ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 143. CLBK 7.


__ADS_3

Kini Arumi dan Varo sudah tiba di rumah dalam keadaan yang sangat berantakan. Sang Kakak yang kebetulan sudah berada di rumah dan sedang berdiri di hadapan Arumi dan Varo hanya bisa memperhatikan keadaan sang Adik dan ponakan mulai dari kaki dan kepala, sambil berjalan mondar mandir layaknya pak guru yang siap menghukum siswa nya yang terlambat datang bersekolah.


Sambil memperhatikan jam tangan yang ada di pergelangan tangannya, "Ini sudah jam berapa? Dan kalian dari mana saja?


"Kakak ceritanya nanti saja ya, Arumi capek ingin istirahat." ucap Arumi seraya berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari sang Kakak.


Sang Kakak hanya bisa geleng - geleng kepala melihat kepergian sang Adik. Kemudian dirinya sendiri pun berlalu pergi menuju kamarnya.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


"Bunda, Ayah...." ucap si kembar bersamaan tatkala melihat sang Bunda dan sang Ayah berjalan masuk kedalam rumah.


Sambil berjongkok menyambut kedua putra putri mereka, "Princes dan pangeran Ayah," ucap Adrian seraya memeluk kedua putra putrinya dan menghujaninya dengan ciuman - ciuman. Kemudian beralih memeluk sang Bunda, "Bunda, Kirana kangen," ucap sang putri seraya memeluk dan mencium sang Bunda.


"Chandra juga kangen sama Bunda."


Mereka pun berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan hingga kelantai atas.


Kini mereka sudah berada di kamar masing - masing.


Di kamar


Sambil mendudukan dirinya di kursi meja rias, Nabila pun mulai melakukan aktivitasnya yaitu membersihkan wajahnya setelah seharian beraktivitas di luar. Adrian hanya bisa senyum - senyum lalu kemudian berjalan mendekat dan memegang pundak sang istri, "Hari ini kamu terlihat sangat lelah, bagaimana kalau di akhir pekan ini kita pergi berlibur?"


Sambil tetap pada aktivitasnya, "Kemana?"


"Kamu maunya kemana?"


"Di rumah saja."


"Mana mungkin bisa begitu."


"Bisa lah."


"Ayolah cinta ... kita pergi berlibur minggu ini mengajak anak - anak melihat suasana luar, mengajak anak - anak melihat pemandangan alam, atau apa gitu."


"Iya tapi kemana?"


"Kepantai yang ada di depan rumah kita, bagaimana?"


"Tidak begitu buruk."


"Perlengkapannya sudah ada di gudang, di saja ada tenda, dan lain sebagainya. Ya sudah aku mau mandi dulu," ucap Adrian kemudian melangkahkan kakinya pergi menuju kamar mandi dan menghilang di balik pintu kamar mandi.


Acara bersih - bersih wajah kini sudah usai. Nabila pun segera berdiri dan berjalan keluar kamar mencari keberadaan si kembar. Setelah berjalan kesana kemari mencari keberadaan si kembar akhirnya Nabila pun menemukannya. Si kembar bersama sang Nenek kini berada di halaman belakang rumah sedang bermain tangkap bola.

__ADS_1


Nabila yang melihat itu teramat sangat bersyukur karena telah memiliki mertua yang baik seperti Mama Yulia dan mau menerima segala kelebihan dan kekurangan Nabila, serta menyayangi si kembar tanpa memandang status Nabila sebelumnya.


Saat sedang asyik main bola, bola nya pun terguling tepat di kaki Nabila. Nabila pun berjongkok untuk mengambil bola itu. Chandra pun berjalan mendekat ke arah sang Bunda, meminta dan memohon agar bolanya di kembalikan.


"Bunda cantik, bola Chandra di balikin dong!"


Sambil menatap wajah Chandra lalu beralih menatap bolanya, "Abang mau bola ini?"


Dengan mengangguk, "Iya Bunda cantik, Abang mau bola itu."


"Ada syaratnya."


"Apa itu Bunda cantik?"


Sambil meletakkan jarinya di pipi, "Cium dulu pipi Bunda! Baru bola ini Bunda kembalilan sama Ababg bagaimana?"


Chandra pun mulai mencium pipi kanan dan kiri sang Bunda, "Ummmmmmmah .... ummmmmahhhhh .... sudah Bunda. Sini bola Chandra!"


Nabila pun menyerahkan bola itu kepada anak pertamanya itu. "Silahkan Abang mainnya di lanjut, adek jangan di pukul ya dan Nenek jangan sampai kelelahan. Bunda kebelakang dulu mau memasak buat makan malam." setelah berucap seperti itu Nabila pun melangkah pergi menuju dapur.


Saat sedang berjalan menuju dapur Adrian pun turun dari lantai atas dalam keadaan yang sudah fresh dengan baju santainya.


"Kamu mau kemana?" tanya Adrian.


"Aku mau kedapur memasak makan malam."


Mereka pun berjalan beriringan menuju dapur. Kini mereka sudah tiba di dapur dan mulai mengeluarkan bahan - bahan yang ada di kulkas untuk segera di eksekusi.


"Kamu mau masaka apa?" tanya Adrian.


"Kita menyesuaikan bahan yang ada di kulkas. Disini ada bayam, wortel, tomat, cabe, dan ikan. jadi kita masak sayur bening, ikan goreng dan sambal mentah. Bagaimana?"


"Terserah kamu saja. Apa pun yang kamu masak aku pasti memakannya."


"Walau aku kasih racun sekalipun, apa kamu masih tetap akan memakannya?"


"Kalau itu yang bisa membuat mu bahagia."


Sambil berjalan kearah meja kompor, "Aku hanya bercanda, Ha ... ha ... ha ..." 😂😂😂


Kini mereka sudah sibuk dengan jatah pekerjaan masing - masing. Adrian membersihkan ikan kemudian melumurinya dengan beberapa rempah - rempah lalu kemudian didiamkannya hingga beberapa menit sampai bumbunya meresap kedalam daging ikan. Sementara Nabila sendiri kini sudah memasak sayur sambil mengulek sambal.


Sementara Mama Yulia hanya bisa tersenyum menyaksikan sang Anak dan menantu dari ambang pintu dapur bersama kedua cucu - cucunya.


"Sayang kita kekamar yuk mandi, Bunda dan Ayah lagi sibuk!" ajak sang Nenek kemudian berlalu pergi dari sana menuju lantai dua.

__ADS_1


...🍒🍒🍒🍒🍒...


"Mah pokoknya Tommy akan menunggu mereka lagi di tempat tadi siang Tommy bertemu."


"Sayang ngapain sih masih mikirkan Arumi? Kamu harus bisa move on dari dirinya. Belum tentu juga anak laki - laki bersamanya anak kamu, cucu Nenek."


"Sebelum Tommy membuktikannya, Tommy tidak akan menyerah Mah."


"Ya sudah terserah kamu saja."


"Maaf Nyah, makan malam sudah terhidangkan di atas meja makan." panggilan dari Art mereka membuat mereka menghentikan percakapan malam mereka dan mereka pun segera berdiri dan berjalan menuju ruang makan.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


Di tempat yang lain.


Akbar yang melihat raut wajah sang adik yang tidak biasa - biasa saja sejak pulang dari tadi sore dari menjemput sang anak di seekolah membuat sang Kakak bertanya - tanya dalam hati. Ada apa dengan nya???


"Rum, kamu kenapa sih kok dari tadi wajah kamu Kakak perhatikan sepertinya kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Ada apa? Apa kamu ada masalah?"


Arumipun membuang mafas secara kasar dan meletakkan sendok dan garpunya keatas piring kemudian menoleh ke arah sang anak, "Varo makannya sudah selesaikan?"


"Sudah Ma."


"Varo duluan kekamar, nanti Mama menyusul."


Varo pun berdiri kemudian berlalu pergi dari hadapan orang tuanya dan Pamannya.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Akbar yang masih penasaran dengan apa yang terjadi dengan sang Adik hari ini.


Sambil menatap wajah sang Kakak, "Dia kembali."


Sambil mengerutkan kening, " Dia siapa?"


"Tommy."


"Kalau dia kembali lalu masalahnya di mana? Bukankah ini hal yang bagus untuk kalian berdua."


"Masalahnya adalah Arumi tidak ingin jika Tommy sampai tau kalau Varo itu adalah anaknya. Arumi tidak mau kalau sampai Tommy ambil Varo dari sisi Arumi. Kakak bisa kan membayangkan bagaimana hancurnya Arumi tanpa Varo di sisi Arumi." kini dengan mata berkaca - kaca.


"Arumi, berdamailah dengan keadaan dan mulailah hidup yang baru. lupakan kisah kelam kalian berdua dan belajarlah memaafkan dia, walau bagaimana pun juga kamu berusaha untuk menjauhkan dia dari Varo tapi ikatan batin Ayah dan Anak tetap tidak bisa kamu pisahkan walaupun kamu ada di ujung dunia dan dia ada di ujung dunia tetap di dalam tubub Varo mengalir darah Tommy Pratama dan itu tidak bisa kamu pungkiri. Kamu jangan egois beri Tommy kesempatan kedua agar dia bisa menebus kesalahannya di 4 tahun yang lalu dengan cara menikahimu, menjagamu dengan segenap jiwa dan raganya. Apa lagi ada Varo yang butuh keluarga utuh dan kasih sayang dari kedua orang tuanya."


"Nanti Arumi pikirkan lagi." Arumi pun berdiri dan meninggalkan sang Kakak sendirian yang masih betah duduk berlama - lama sendirian di ruang makan.


...🍦🍦🍦🍦🍦🍦...

__ADS_1


...TERIMA KASIH...


...🍦🍦🍦🍦🍦🍦...


__ADS_2