ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 151.CLBK 15. Komentar positif kalian semangat ku Up.


__ADS_3

Setelah perdebatan sengit antara anak, menantu dan cucu, Nyonya Luciana pun melangkahkan kakinya pergi dan menuju kamarnya dengan membawa rasa hati kecewa yang teramat sangat mendalam. Selepas Mak lampir pergi seperti kata readers semua kembali diam dalam kesunyian dan sibuk dengan pemikiran masing - masing.


Kini si kembar sudah berpindah tangan. Si baby girl dalam gendongan Bunda Irene. Si baby boy dalam gendongan Adam.


"Ayah minta maaf ini semua di luar kehendak Ayah. Ayah juga tidak menyangka kalau Ibuku akan berbicara begitu sementara kalian ada disini." ucap Ayah Bima mengawali pembicaraan dan menyesali perbuatan Ibunya.


Dengan menyunggingkan senyum tulus, "Tidak apa Yah. Nabila paham dan mengerti dengan perasaan Nenek. Pasti Nenek kecewa berat dengan Nabila karena bukan nama Widjaya yang Nabila sematkan di belakang Nama si kembar."


Adrian pun turut menimpali, "Ayah yang memberikan Nama untuk si kembar itu Adrian jadi dalam hal ini seharusnya yang di salahkan itu Adrian bukan Nabila."


"Sudah - sudah dalam hal ini kalian tidak salah karena memang itu sudah menjadi tanggung jawab kamu Adrian sebagai seorang suami dan Ayah. Maafkan Ibu ku lambat laun juga dia pasti akan menerima kenyataan ini kalau semuanya tak harus dia yang memerintah dan ada kalanya kita harus memang menyerah sebelum bertarung."


"Iya Yah makasih atas pengertiannya."


Sementara di lain tempat tapi masih satu kawasan dengan Ayah Bima, Nabila dan Adrian kini Bunda Irene dan Adam tengah asyik bermain dengan si kembar. Ada rasa haru, bahagia, sedih, bercampur jadi satu. Andai kata ada pilihan waktu itu dapat di putar ulang kembali mungkin dia akan memilih waktu untuk di putar kembali dan kembali kesisi Nabila bersama kedua anak - anaknya.


Bunda Irene yang melihat Adam sepertinya sedang melamun pun kini menepuk pelan pundak sang Anak, "Ada apa?"


Sambil mengarahkan pandangannya kelain sebab saat ini matanya tengah berkaca - kaca dan hampir saja menangis. Menangis akibat tamparan sang Nenek itu tidak lah seberapa sakitnya bagi Adam tapi melihat putra putrinya yang sebentar lagi akan tumbuh menjadi sosok pribadi dewasa, yang di besarkan dalam lingkungan broken home akibat keegoisan dirinya hingga mereka harus berpisah dan memilih untuk hidup sendiri - sendiri. Tapi, nasi sudah jadi bubur semua tidak akan kembali seperti semula.


Dan semoga saja bersama Ayah sambungnya si kembar di bimbing dan di arahkan kejalan yang baik lagi. Bagi nya sekarang adalah melihat si kembar tumbuh dengan baik dan selalu bahagia, itu sudah cukup bagi dia dan akan selalu mendukung dan mensport sang mantan istri dari kejauhan demi si kembar.


Dia pun memeluk si kembar dan menangis di sana, Bunda Irene yang melihat itu kini ikut menangis dan memeluk cucu dan anaknya.


"Sabar sayang, Bunda tau dan Bunda mengerti dengan apa yang kamu rasakan saat ini. Sabar ya." ucap Bunda Irene sambil mengusap punggung sang Anak.


Masih terus mengeluarkan air mata, "Makasih Bunda. Maafkan Adam yang belum bisa membuat Bunda dan Ayah bahagia. Apa lagi dengan kondisi Adam yang sekarang yang tak akan bisa memberikan kalian keturunan kelak jika Adam sudah menemukan pendamping hidup."


Sambil mengusap air mata sang putra, "Tidak apa - apa sayang, masalah keturunan masih ada cara lain yang bisa kita tempuh untuk mendapatkannya."

__ADS_1


"Terima kasih Bunda."


Diruang tamu.


Diruang tamu kini mereka semua nampak keheranan dan bertanya - tanya akan kemana pergi si mak lampir dengan koper besar yang ada di tangan kanannya dan tas hermes warna hitam yang di bandrol harga ratusan hingga MMan ditangan kirinya. Bima yang melihat itu kini pun berdiri dari duduknya dan berjalan kearah sang Ibu.


"Ibu mau kemana dengan koper sebesar itu?"


Sambil membuang muka, cuek dan acuh, "Ibu mau pergi dari rumah yang tak pernah menganggap Ibu ada di sini."


"Apa maksud Ibu dengan tak menganggap? Dan siap yang tidak menganggap Ibu ada di rumah ini?"


"Alah.... tak usah sok perhatian sama Ibu. Pokoknya Ibu mau pergi dan pulang ke rumah Ibu sendiri."


Sambil memegang bahu sang Ibu, "Rumah ibu itu disini. Jadi rumah mana yang akan ibu datangi?"


"Ibu mau pulang ke Amerika. Ibu sudah bosan disini. Ibu mau kerumah saudara Ibu disana."


Nabila dan Adrian memilih untuk diam karena ini merupakan urusan keluarga mereka.


Bunda Irene dan Adam yang mendengar ada keributan, mereka pun berjalan keluar mengarah ruang tamu. Sambil masing - masing menggendong si kembar. Setelah tiba di sana si kembar pun diambil alih oleh Nabila dan Adrian.


Bunda Irene yang melihat ada koper besar pun penasaran dan bertanya, "Ibu mau kemana dengan koper sebesar itu?"


Sambil membuang muka, "Bukan urusan mu."


Adam pun turut mendekat dan mengajukan pertanyaan sama. Namun Mak Lampir enggan tuk menjawab.


Adam pun memberikan penawaran untuk mengangantarkan sang Nenek kebandara.

__ADS_1


"Nenek apa mau Adam antar kebandara?"


Dengan masih mimik wajah yang sama, "Nggak perlu. Saya bisa sendiri pergi tanpa bantuan mu dan kalian semua yang ada di sini."


Mak Lampir pun melangkah pergi dengan perasaan jengkel, kecewa menyatu menjadi satu dan menyeret kopernya keluar dari dalam rumah.


Note : Benarkan Nyonya Luciana akan pergi dengan semudah itu? Dan melupakan semua kejadian ini yang menurutnya sebuah penghinaan besar terhadap keluarga Widjaya yang di perbuat oleh Nabila.


Selepas Mak Lampir pergi. Nabila pun mendekat kearah mereka semuanya, "Bunda, Ayah maafkan Nabila, ini semua gara - gara Nabila."


"Sudah lah sayang ini semua bukan salah kamu. Mungkin nenek pergi merupakan pilihan yang tepat untuknya saat ini."


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


Varo dan Tommy dalam perjalan pulang dan rencana mau mengantar Varo pulang kerumahnya tapi, belum sempat Tommy menanyakan alamat rumah ke Varo, Varo keburu tidur dengan pulasnya setelah seharian di ajak jalan - ajalan oleh Tommy kewahana permainan.


"Sekarang bagaimana ini? Apa sebaiknya aku bawa pulang saja ya dia kerumahku?"


Setelah menimbang - nimbang akhirnya Tommy memutuskan untuk membawa Varo pulang kerumahnya.


Note : Anggaplah Varo sudah menghilang selama enam jam.


Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 4 sore selama itu pula Arumi putus nyambung dengan tangisannya. Dia belum tenang hingga sekarang, sang Kakak pun belum memberikan kabar apa - apa kepada Arumi selama dalam masa pencarian sang ponakan dan itu membuat Arumi semakin sesak untuk bernafas dan sulit untuk makan.


Sambil berjalan mondar mandir, "Sayang kamu ada di mana sih? Maafkan Mama sayang ini semua kesalahan Mama. Hiks ... hiks .... Sayang pulang ya! Kamu tidak merindukan Mama? Kamu betah berada di luar sana?"


...🍦🍦🍦🍦🍦🍦🍦...


...TERIMA KASIH UNTUK YANG MASIH SETIA DUKUNG IP. MAAF KOMENTAR KALIAN TIDAK AKU BALAS TAPI YAKIN DAN PERCAYA KOMENTAR KALIAN AKU BACA....

__ADS_1


...🍦🍦🍦🍦🍦🍦🍦...


__ADS_2