ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 32.


__ADS_3

Hari ini acara lamaran untuk Nabila, setelah kesepakatan di malam itu. Kini di rumah Nabila sudah di dekorasi sedemikian rupa karena hari ini bukan hanya untuk acara lamaran melainkan sekaligus acara tukar cincin.


Di rumah Widjayakusuma beberapa mobil dan beberapa tetangga sekaligus beberapa orang kepercayaan Tuan Adam sudah bersiap - siap untuk berangkat menuju rumah Nabila.


Tidak lama kemudian rombongan Widjayakusuma pun tiba di halaman rumah Nabila. Mereka di sambut Antusias oleh keluarga besar Dharmawangsa.


Kini mereka sudah berada didalam rumah dan sudah meletakkan hantaran mereka di atas meja tepat di hadapan Ibu dan kedua kakak - kakak Nabila. Ibu dan Arumi yang melihat itu nampak sangat tergiur dan tanpa sadar langsung mengambil tanpa rasa malu di hadapan calon Ibu mertua anaknya dan para tamu undangan yang lainnya.


"Ibu ... Arumi mau ini," seraya mengambil salah satu tas limitid edition berwarna hitam. Sementara sang Ibu sendiri mengambil beberpa lembar pakaian yang ada di atas meja dan pada akhirnya mereka heboh sendiri tanpa memperhatikan beberapa pasang mata bertanya - bertanya ada apa dengan mereka dan ada mata yang diam mengumpatnya dalam hati.


"Dasar manusia tidak tau diri, tidak tau malu," ucap Nyonya Luciana dalam hati.


Sementara aku sendiri andai kata aku punya ilmu menghilang mungkin aku akan menggunakan ilmu ku untuk menghilang dari muka bumi untuk sesaat. Tidak ... tidak ... mungkin menghilang untuk selamanya akan sangat lelah dengan semua ini. Aku malu pada diriku sendiri dan aku malu melihat kelakuan ibu dan kakakku.


Akbar sediri hanya bisa menatap tak percaya dengan apa yang Ibu dan adiknya lakukan di depan calon ibu mertua adiknya.


"Ehem ... Ehem ...." suara deheman Tuan Bima membuyarkan mereka dan membawanya kembali kedunia nyata.


Salah tingkah, "Hmmm ... maaf Tuan saya cukup bahagia karena tidak lama lagi putriku akan menikah," ucap sang Ibu seraya meletakkan kembali baju - baju itu diiringi dengan Arumi yang juga melakukan hal yang sama.


Dengan nada tegas, "Jadi, bagaimana apa acara lamaran dan tukar cincinnya masih bisa di lanjutkan?" tanya Nyonya Luciana.


Dengan menahan malu dan tergagap, "Tentu ... tentu ... silahkan."


Acara lamaran sekaligus acara tukar cincin berjalan dengan sukses dan lancar walau sempat ada tontonan yang menjadikan para tamu berbisik - bisik tetangga di belakang keluarga inti. Kini mereka sudah menikmati hidangan yang disediakan oleh Tuan rumah, sementara aku dan Arumi masih berada di tempat semula.

__ADS_1


"Pokoknya aku tidak mau tau, barang yang ada disini semua milikku," ucap Arumi berbisik seraya memunguti barang - barang itu, sementara aku hanya bisa pasrah. Berdebat pun tidak ada gunanya karena tidak ada satu orang pun yang berada di pihakku kecuali Bik Asih.


Satu persatu tamu undangan, kerabat dan tetangga sudah pulang kerumah masing - masing, tinggal hanya keluarga inti saja lagi yang masih tertinggal.


Di taman belakang kini aku dan Ghea sedang duduk bercanda layaknya teman yang sangat akrab. Eitsss ... jangan salah ya guys memang kami teman kan hanya belum terlalu akrab 😂😂✌🏼✌🏼.


Disaat sedang asyik bercanda, deheman seorang pria membuyarkan kami dari asyiknya dunia yang kami ciptakan, "Ehem ... ehem ... boleh bergabung," ucap pria itu berjalan mendekat ke arah kami berdua. Ghea pun berdiri dan memberikan hormat pada Tuannya itu, "Nona saya permisi masuk kedalam dulu," ucap Ghea tersenyum kemudian melangkah pergi.


Setelah duduk hanya desiran angin menjadi teman kami berdua. Walau kadang - kadang tatapan mata kami bertemu, lalu sama - sama memalingkan muka. Canggung? Ya, gugup? Ya.


"Hmmm...." ucap kami bersamaan lalu tersenyum.


"Kamu duluan," ucap ku dan dia bersamaan lalu kemudian kembali tersenyum dan tertawa bersama.


"Aku mau bicara sama kamu," ucap Tuan Adam kemudian seraya menatapku.


"Anda mau bicara apa?"


"Saya cuman mau bilang kalau apa yang di lakukan Nenek Lucia kemarin - kemarin sama kamu, tolong ya jangan di masukan kedalam hati." ujar Tuan Adam dengan bahasa formalnya.


Aku pun menatap wajahnya lalu kemudian tersenyum, "Tidak masalah."


"Terima kasih."


"Hmm ... boleh tidak saya meminta sesuatu sama kamu?" ujar Tuan Adam.

__ADS_1


Seraya menganggukan kepala, "Boleh Tuan Anda perlu apa, nanti saya ambilkan di dalam."


"Saya tidak perlu makanan atau minuman atau yang lainnya."


"Lalu Anda perlu apa?"


Tuan Adampun mengeluarkan dari dalam saku celananya ponsel dan menyodorkannya padaku.


"Aku perlu nomor ponselmu biar saya bisa menghubungimu kapan saja."


Aku pun menatap ponsel itu lalu kemudian menatap wajah Tuan Adam dengan perasaan sedih, "Loh kamu kenapa? Kok wajahmu sedih?"


"Saya tidak apa - apa Tuan dan maaf saya tidak punya ponsel, ponsel saya sudah rusak."


Tuan Adam pun menarik kembali tangannya, "Oh maaf saya tidak tau. Besok pagi saya jemput kamu ya? Saya mau kamu menemaniku kesesuatu tempat."


Dengan wajah tersenyum dan menganggukan kepala," Baiklah."


...❤❤❤...


...Terima kasih untuk yang sudah mampir memberikan like dan komentar, dan terima kasih juga untuk like mode diam. Maaf komentar - komentar kalian tidak bisa di balas satu persatu. Untuk yang mau promo silahkan promo tapi no spam promo ya hp aye oleng pemirsa😂✌🏼. Tapi, sebelum itu like dulu karya aye ya, lalu tinggalkan pesan di kolom komentar nanti aye balik berkunjung ke karya kerena anda semuany. Terima kasih, semangat, mari saling mendukung dan tetap jaga kesehatan ya....


...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...


...❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2