ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 167. CLBK 31


__ADS_3

๐Ÿ„


๐Ÿ„


๐Ÿ„


Sambil berjalan tergesah - gesah dan setengah berlari kecil agar segera dapat mencapai rumah Mama Dinda.


"Dinda ... Dinda ..." ucapnya setengah berteriak dan membuat kuping sakit bagi siapa saja yang mendengarnya.


Dari lantai atas nampaklah Mama Dinda sedang menuruni anak tangga dengan gaya anggun nan elegan๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


.


.


.


"Ada apa teriak - teriak? Begini kah cara orang terhormat bertamu kerumah orang? Masuk tanpa permisi seperti maling?"


Dengan memasang tampang sangar seolah - seolah membayangkan orang yang ada di hadapannya sekarang ini akan dia mangsa dan di telan hidup - hidup.


Dengan menunjuk muka Mama Dinda, "Apa yang sudah kamu lakukan?"


Dengan santainya Mama Dinda menepis jari pria yang kini berdiri di hadapannya, "Santai ... tidak usah pake otot. Kita bisa bicarakan ini dengan baik."


"Tidak usah berpura - pura sok baik dan manis di hadapanku. Cepat kembalikan semua yang sudah kamu ambil dari ku!"


Dengan tersenyum mengejek, "Apa yang harus saya kembalikan pada anda dan Apa yang sudah saya ambil takkan saya kembalikan lagi. Karena itu memang pantas kalian dapatkan. Masih untung hanya saham - saham yang saya tarik. Dan tidak membawa kasus ini kemeja hijau."


"Kamu mengancam saya?"


"Sudahlah saya tidak ada waktu untuk meladeni Anda. Pintu keluar ada di belakang anda berdiri." ucap Mama Dinda kemudian berlalu pergi.


"Kamu akan menyesal," ucapnya kemudian berlalu pergi dan membanting pintu sangat kuat.


"Aku tunggu kejutan dari kamu." ucap Mama Dinda dengan santainya.


...๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ...


Di tempat yang lain, Siska Cs telah bersiap untuk pulang.


"Ya sudah kalian duluan aja keparkiran gue mau bayar dulu di kasir!"


"Ok." ucap mereka serempak.


Di kasir Siska menyodorkan kartu kredit untuk membayar semua makanan yang mereka pesan. Dan pegawai itupun meneranya dan segera memprosesnya.


.

__ADS_1


.


.


Dengan tersenyum ramah, "Maaf Nona sudah tiga kali kartu kredit anda di coba namun selalu gagal dan di tolak.


Mata Siska pun membelalak, "Yang benar? coba ulang lagi!"


"Maaf Nona kami mencobanya sudah 3 kali tapi hasil tetap saja sama."


"Tunggu bentar!"


Siska pun membuka tasnya kembali berharap akan mendapatkan uang di sana tapi sayang beribu sayang tas ataupun dompetnya sama - sama kosong.


"Sial." ucapnya dalam hati.


Setelah lama terdim dan mencari cara agar dapat mendapatkan uang dengan cepat dia pun segera menghubungi Mamanya namun teleponnya selalu di tolak oleh sang Mama. Dia pun menelpon sang Ayah.


.


.


.


"Hallo."


"Tanya Mama kamu!" kemudian telepon pun terputus secara sepihak.


Melihat kegalauan yang di tunjukan oleh si pelanggan, kasir wanita itu pun kembali berbicara dengan secara kasar dan mengejek, "Eh ... Nona jangan sok - sok an mau jadi orang kaya, sosialita, dan mentraktir teman - teman kalau situ nggak punya uang. Tampang dan penampilan aja yang ok tapi dompet kosong."


Siska pun berjalan mendekat ke meja kasir, "Eh mbak jangan kan membayar tagihan makananku dan teman - temanku membeli mulut embermu pun aku sanggup." ucap Siska nyolot.


Kasir wanita itu pun tertawa meremehkan dan merendahkan, "Nggak usah ngaku - ngaku bisa membeli mulutku jika membayar tagihan makanan saja kamu belum sanggup membayarnya. Eh Nona besok atau lusa kalau nggak punya uang banyak lebih baik makan di pedagang kaki lima. Nggak usah sok - sok an mau makan di restoran mewah dan mentraktir teman - teman kalau kamu tidak punya modal."


Siska merasa meradang mendengar celoteh kasir wanita yang kini berdiri di hadapannya dan hanya meja pembatas antara mereka berdua. Dan kini pun mereka sudah menjadi bahan tertawaan dan bisik - bisik para pengunjung yang lain yang ada di sana.


"Sudah lah sebaiknya sekarang kamu pergi sebelum aku panggilkan kamu satpam untuk mengusirmu dari sini!" ucap kasir wanita itu lagi.


Sambil menunjuk wajah wanita itu, "Aku akan buat perhitungan sama kamu."


"Aku tunggu." ucap kasir itu.


Belum sempat Siska beranjak pergi, pemilik restoran itu pun datang karena sebelumnya si bos mendapatkan laporan dari salah satu karyawannya kalau di lantai bawah kasir dan pengunjung sedang adu mulut.


Tetap menjaga wibawanya di depan karyawan dan pengunjungnya, "Ada apa ini." ucapnya dengan tegas.


Siska dan yang lain pun menoleh keasal datangnya suara.


"Wow....." ucap Siska dalam hati saat melihat bos dari pemilik resto ini yang menurutnya sangat ganteng dan tentunya tajir di lihat dari setelan jass yang dia kenakan dan menatapnya tanpa mengedipkan mata.

__ADS_1


Bos muda itu pun berjalan mendekat dan mengabaikan tatapan mata Siska, "Apa yang terjadi?" ulang bos ganteng itu bertanya pada sang kasir.


"Wanita itu mempunyai tagihan makanan sebanyak 5 juta rupiah namun dia tidak mampu membayarnya."


Si bos pun menatap Siska mulai dari rambut hingga kaki, sambil melipat kedua tangannya di dada dan menyilangkan kedua kakinya lalu berdandar pada meja kasir, "Bagusnya kita apakan ya?" tanya dalam hati. Sementara Siska sendiri merasa risih dan salah tingkah dengan tatapan bos ganteng yang ada di hadannya sekarang. Setelah terdiam sejenak bos ganteng itupun membuka pembicaraan,


"5 juta itu belum setara dengan gajih karywan disini. Tapi tidak apa - apa deh untung kamu cantik ya jadi aku diskon. Silahkan bersihkan restoran ini setelah pengunjung sepi dan bersihkan piring - piring kotor yang ada di belakang. dengan begitu aku anggap masalah kita impas. Bagaimana?"


Siska pun membulatkan matanya tatkala mendengar penuturan si bos ganteng itu dan masih setia berdiri mematung dan seolah - olah tidak mendengar ucapan bos ganteng itu. Melihat wanita cantik itu tak bergeming pada tempatnya bos ganteng itu pun menggerak - mengerkkan tangannya di depan mata Siska, Siska pun tersadar dan tak mempunyai pilihan lain selain mengikuti aturan main si pemilik restoran.


"Dasar sial," ucap Siska dalam hati.


Sesaat kemudian Siska pun melaksanakan tugas yang di perintahkan oleh bos ganteng itu.


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


Di tempat yang lain, Nyonya Gunawan tak jauh beda nasipnya dengan sang Anak.


"Maaf Bu sudah berkali - kali saya coba tapi selalu di tolaknya."


"Eh kasir miskin jangan - jangan kamu iri melihat saldo di dalam kartu kredit saya makanya kamu mengatakan kalau kartu kredit saya kosong tak ada uangnya?"


Sambil menunduk sopan, "Tapi maaf Bu memang itulah kenyataannya."


Nyonya Gunawan pun segera mengeluarkan handphonenya dari dalam tas dan segera mencari nomor telepon sang suami.


.


.


.


"Pah, kenapa kartu kredit Mama tidak bisa di gunakan?"


"Jawabannya ada pada kamu." ucap sang suami kemudian menutup sambungan telepon secara sepihak.


.


.


.


Kini Nyonya Gunawan sudah berada di halaman rumahnya dan di jam yang bersamaan dia tiba, Siska pun juga telah tiba di rumahnya. Sambil memasang wajah cemberut dan sulit di artikan, Sang Mama pun bertanya, "Sis kamu kenapa? Kok pakaian kamu dan wajah kamu kotor dan sangat kusut seperti baju yang belum di setrika?"


...โคโคโคโคโค...


...TERIMA KASIH...


...โคโคโคโคโค...

__ADS_1


__ADS_2