ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 72.


__ADS_3

...Beberapa hari kemudian....


Sejak kejadian itu Arumi lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar, menangis, menangis dan menangis. Nampak penampilannya kini tak terawat dan tak karuan mengalahkan penampilan orang gila yang ada di emperan kota. Kamar yang semula rapi, barang - barang tertata sesuai pada tempatnya kini bagaikan kapal yang karam di tengah lautan dan siap menunggu untuk tenggelam.


Kini Arumi duduk termenung di atas tempat tidurnya dengan tatapan sayu dan kosong menatap lurus ke luar jendela yang kala mana sedang turun hujan.


"Untukmu ketahuilah bahwa aku selalu setia menunggumu, dengan secercah harap penantian. Namun jangan harap bahwa rasa ini telah berubah, perasaan ini masih sama dan aku akan menunggumu. Kunikmati dalam alunan rindu, karena hasrat kecilku berbisik, bahwa ini tidak akan pernah berakhir dan aku akan selalu menunggu itu."


Bu Yana yang menyaksikan sang putri dari balik pintu kamar merasa iba dan kasihan dengan nasip tragis yang sedang menimpa putrinya itu.


Bu Yana pun membuka pintu kamar Arumi kemudian masuk kedalam dan duduk di samping sang anak, ada rasa menyesal di hati sang Ibu karena ide konyol yang mereka lakukan kini merambat kemana - kemana dan kini dia harus menyaksikan putri kesayangannya hancur sehancur hancurnya.


Dilihatnya sang anak masih setia menitikkan air mata walau sudah berkali - kali di sapu dengan punggung tangannya agar air matanya tak berhenti untuk turun tapi air mata tetap saja enggan untuk berhenti.

__ADS_1


Bu Yana pun mengusap punggung tangan sang Anak, "Sayang, maafkan Ibu ini semua salah Ibu."


Namun, sang Anak tetap diam tak merespon kata - kata sang Ibu.


"Sayang katakan pada Ibu, apa yang harus Ibu lakukan agar anak Ibu ini kembali ceria seperti kemarin - kemarin."


Namun hasil tetap sama tak ada respon dari sang Anak, sang Ibu pun menghela nafas panjang, "Hufffffffff ... ya sudah lah jika kamu masih belum mau cerita sama Ibu tidak apa - apa Ibu tidak akan memaksa, ibu akan menunggu kesiapan mu untuk bercerita." ucap sang Ibu seraya berdiri dan siap untuk melangkah keluar dari dalam kamar sang Anak, Tapi belum jauh melangkah, "Bu...." sang Ibu pun menoleh, "Ya ada apa?" kemudian kembali duduk di samping sang Anak.


Dengan air mata yang masih menetes dan berusaha tegar, tanpa menoleh kearah sang Ibu, "Bu Arumi sudah fikirkan, Arumi akan pergi untuk sementara waktu menenangkan diri dan menjernihkan kembali fikiran Arumi yang kacau, katakanlah Arumi pergi untuk inropeksi diri dan mencari jati diri Arumi yang sebenarnya dan kemauan Arumi sebenarnya seperti apa."


Sambil mengusap kepala sang Anak, "Baiklah sayang jika itu sudah menjadi keputusanmu, ibu hanya bisa mendukung dan mendo,akan mu semoga ini keputusan yang terbaik untukmu saat ini. Dan jika kamu sudah merenungi semuanya dan sudah menemukan jawabannya segeralah kembali kerumah ini. Ibu akan sangat merindukan mu." sambil memeluk sang Anak.


"Ibu jangan menangis dan jangan bersedih Rumi janji pergi tidak akan lama."

__ADS_1


"Rumi."


"Ibu."


Ini lah sisi lain dari Arumi bagaimana pun egoisnya dia, namanya wanita tetaplah wanita yang memiliki perasaan dan bila di sakiti pasti akan merasakan luka, dan saat ini dia sedang menjadi wanita yang rapuh yang sedang di uji perjalanan cintanya.


...🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎...


🍎Sanggupkah Arumi menemukan jati dirinya kembali ?


🍎Dan jati diri bagaimana yang diinginkan Arumi setelah kejadian ini ? Apakah dia akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi atau Arumi akan tetap menjadi Arumi yang kemarin ?


🍎Simak Up nya in sya Allah nanti malam Jati diri seperti apa yang akan author berikan khusus untuk Arumi? 🍎

__ADS_1


...Semangat up dan mari saling mendukung...


__ADS_2