu jangan khawatir karena aku hanya bercanda mengatakan itu." ucap Tiara yang saat ini masih terus saja tertawa melihat ekspresi wajah sahabatnya itu yang menurutnya sangat imut dan lucu.


"????...."


"Kamu bukannya waras ketika sadar dari tidur panjang mu, otak kamu malah bertambah nggak beres." ucap Bara seraya menyentil kening Tiara dengan lembut.


...****************...


...TERIMAKASIH 🙏...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2