ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 137. CLBK 1


__ADS_3

...4 Tahun kemudian...


Kini Alvaro sudah masuk sekolah TK dan Akbar kini sedang dalam tahap merintis karir di bidang kuliner dan harus bekerja siang dan malam demi menghidupi sang Adik dan ponakannya dan semuanya dia mulai dari awal. Walau pun sang adik kini di nyatakan sembuh oleh dokter yang merawatnya namun sang kakak belum mengijinkan sang adik untuk bekerja karena sang Adik dalam masa pemulihan.


"Kakak, Arumi itu bosan setiap hari hanya dirumah biar mengantar jemput Alvaro kesekolah Kakak juga tidak mengijinkan Arumi untuk melakukan itu. Kakak kali ini kakak harus mengijinkan Arumi untuk bekerja dan membantu kakak untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Kakak Arumi malu masa biar mau ini dan itu harus meminta juga uang sama kakak. Kakak aku mohon." ucap Arumi dengan menangkupkan kedua tangannya di dada seperti orang yang memelas.


Dengan berdecak kesal dan memegang kedua tangannya dipinggang, "Sekali tidak tetap tidak dan Jangan macam - macam," ucap Akbar seraya menaikkan satu jarinya dan menggerak - gerakkannya.


Dengan memonyongkan bibirnya, "Kakak boleh ya," ucap Arumi memohon sambil menangkup tangannya untuk kedua kalinya.


Sambil mengacak rambut sang adik, "Dek, kalau kamu sudah pulih total baru boleh bekerja untuk saat ini kamu bantu kakak aja dulu di retoran sambil kamu memasukkan lamaran di perusahaan yang ada di sekitar sini. Kayak nya disini ada tuh perusahaan yang cocok untuk kamu."


"Jadi kakak ngijinin Arumi untuk bekerja?"


Sambil mengangguk, "Iya deh kakak mengalah."

__ADS_1


Sambil memeluk sang kakak, "Makasih Kakak, Arumi sayang kakak."


"Kakak juga sayang Arumi."


Setelah terdiam beberapa saat, "Lalu bagaimana dengan Alvaro? Siapa yang akan menjemputnya di saat dia sudah pulang sekolah?" tanya sang Kakak.


"Kakak kan kita bisa gantian siapa yang tidak sibuk, berarti dia yang menjemput. Begitu pula sebaliknya."


"Mama."


"Iya ada apa sayang," ucap Arumi yang kini sudah berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan sang Anak.


"Ma tadi di sekolah Varo ada Pr, Mom suruh Varo gambar wajah Ayah, Ibu dan Varo. Teruaskan Varo tidak tau wajah Ayah Varo seperti apa karena selama ini Varo belum pernah melihat wajah Ayah. Kalau pun Varo tanya ke Mama tentang wajah Papa, Mama kan selalu bilang kalau Papa lagi berada di luar kota dan suatu saat nanti pasti Papa pasti pulang. Tapi kapan Mah? Papa kapan pulang?" ucap Varo yang kini dengan mata berkaca - kaca sambil mengalungkan tangannya di leher sang Mama.


Deg .... deg .... deg ....

__ADS_1


Seketika dada Arumi serasa di tusuk ribuan jarum yang siap mempora - porandakan hatinya. Sambil mengusap dengan lembut kepala sang Anak, "Sayang sabar ya... Varo bertahanlah sedikit lebih lama lagi. Suatu saat nanti pasti Papa pulang dan Varo akan tahu wajah Papa Varo seperti apa. Tapi, jika kamu penasaran dengan wajah Papa, tatap wajah Varo, wajah Varo sangat mirip dengan Papa. Matanya, hidungnya, alisnya, mulutnya, pokoknya semua yang ada di didiri Varo semua mirip dengan Papa." ucap Arumi sambil memenunjukkan bagian - bagian di atas di wajah sang Anak.


"Iya Mah tapi sampai kapan Varo akan menunggu? Mama alasannya selalu begitu. Varo juga mau seperti teman - teman Varo di antar dan di jemput saat akan bersekolah oleh kedua orang tua mereka." air mata yang sedari tadi hanya berkaca - kaca kini sudah nampak luruh membasahi pipi sang Anak.


Akbar pun turut mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh sang ponakan dan berusaha menenangkannya, seraya mengelus kepala sang ponakan, "Ponakan Paman yang tampan, sudah ya jangan menangis lagi. Kalau menangis nanti ganteng nya ilang. Kan masih ada paman yang bisa Varo anggap sebagai Ayah."


"Iya paman." ucap Varo sambil memeluk sang Paman.


Sambil mengacak rambut sang ponakan, "Pintar. Ya sudah ayo paman temani Varo menggbar. Biarkan wajah Ayah Varo ganti dengan wajah paman Akbar, Mama Arumi dan Varo."


Mereka pun melangkah pergi meninggalkan Arumi yang masih diam membisu menyaksikan nafas hidupnya menjauh lalu menghilang di balik pintu kamar sang anak yang terletak di lantai satu. Walaupun rumah yang dulu dengan yang sekarang tidak lah sama besarnya setidak nya masih bisa memberikan kenyamanan, ketentraman dan bisa berteduh dari terik matahari dan hujan.


...❤❤❤❤❤❤...


...TERIMA KASIH...

__ADS_1


...❤❤❤❤❤❤...


__ADS_2