
Di kamar kini Varo dan sang paman sedang duduk melantai beralaskan kasur rasfur dengan meja kecil di tengah - di tengah mereka.
Sambil beraktifitas ponakan dan paman itu pun saling mengobrol satu sama lain.
Sambil tetap menggambar, "Paman wajah Ayah Varo itu gimana sih paman?" tanya Varo.
Sambil terus memperhatikan tangan mungil sang ponakan menggambar, "Wajah Ayah Varo kan sudah Mama katakan tadi, kenapa Varo masih bertanya?"
"Varo ingin dengar dari paman!"
Sambil tersenyum, dan mengacak rambut sang ponakan, "Sayang Varo belajar aja dulu yang benar dan jika Varo sudah dewasa, kelak juga Varo akan mengerti."
********************
Di taman di halaman rumah pribadi dokter Adrian kini mereka sedang bercengkrama berlima sambil menikmati makan malam sambil bakar - bakar sate, sang mertua menyiapkan keperluan yang lain, sadangkan Adrian dan Nabila membakar sate sambil sesekali bercanda ria. Mama Yulia yang diam - diam memperhatikan interaksi keduanya sungguh sangat bersyukur dan Mama Yulia berdo,a dalam hati semoga Nabila tidak seperti Winda yang selingkuh di belakang Adrian di saat lagi sayang - sayang nya.
"Nenek, Nenek lagi liatin apa sih?" tanya candra yang kini kurang lebih sama usianya dengan Varo.
Dengan tergagap, "Ah ... Nenek senang dan bahagia melihat Bunda dan Ayah kalian akur seperti ini dan Nenek berharap agar Bunda dan Ayah kalian segera memberi Nenek cucu yang tak lain adalah adik - adik kalian." ucap sang Nenek sambil menatap wajah - wajah polos mereka berdua.
"Tapi kan Chandra sudah punya adik Kirana Nek, jadi Chandra tidak butuh lagi seorang adik."
Ucapan polos sang cucu mampu membuat Mama Yulia tertawa terbahak - bahak, "Ha ... ha ... ha ... Jadi Chandra nggak mau nambah adik nih? Nambah adik seru tau biar rumah tambah rame dan teman main Chandra menjadi bertambah."
Mendengar suara Mama Yulia tertawa membuat Nabila dan Adrian penasaran, dan mereka pun berjalan kearah mereka karena memang tugas bakar - bakar sate sudah selesai.
__ADS_1
"Apa yang Mama tertawakan?" tanya Adrian ketika sudah bergabung dengan mereka duduk melantai di atas tikar purut.
Sambil mengalihkan pandangan pada sate yang di letakkan di atas tikar, "Tidak ada apa - apa, hanya ingin lagi tertawa saja." seraya mencomot sate yang masih menggempulkan asap kemudian mengunyahnya secara perlahan - lahan.
Kini mereka sudah menikmati yang mereka hidangkan tanpa ada yang bersuara hanya dentingan sendok dan garpu yang menemani makan malam mereka.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Sambil bergelayut manja di lengan sang kekasih, "Sayang kapan kamu nikahin aku? Masa tunangan saja seperti nyicil rumah hingga bertahun - tahun. Aku mau kamu nikahi aku dalam waktu dekat ini. Titik." ucap nya sambil memalingkan muka.
Dengan menarik nafas dalam - dalam, kemudian membuangnya secara perlahan - lahan, "Sabar, tunggu aku bisa mencintaimu dan menerima mu sepenuh hatiku."
"Lalu apa maksud kamu melamar aku di depan orang tuaku sementara hingga saat ini kamu sendiri belum bisa menerima aku? Jangan macam - macam sama aku, aku bisa mengahancurkan karier mu dalam sekejab mata."
Sambil melepas gelayutan manja sang kekasih, Tommy pun berdiri dan berjalan ke arah jendela kantor, "Silahkan keluar dan tinggalkan aku seorang diri." ucap nya dingin tanpa menoleh ke arah sang kekasih.
"Aku tidak ngusir kamu tapi aku meminta kamu untuk pergi dari ruangan ku sekarang juga. Aku ingin sendiri."
Tanpa bicara lagi, Siska pun berdiri dan berjalan ke arah pintu kantor dengan menghentakkan kakinya sehingga bunyi highellnya nampak berbunyi nyaring kumudian pintu di buka lalu di tutup kembali dengan cara membantingnya. Namun Tommy sama sekali tidak terkejut karena itu sudah sering terjadi.
Sambil melipat kedua tangannya di dada dengan pandangan mata lurus kedepan kejadian 4 tahun yang lalu kini kembali terngiang - ngiang di benaknya.
"Arumi kamu di mana sekarang? Rumah dulu bukan kamu yang menempatinya dan alamat baru pun tidak kamu tinggalkan di sana. Bagaimana aku mencarimu? Dan anak kita apa kah kamu sempat melahirkannya atau tidak. Arumi maaf kan aku andai kata aku tidak begitu pengecut dan egois dan takut menghadapi kenyataan hidup mungkin sekarang aku, kamu dan anak kita akan hidup bersama dan bahagia." ucapnya dalam hati dan menghembuskan nafas secara kasar kemudian berbalik, lalu berjalan kemudian duduk di kursi kebesarannya.
Kini dia duduk di kursi kebesarannya dengan kepala menengadah kelangit - langit kantor sambil terus memikirkan sang mantan kekasih yang tega di tinggalnya begitu saja ketika sedang berbadan dua. Dan hanya kata maaf yang bisa saat ini dia ucapkan.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Pagi ini di kediaman keluarga Atmaja, seperti biasa sebagai seorang ibu, istri Nabila harus lebih awal bangun dari pada yang lainnya. Ketika selesai membersihkan diri, dia pun segera menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah, setelah selesai dia pun segera merapikannya kembali dan merapikan dirinya sendiri kemudian berjalan kearah jendela dan membuka gorden - gorden di sana agar matahari pagi dapat menyinari langsung kekamar mereka.
Kemudian membangunkan sang suami untuk segera sholat bersama ke dua buah hati mereka karena kebetulan si kembar malam tadi tidur bersama dengan Ayah dan Bundanya. Setelah itu Nabila pun menyiapkan pakaian dan perlengkapan kerja sang suami. setelah semua sudah disiapkan Nabila pun melangkahkan kakinya keluar kamar lalu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan buat mereka semuanya.
1 jam kemudian
Semua sarapan sudah tersaji di atas meja, Nabila pun memanggil, Ibu mertua, suami beserta kedua anak - anak nya untuk segera sarapan. Kini semua sudah duduk di kursi meja makan dan Nabila pun melayani sang suami dengan sangat cekatan lalu kemudian beralih melayani sang buah hatinya. Setelah semua nya di layani Nabila pun meminta ijin untuk berganti pakaian dari baju rumahan menjadi baju kantor karena hari ini dia berancana akan pergi kegaleri. Selang beberapa saat kini Nabila sudah bergabung dengan mereka di meja makan dan meniati sarapan mereka dengan khidmat tanpa ada yang bersuara.
Sesaat kemudian kini mereka sudah menyudahi sarapan mereka. Sambil mengusap - usap rambut anak laki - lakinya, "Sayang jangan nakal ya di rumah, nurut sama nenek jangan buat nenek kerepotan. Dan satu lagi jangan bertengkar dengan adik kamu, kalau sampai Bunda tau kalau kamu bertengkar dengannya jangan harap ada hadiah dari Bunda dan Ayah. Iya kan Yah," ucap Nabila seraya menatap wajah sang suami seolah - olah meminta persetujuan Ya.
Sambil mengangguk, "Benar apa kata Bunda mu."
"Iya Yah, Bun Chandra tidak akan nakal dan ganggu adik kirana."
"Pinter anak Bunda dan Ayah." ucap Nabila seraya mengecup kening sang anak.
"Oh ya Mah kalau begitu Nabila dan Adrian berangkat kerja dulu. Assalamualaikum," sambil berdiri dan meraih tangan sang Ibu mertua kemudian menciumnya begitu pula dengan Adrian melakukan hal yang sama dengan sang istri.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Di Amerika kini Adam sedang berjuang untuk sembuh demi sang buah hati yang sempat disia - siakan nya dulu. Walaupun sudah 4 tahun dia berjuang dan melawan penyakit itu sendirian dan belum menampakan hasil yang lebih memuaskan tapi niatnya sangatlah kuat semua semata - mata demi sang buah hati, kedua orang tuanya, dan nenek tercinta.
...❤❤❤❤❤❤...
__ADS_1
...TERIMA KASIH...
...❤❤❤❤❤❤...