ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 22.


__ADS_3

"Ibu ngomong apa sih?" tanya Bunda Irene tak mengerti dengan pertanyaan Ibu mertuanya itu.


Dengan masih bernada tidak suka, "Coba saja kamu perhatikan, pakaiannya! Begini ya cara pakaiannya saat menemui calon Ibu dan Ayah mertua! Terus saya tanya memang kamu nyaman ya dengan berpakaian seperti itu?"


Hari ini aku memakai baju atasan warna putih, rok span warna hitam mini.



dengan rambut diikat biasa saja.


Semua mata kini kembali menatap wajah ibu Luciana. "Kenapa kalian menatap ku seperti itu? Ha ...." Bentak Bu Luciana.


Bima pun berdiri dan duduk di samping sang Ibunda, seraya mengelus - elus pundak sang Ibu, "Bu sudah dong jangan merusak moment berkumpulnya keluarga besar Widjayakusuma," ucap sang Anak menenangkan. Sang Ibu pun menoleh sepintas ke arah sang Anak kemudian kembali menatap tajam ke arah ku, "Siapa nama Ayahmu, apa pekerjaan Ayahmu, kamu kuliah dimana? Kamu kerja di mana?" pertanyaan beruntuntun dari Nyonya Luciana.


Aku pun menatap wajah wanita yang kini ada duduk di sampingku kemudian beralih menatap wajah mereka satu persatu.


Dengan tidak sabaran, "Loh kok diam? Ayo buruan di jawab!"


Dengan menunduk sedih aku pun menjawab, "Maaf Nyonya Ayah saya sudah meninggal dan saya lulusan di universitas X dengan jurusan tata busana ( desainer ), dan saya tidak bekerja."


"Cengeng...." ucap Nyonya Luciana mendengus kesal.


Dia pun beralih menatap wajah sang anak yang kini masih setia duduk di samping menemani sang Ibunda tercinta, "Bim ini calon menantu mu yang cengeng tiada tandingannya?" tanya sang Ibunda sambil menatap tajam ke wajah sang anak.

__ADS_1


Sambil mengusap - usap punggung tangan sang Ibunda, "Sudah bu ... sudah ... jangan bertengkar lagi! Tuh ... kasihan Nabila jadi menangis akibat perkataan ibu."


"Kok jadi ibu sih di salahin?


Sang Istri yang sedari tadi memperhatikan perdebatan antara mertua dan suami nya kini ikut angkat bicara, "Kalian ini apaan sih? Malu dengan tamu yang ada dirumah."


Sang mertua dan sang suami pun menatap tajam ke arah Bunda Irene, "Diam," ucapnya kompak. Mereka pun saling bertatapan antara Ibu dan Anak itu.


Setelah cukup lama terdiam dan hanya mata yang saling menatap satu saman lain.


"Mana bingkisan kamu untuk calon ibu mertua?" tanya Nyonya Lusiana.


Aku pun menatap wajah Ghea, Namun Ghea hanya menaikkan kedua tangannya.


"Wah benar ... benar teman gak ada ahlak," ucap aku di dalam hati.


Bunda Irene menyela, "Sudah lah Bu, yang pentingkan kita sudah tau dan melihat calon menantu kita. Bingkisan itu kan lain kali juga masih bisa kok di beli sama Nabila. Iya kan Nabila?" ujar Bunda Irene bertanya.


Aku pun menganggukan kepala ku, kemudian berucap, "Iya tante."


"Oh ... tidak bisa, Irene masa baru hari pertama kita kenalan, kesannya sudah sangat buruk."


"Ibu sudah cukup," ucap sang anak dengan nada di naikkan satu oktaf.

__ADS_1


Sang Ibu seolah - olah tak mengindahkan teguran sang Anak.


"Nabila...."


"Iya Nyonya ada apa?"


"Keterampilan apa yang kamu tau?"


"Tidak ada."


"Aku mau kamu menyanyikan satu buah lagu untukku tapi di sertai dengan gerakkan!"


Aku hanya bisa membulatkan mataku mendengar penuturan sang Bunda Luciana.


"Ayo buruan nyanyi ," gertak sang Nyonya.


Aku pun segera berdiri dan mulai bernyanyi dan menari.


...❤❤❤...


...Terima kasih untuk yang sudah berikan like dan komen pada karya author. Terima kasih untuk yang sudah like dalam mode diam. Maaf tidak bisa membalas komentar - komentar satu satu. Untuk yang promo silahkan promo tapi sebelum itu like dulu karya thor dan silahkan tinggalkan pesan di kolom komantar Dan tinggu kehadiran ku di karya kerennn anda semuannya....


...Terima kasih, semangat dan mari saling mendukung....

__ADS_1


...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...


...❤❤❤...


__ADS_2