ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 24.


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan siang penuh dengan drama, Kini mereka sedang berada di taman belakang. "Sekarang kita lihat ibu bakal buat apa pada Nabila," bisik sang Istri ditelinga sang suami.


Kini Nyonya Luciana duduk di kursi kayu yang muat untuk duduk diri sendiri. Sambil menatap wanita yang kini berdiri di hadapannya. Ibarat seorang guru yang akan menghukum muridnya akibat berbuat nakal.


Setelah cukup lama terdiam dan hanya mata yang saling pandang memandang kini Nyonya Luciana buka suara, "Coba kamu perhatikan halaman ini," seraya menunjuk halaman sekitar yang di tumbuhi rumput liar dan tanaman bunga yang sudah tidak beraturan lagi bentuknya.


Aku pun hanya bisa mengikuti arah pandang jari telunjuk Nyonya Luciana, "Ya Nyonya saya melihatnya."


Nyonya Luciana pun menatap ku lalu kemudian tatapan mata melirik kesamping, Kemudian kembali menatap ku, "Kamu tau apa yang akan kamu lakukan?"


"Tau Nyonya."


"Kenapa sedari tadi saya nyuruh kamu ini dan itu kamu mau aja tanpa melakukan protes dan melawan?"


Aku pun mengangkat wajahku, "Maaf Nyonya, Nabila hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk Nyonya, lagi pula Nabila melakukan ini semua dengan senang hati dan untuk apa juga Nabila harus protes bukan kah ini pekerjaan yang menyenangkan dan pekerjaan ini termasuk pekerjaan sehari - hari Nabila di rumah. Jadi, tidak ada masalah untuk semua nya," ucap ku jujur.


"Hmmm ... jadi begitu."


"Iya Nyonya. Jadi berhentilah untuk bertanya karena pekerjaan ini bukan lah apa - apa buatku."


Bunda Irene yang menyaksikan itu ada rasa Iba di hatinya. "Kasihan wanita seusianya harus memikul beban yang sangat berat." gumam Bunda Irene dalam hati.

__ADS_1


Nyonya Luciana pun mangguk - mangguk, "Bagus lah kalau begitu. Sekarang kamu sudah tau kan apa tugas mu selanjutnya?"


"Tau Nyonya."


"Kerjakan."


Aku pun memulai aktifitasku dengan merumput terlebih dahulu, merapikan bungan yang sudah tak beraturan, sambil sesekali menyeka keringat ku yang mulai bercucuran.


Ayah Bima pun berjalan kearah sang Ibu kemudian jongkok di samping dimana sang Ibu sedang duduk.


"Bu ... apa ibu tidak kasihan dengan Nabila? Coba Ibu lihat dia sudah basah dan bermandi keringat," ucap sang Anak seraya memegang tangan sang Ibu.


Sang Ibu pun menatap ke arah ke arah sang Anak, "Ibu tidak perduli. Sekarang kembali keposisimu semula sebelum ibu menelpon notaris ibu agar seluruh aset kekayaanmu di tarik dan di kembalikan ke Ibu."


Setelah Bima kembali ke posisi semula sambil berbisik di telinga sang Istri, "Sayang ... coba dong kamu yang bicara sama Ibu! Barang kali dia mau mendengarkan jika kamu yang berbicara."


"Kali ini Bunda tidak mau ikut campur, Bunda tidak ingin menjadi buronan Ibu."


Semua diam dan hanya bisa menerima nasip.


Saat semua sibuk dengan pemikirannya masing - masing, tiba - tiba, "Tut ... tut ... tut ...." Bunyi handphone Ghea.

__ADS_1


Ghea pun segera merespon panggilan itu dengan meminta ijin kepada Bunda Irene dan Tuan Adam, kemudian menjauh dari mereka.


"Hallo Tuan ada apa?" tanya Ghea dari seberang telepon.


"Apa kamu ada di rumah sekarang?" tanya Tuan Adam dari seberang telepon.


"Iya Tuan, Ghea sekarang ada di rumah."


"Apakah ada sesuatu yang terjadi di rumah?"


"Tuan, nanti Ghea ceritakan. Saya tutup dulu ya teleponnya."


Sambungan telepon pun putus.


...❤❤❤...


...Terima kasih untuk yang sudah mampir memberikan like dan komentar, dan terima kasih untuk yang sudah mampir mode diam. Maaf tidak bisa membalas komentar2 kalian satu persatu. untuk yang promo silahkan promo tapi sebelum itu like karya author dulu ya. Dan nantikan kunjungan ku di karya keren anda semuanya....


...Terima kasih, semangat dan mari saling mendukung....


...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...

__ADS_1


...❤❤❤...


__ADS_2