ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 44.


__ADS_3

Kini mereka sedang menikmati pesta yang di suguhkan oleh tuan rumah. Ada yang berbahagia atas kebahagiaan kedua mempelai, ada yang bahagia walau hanya sekedar topeng untuk menutupi keburukan mereka.


"Akhir nya anak pembawa sial itu menikah juga," ucap sang Ibu dari kejauhan sambil meminum jus jeruk yang ada di tangannya.


Tetap terus menatap kedepan memperhatikan kedua pasangan pengantin itu yang baru beberapa jam yang lalu resmi menyandang status suami istri itu, sambil menoleh sesekali kewajah Anaknya yang sedang berdiri di sampingnya, "Kamu kapan membawa calon menantu kerumah Ibu? Ibu ingin kamu untuk segera menikah, masa mau kalah dengan Nabila. Coba lihat rumahnya saja sudah seperti istana, mobil nya harga selangit semua."


Arumi yang kebetulan sedang meminum air dalam sekejab diapun tersedak, "Uhuk ... uhuk ...." sang Ibu pun secara repleks memegang tengkuk anaknya.


Dengan mata mereh dan air mata yang sempat menetas akibat tersedak air, "Ibu apa - apaan sih, nanya jodoh disiang bolong gini. Nanti Arumi kenalkan Ibu pada seseorang, tidak jauh beda kok dengan Adam soal kekayaannya jangan lagi di tanya."


Dengan mata berbinar - binar, "Punya rumah sebagus ini tidak?" tanya sang Ibu seraya menunjuk rumah yang berdiri kokoh tepat di belakang mereka.


Sambil menoleh kearah sang Ibu, "Entahlah Bu Arumi tidak yakin soal itu? Karena Arumk belum pernah di ajak kerumahnya."


Dengan sangat antusiasnya, "Besok - besok kalau kami sudah bertemu dia katakan padanya untuk segera melamar kamu dan segera minta untuk menikahimu dan ancam jika tidak mau kamu akan dinikahkan oleh pria berdasi yang lebih tampan, kaya, pokoknya serba melibihi dirinya oleh pilihan orang tua mu. Apa kamu tidak mau dapat suami seperti si pembunuh itu?" ucap sang Ibu seraya menatap Nabila yang kini sedang bercengkrama dengan Adam, Bunda, Ayah dan Nenek Luciana.


Sambil memegang tangan sang Ibu, lalu menatap wajah sang Ibu, "Ya Bu Arumi janji akan membuat dia jatuh cinta pada Arumi dan Arumi juga akan buat dia untuk segera menikahi Arumi? Arumi sangat beruntung memiliki Ibu seperti Ibu yang selalu mendukung Arumi dalam sebagai hal?"


Sambil mencubit lembut pipi sang Anak, "Bagus itu baru Anak Ibu."

__ADS_1


"Terima kasih Bu."


"Jadi, setelah ini kalian mau bulan madu kemana?" tanya sang Nenek seraya menatap wajah cucu dan cucu menantunya itu.


Sang Anak pun menyela kata - kata sang Ibu, "Ibu jangan membicarakan hal ini di sini, ini sifatnya sangat pribadi jadi di bahasnya ntar dirumah setelah acara ini selesai."


Nyonya Luciana pun menatap wajah sang Anak, "Bima, semakin hari kondisi kesehatan Ibu semakin menurun, Ibu sudah sangat tua Ibu ingin melihat cicit Ibu lahir kedunia," ucap sang Ibu dengan mata berkaca - kaca.


Adam pun memegang tangan sang Nenek, sambil menatap wajah sang Nenek yang sudah penuh dengan keriput di wajahnya, "Nenek kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk segera memberikan Nenek cicit, dan do,a akan juga kelanggengan keluarkan Adam bersama wanita pilihan Adam."


Sang Nenek pun membalas pegangan tangan sang Cucu, "Sayang, Nenek akan selalu berdo,a untuk kebahagiaan kalian dan jangan sampai ada orang ketiga di antara kalian."


"Berarti mulai sekarang Bunda harus jaga jarak dong dengan Anak Bunda sendiri, jangan sampai Bunda di cap pelakor oleh Ibu," ucap sang menantu.


Sambil memanyunkan bibir, "Iya ... iya maaf."


"Nek hadiah pernikahan kami mana?" tanya Adam.


Kemudian menatap wajah sang Bunda dan Ayah bergantian, "Hadiah pernikahan kami mana Bun, Yah?"

__ADS_1


"Tenang Nenek sudah mempersiapkan beberapa hadiah spesial untuk menyambut malam di mana generasi Widjayakusuma akan di rilis," ucap sang Nenek terkekeh geli.


"🤔🤔🤔," yang ada di kepala Nabila sambil menunduk malu di tambah wajah yang sudah merona.


"Coba lihat deh Bun, menantu kita sepertinya sedang malu - malu?"


"Santai aja sayang kamu tidak akan bisa lari dari hal begituan karena itu sudah kodrat wanita sayang." kemudian menatap wajah sang anak, "Dan kamu Dam perlakukan istrimu dengan baik dan gauli istrimu dengan pelan dan hati - hati, jangan seperti buaya darat yang sedang duduk di samping Bunda ini," ucap sang Bunda seraya menatap wajah sang suami penuh dengan misteri.


Sambil garuk - garuk kepala, "Bunda bukan waktu yang tepat untuk membahas itu disini atau apakah Bunda ingin mengulang malam pertama kita," ucap sang Ayah menggoda sang Istri sambil menyenggol - nyenggol lengan sang Istri.


"Ogah."


Satu persatu tamu, kerabat dan keluarga menjabat tangan kami berdua seraya mengucapkan "Selamat nenempuh hidup baru."


Kini pesta sudah usai satu persatu satu persatu tamu undangan pun pulang kerumah masing - masing.


...❤❤❤...


...Terima kasih untuk yang sudah hadir memberikan like dan komentar, dan terima kasih like mode diam. Maaf komentar kalian tidak aku balas satu - persatu. Untuk promo monggo promo tapi no spam promo. lalu like karya aku dan tinggalkan jejak di kolom komentar. Semangat, mari saling mendukung, dan tetap jaga kesehatan...

__ADS_1


...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...


...❤❤❤...


__ADS_2