
Melihat koper - koper besar yang sudah tersusun rapi di ruang tamu membuat Ibu dan Anak itu bertanya - tanya.
"Pah koper siapa ini?" tanya Siska penasaran.
Tanpa menoleh, "Ini koper kita."
"Memangnya kita mau kemana?"
"Kita harus meninggalkan rumah ini untuk membayar seluruh kerugian yang di derita kantor dan untuk menggajih para karyawan yang di PHK dan semua itu karena ulah Mama kamu."
Mereka pun saling berpandangan, "Pah kenapa kartu kredit Mama nggak bisa di gunakan?" ucap sang istri yang kini berjalan ke arah sang suami.
"Aku bekukan." ucap sang suami dengan santainya.
Sang istripun kini duduk di sofa yang ada di depan sang suami, "Papa tau ... karena Papa bekukan Mama di ejek sama mereka yang beranggapan Mama orang miskin dan tak punya uang." ucap sang istri menjelaskan kejadian tadi di restoran. Begitu pula dengam Siska.
"Sudah Papa tidak ingin mendengarkan apa pun dari kalian. Sekarang ambil masing - masing barang kita dan mari segera meninggalkan rumah ini!"
"Pah apa tidak ada jalan lain untuk mempertahankan rumah ini? Kita mau tinggal di mana?" ucap Siska.
"Ini semua gara - gara mama kamu kita harus menderita seperti ini."
Sang istripun ngotot, "Kenapa nyalahin Mama Pah, yang patut Papa salahkan si Dinda bukan mama."
"Iya ... andai kata mulut kamu bisa di ajak kompromi dan tidak sembarang bicara mungkin ini tidak akan terjadi pada kita."
Namun yang di ajak bicara sama sekali tidak mengerti dengan ucapan sang suami dan tetap mempersalahkan Dinda.
__ADS_1
Sambil membuang nafas secara kasar, "Ya sudah lah mari kita cari rumah kontrakan di sekitar sini dan kita akan membuka usaha kecil - kecilan, Papa punya tabungan sedikit." ucap sang Ayah kemudian berdiri dan berjalan kearah koper - koper besar itu.
Kini mereka sudah tiba di kontrakan yang hanya memiliki dua kamar.
"Papa serius ini rumah baru kita?" ucap Siska tak percaya dan mengedarkan seluruh pandangannya kesekeliling ruangan.
Sang Ibu pun turut menimpali, "Nggak salah nih Pah? Apa yang akan Mama katakan kepada teman - teman Mama jika mereka tau kalau Mama sudah miskin dan tak memiliki apa - apa. Mereka akan meninggalkan Mama dan tak akan ada satu dari mereka yang mau dekat dengan Mama."
Sambil bertolak pinggang, "Teman di mana teman kesusahan akan selalu ada bersamanya dan memberikan dukungan dan menemaninya di saat terjatuh itulah yang di sebut teman. Bukan teman ketika kita jaya akan datang nempel dan ketika kita berada di titik terendah mereka akan menjauh meninggalkan kita begitu saja."
"Tapi pah..."
"Tidak ada tapi - tapian silahkan rapikan barang kalian di dalam kamar dan mulai sekarang apa - apa harus kita kerjakan sendiri tanpa mengandalkan pembantu."
"What..." ucap Siska dan sang Ibu bersamaan.
Namun Pak Gunawan tak menggubris ucapan mereka.
Di tempat yang lain, keadaan Nabila belum terlalu membaik bahkan bisa di katakan semakin memburuk dan sudah menghampiri seperti orang gila.
"Adrian berbuatlah sesuatu untuk Nabila. Mama nggak tega melihat dia terus - terusan seperti ini."
"Apa harus kita bawa kerumah sakit jiwa untuk mendapatkan perawatan lebih baik dan maksimal?"
"Mungkin itulah yang lebih baik untuknya saat ini."
"Baiklah saat ini juga kita akan membawanya kesana."
__ADS_1
Kini mereka telah tiba di rumah sakit jiwa. Dan Nabila pun sudah mendapatkan perawatan.
"Pak jika istri anda mau melawannya pasti dia akan cepat sembuh. Karena istri anda ini hanya mengalami gangguan susana hati ( mood ), seperti gangguan bipolar dan depresi. Dan dukungan keluarga yang lebih penting dari pada pengobatan dokter. Anda yang sabar ya Pak jika dia bisa melawaannya pasti dia tidak akan berlama - lama disini." ucap dokter wanita itu kemudian berlalu pergi.
Adrian pun berjalan kearah pembaringan sang istri, kemudian duduk di sana dan memegang tangan sang istri hingga mengecupnya berkali - kali, "Bunda cepat bangun dan sehat ya! Maafkan Ayah yang tidak becus menjaga kalian bertiga. Tapi Ayah janji setelah Bunda keluar dari sini Ayah siap jadi boodyguard Bunda di manapun Bunda berada akan ada ayah di sampingmu berdiri. Cepat sehat ya cinta," ucap Adrian yang kini mengelus kepala sang istri lalu mengecup keningnya.
Di alam bawah sadar.
Di taman itu Nabila sedang duduk termenung dan melamun hingga teriakan dua putri kecil - kecil membuyarkan lamunannya. Nabila pun menoleh kemudian tersenyum takla melihat kedua putri kecilnya berjalan mendekat ke arahnya.
"Bunda kenapa menangis," ucap Kirana sambil mengusap air mata sang Bunda ketika sudah tiba di hadapannya.
"Bunda tidak menangis sayang. Mata bunda kemasukan debu." ucap Nabila berbohong.
Nabila pun menatap wanita mungil yang kini berdiri di samping Kirana. "Sayang siapa dia?"
Kirana pun menoleh kesampingnya lalu menatap wajah Bunda nya, "Masa Bunda lupa. Dia kan adik Kirana?"
"Adik Kirana?"
"Masa Bunda lupa Kirana kan punya adik tapi gagal."
Nabila pun memeluk wanita mungil itu, "Maafkan Bunda sayang karena tidak bisa menjagamu dengan baik di dalam kandungan Bunda." Kemudian beralih memeluk Kirana. Setelah pelukan mereka terlerai, "Bunda segera bangun dan sadar ya! Jangan sedih dan sakit lagi. Jika Tuhan menginginkan kita pasti akan bertemu suatu hari nanti. Bunda harus janji sama Kirana kalau di saat Bunda sadar nanti Bunda sudah sehat dan di mana pun Bunda berada selalu ingat Kirana ya Bun," ucap Kirana seraya memeluk kembali Nabila lalu menciumnya. Mereka pun menghilang.
"Kirana ... Kirana ... Kirana...."
Nabila pun tersentak dari tidurnya dan menyuarakan nama Kirana lirih namun masih jelas di telinga Adrian.
__ADS_1
Note ; Yang menginkan Nabila bahagia kembali tunggu ya... karena Nabila pasti akan author beri kebahagiaan.🙏🏻🙏🏻🙏🏻