
Kini Nabila dan Bunda Irene sudah berada di dalam mobil dan sudah siap melaju kejalan raya.
Di dalam mobil tidak ada percakapan di antara mereka. Pemikiran Nabila menerawang jauh dan masih mengingat dengan jelas kata - kata sang dokter.
Sekarang apa yang akan dia lakukan. Dia membayangkan satu persatu wajah orang - orang yang selama ini menyayanginya.
Nenek, Ayah, dan Bunda. Lalu bagaimana dengan suaminya?? Pasti akan kecewa sekali ketika tahu akan kenyataan wanita pilihannya tak bisa memberinya keturunan.
Dia kini merasa sebagi wanita yang tak sempurna, kenapa dia harus memiliki penyakit seperti ini. Satu persatu kini air matanya berguguran dan membasahi pipinya, kejadian - kejadian yang menyeramkan pun kini bermain - main di pundaknya. Secara refleks dia pun berucap "Tidak." lirih namun masih jelas terdengar oleh Bunda Irene.
Bunda Irene yang mendengar itupun terkejut dan menoleh ke arah Nabila, kemudian di tenangkan sang menantu, "Kamu kenapa sayang? Sudah tidak usah kamu fikirkan ucapan sang dokter, toh dokter bilang kamu bisa saja hamil walau hanya berpeluang 5 bahkan 10 %. Jadi, harapan Bunda manfaatkan 5 atau 10 % untuk dapat hamil."
Dengan masih meneteskan air mata, "Bun, apa yang harus Nabila katakan pada Nenek, Ayah, dan Adam? Alasan apa yang harus Nabila katakan kepada mereka? Terutama Nenek. Apa yang harus Nabila katakan kepada Nenek? Nenek pasti kecewa pada Nabila. Apa lagi Nenek menaruh harapan besar pada Nabila dan Adam agar memberikan segera penerus."
Bunda Irene pun memeluk sang menantu yang benar - benar sedang rapuh dan membutuhkan sandaran untuk berkeluh kesah, "Sudah sayang sabar jangan menangis lagi hapus air matamu, maanfaatkan sebaik mungkin peluang 5 % itu atau kamu bisa memilih pilihan kedua, yaitu bayi tabung."
Mereka pun saling melepas pelukan, dan Bunda Irene pun menghapus air mata sang menantu, "Bayi tabung?" ulang Nabila.
"Iya sayang bayi tabung. Kamu bisa ikut program bayi tabung."
__ADS_1
Sedikit kecerahan terpancar di wajah Nabila, "Ajak nanti Adam kerumah sakit untuk ikut memprogram bayi tabung agar kamu bisa segera hamil dan memberi kami segera cucu yang banyak."
Nabila hanya mengangguk sebagai jawabannya. Mereka pun kembali berpelukan...
🍀🍀🍀🍀
Di sebuah cafe Arumi dan Tommy sedang bersantai sambil menikmati menu andalan yang ada di cafe tersebut. Tidak ada obrolan di antara mereka hanya mata yang saling tatap menatap hingga akhirnya saling membuang muka.
"Kamu makin cantik dan seksi, semenjak kita berpisah di tiga bulan yang lalu rasa - rasanya kamu banyak berubah," ucap Tommy seraya menatap dengan lekat ke arah Arumi.
Dengan melipat kedua tangannya didada, dan menatap males kearah Tommy, "Kalau kamu mengajak aku kesini hanya untuk mendengarkan gombalan mu itu, lebih baik aku pulang. Kamu hanya membuang waktu ku dengan menahan aku disini." ucap Arumi yang kini sudah berdiri dan meraih tasnya yang tergeletak di atas kursi di samping tempat dia duduk.
Arumi pun menghempaskan dengan kasar tangan sang mantan kekasih, "Lepaskan tanganku. Aku tidak ingin berurusan denganmu lagi dan harus kamu ingat di antara kita berdua sudah tidak ada hubungan apa - apa," ucap Arumi.
"Duduk," ucap Tommy memerintah sambil mendudukan kembali bokongnya kekursi semula begitu pula dengan Arumi.
"To the poin."
"Baiklah, aku langsung saja dan ucapanku tidak akan kuulang. Aku hanya akan berucap cukup satu kali saja," ucap Tommy.
__ADS_1
"Katakanlah," ucap Arumi sambil meraih jus melonnya lalu kemudian menyeruputnya.
Tanpa basa basi, "Aku ingin kita balikan dan melanjutkan hubungan yang sempat kandas. Aku serius ingin melamar kamu dan ingin menikahi kamu dan menjadikan mu ratu dalam hidupku, menjadi ibu untuk anak - anak kita kelak."
Kata - kata itu sukses membuat Arumi tersedak dan terbatuk - batuk dan minuman yang sudah masuk kemulutnya habis keluar semua.
"Uhuk ... Uhuk...."
Tommy pun panik dan segera berdiri lalu menolongnya, "Kamu kenapa? Apa kah kamu baik - baik saja." tanya Tommy dengan penuh penyesalan dan berusaha mengurut tengkuknya.
Wajah Arumi kini memerah dan air matapun kini ikut keluar dari pelupuk matanya, dan membuat Tommy semakin bertambah panik dan menyesal.
"Apa perlu kita kedokter?"
Arumi hanya menaikan tangannya tanda dia baik - baik saja.
...🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎...
...TERIMA KASIH...
__ADS_1
...🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎...