
Kini Arumi sudah berada di dalam mobil dan sudah siap melajukan mobilnya kejalan raya. Sesaat kemudian kini mobil Arumi sudah berada di jalan raya dan sudah membaur dengan tranfortasi lainnya.
Semantara di tempat lain Nabila dan Bunda Irene sudah siap dan sudah berada di dalam mobil. Hari ini mereka mau kerumah sakit dan mereka pergi bersama Pak Anas salah satu kepercayaan Nyonya Luciana.
Ada perasaan tak menentu yang kini di rasakan oleh Nabila. Semakin mobil bergerak menjauh semakin perasaannya tak menentu jikalau ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Keringat dingin pun kini membanjiri dahinya sementara Ac mobil dalam keadaan normal.
Bunda Irene yang mengamati perubahan sang menantu kini berusaha menyalurkan energi positif agar sang menantu tetap berfikir positif dan apa pun keputusan dokter nantinya dia tetap harus kuat dan tegar.
Sambil mengusap punggung tangan sang menantu, dan tangan sang menantu di bawa kepangkuannya, "Sayang kamu pasti gugup ya?"
"Iya Bun, Nabila gugup, Nabila takut, Nabila takut jika mengetahui kenyataannya...."
"Stop sayang ... stop ... kamu harus yakin dan percaya, kalau semua akan baik - baik saja."
Dengan mengembus nafas kasar, "Hufffff... Ya Bun, terima kasih atas dukungannya."
Setelah berucap seperti itu, kembali tercipta keheningan di antara mereka, hingga akhirnya Nabila kembali bertanya ke pada sang Bunda untuk memecah keheningan itu, "Hmmm ... Bund, apa yang akan Bunda lakukan dan apa yang akan terjadi dengan Nabila jika nanti kita sama - sama ketahui jika Nabila tidak bisa memberi kalian keturunan?" kini dengan menaruh harapan besar kepada keluarga Widjayakusuma supaya tidak menendang dirinya keluar dari rumah yang sudah dia tempati selama berbulan - bulan untuk berteduh bahkan sangat berharap besar agar posisinya sebagai menantu tidak tergeser bahkan terganti dengan menantu yang lainnya.
__ADS_1
Bunda Irene pun mencerna kata - kata sang menantu yang menurutnya teramat sangat dalam artinya, "Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi menantu Bunda dan selamanya akan menjadi menjadi menantu Bunda," Mereka pun berpelukan.
🍀🍀🍀🍀
Di tempat yang lain, Arumi sudah menyelesaikan ritual salonnya mulai dari kepala hingga ujung kaki. Dia pun bergegas meninggalkan salon itu dan segera kembali ke parkiran untuk kembali kemobilnya.
Sesaat kemudian kini dia sudah di mobil dan sudah melaju di jalan raya. Tujuanannya sekarang Arumi adalah kepusat perbelanjaan.
Tidak butuh waktu lama kini dia sudah masuk wilayah mall yang ada di kota itu. Dia pun segera memarkir mobilnya dan segera masuk kedalam mall tersebut.
Dia pun segera menuju ke rak dimana tas itu berada. Pada saat Arumi ingin menyentuh tas itu pada saat yang bersamaan pula ada tangan lain yang ikut memegang tas itu. Mereka pun saling bertatapan muka lalu kemudian sama - sama membuang muka ke lain arah.
Suasana hati Arumi yang sedang baik - baik saja kini berubah menjadi tidak baik - baik saja. Pasal nya orang yang sudah membuat hatinya terluka dan beberapa bulan terakhir berusaha untuk dia lupakan kenapa harus bertemu, disaat yang tak diinginkan. Hanya saling melirik sepintas lalu kemudian sama - sama membuang muka.
Ketika hendak pergi menjauh dari pria yang pernah menorehkan luka yang teramat sangat dalam, tiba - tiba pergelangan tangannya di pegang oleh Tommy.
"Tunggu! Kamu mau kemana? Boleh kah kita mengobrol sebentar setelah sekian lama kita tidak berjumpa bahkan sms dan telepon pun kamu sudah tidak pernah lagi melakukannya."
__ADS_1
Arumi pun menatap tangannya yang masih setia di pegang oleh Tommy, lalu kemudian memalingkan wajahnya kelain sedangkan mata kini sudah berkaca - kaca.
Sambil mengusap air matanya dengan tangan yang satunya, "Tidak ada yang perlu kita bicarakan dan tak ada yang perlu kita jelaskan. Aku tau aku salah tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya memutuskan aku disaat kamu belum mendengar penjelasanku."
Sambil tetap tersenyum dan berusaha tegar, Arumi pun menatap wajah sang mantan, "Lagi pula kamu sudah punya penggantiku kan," Sambil tersenyum kecut, "Apa kamu mau bicara denganku hanya ingin menertawakan aku yang belum dapat penggantimu hingga sampai saat ini. Haa ... iya? Apakah kamu mau menertawakan kebodohan apa yang sudah aku buat? Tertawalah sepuasmu, tertawalah," sambil tersenyum menahan rasa sesak yang ada di dalam dadanya.
Masih tetap memegang tangan Arumi, Tommy pun membawa Arumi kedalam pelukannya ( Pelukan menguatkan ya guys ketika seseorang sedang rapuh ) dan untungnya tempat mereka belanja toko khusus tamu VIV jadi drama apa yang sedang mereka mainkan sekarang hanya dirinya dan karyawan toko yang tau.
Sambil memukul - mukul dada Tommy dengan tangannya, "Kamu jahat, sangat jahat."
Tommy pun mengelus rambut mantan wanitanya itu serta memeluknya sangat erat seakan - akan tak ingin lepas, "Iya aku memang jahat sangat jahat maafkan aku telah menyakitimu."
...🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎...
...TERIMA KASIH...
...🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎...
__ADS_1