
Note : Biarkan author menulis sesuai dengan yang ada di kepala author dulu ya dan jawaban Nabila hamil atau tidak nya nanti jawabannya ada di part selanjutnya. Tapi, untuk sekarang biarkan author berimajinasi dulu. Ok ... ok ... ok ... tetap semangat mengikuti kisah Nabila dan Adam. Terima kasih.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Kini Siska sudah bersiap di samping daun pintu yang masih tertutup, sementara Tommy masuk berjalan berdampingan dengan Arumi, sedangkan Tommy tidak tau jika ada kejutan yang menunggunya di balik pintu. Kini mereka sudah tiba di ambang pintu siska pun keluar dari persembunyiannya dan langsung memeluk dengan sempurna tubuh Tommy.
Tommy terkejut, sementara Arumi jangan di tanya ekspresinya bagaimana. Sambil terus memeluk, "Hallo baby I miss you so much," ucap Siska sambil mendaratkan kecupan mesra di pipi kanan dan kiri Tommy. Sekejab Tommy terdiam tak bisa berkutik dengan wanita yang tiba - tiba memeluknya secara mendadak.
Ketika sedang asyik berpelukan, "Oh jadi ini maksud kamu mengajak ku kesini untuk memperlihatkan kemesraan kalian berdua," ucap Arumi tak terima.
Tommy pun tersadar dan mendorong secara spontan tubuh Siska hingga membentur daun pintu.
"Awwwuuuuuu...." erangan siska yang dibuat selebay mungkin untuk menarik simpati Mama Dinda dan Tommy.
"Eh ... wanita si***n siapa kamu, berani - beraninya kamu mengganggu kesenanganku dengan calon suamiku," ucap Siska seraya menyeringai penuh kemenangan dan berjalan mendekat kearah Arumi.
Arumi pun tertawa,"Ha ... ha ... ha ..., baru juga calon suami kamu songongnya dah minta mapun, aku sama sekali tidak takut bahkan jika dia suami mu sekali pun jika aku menyukainya kamu bisa apa? Kamu cantik, aku juga cantik, kamu seksi aku juga seksi, hanya saja yang membedakan kita adalah warna rambut. Rambutmu warna kuning efek tidak pernah pake shampo ya ketahuan miskin nya."
Tommy yang melihat pertengkaran diantara keduanya hanya bisa jadi penonton, sementara Siska sudah tersulut emosi dan siap menaikan tangan nya hendak menggampar Arumi, Mendengar ada keributan di depan pintu Mama Dinda pun keluar untuk melihatnya.
"Ada apa ini ribut - ribut?" ucap Mama Dinda seraya menatap wajah Arumi, Tommy dan Siska secara bergantian.
Namun ketiganya hanya diam membisu dan menundukan kepala. Terutama Arumi dan Siska. Dengan melipat kedua tangannya di dada, dan menatap Arumi penuh dengan ketidak sukaannya, "Kamu ngapain disini, ganggu mood saya saja. Sudah pergi sana! Tidak ada yang mengundangmu disini."
"Mama."
"Apa? kamu mau membela wanita itu, dari pada membela Mama kamu sendiri, hah....? Sekarang masuk!"
"Mah...."
"Masuk!"
Dengan terpaksa akhirnya Tommy pergi meninggalkan Arumi sendirian dan memberikan kesan tak enak hati lantaran dia yang menundang Arumi untuk datang kerumahnya dan pada akhirnya harus berakhir dengan sangat dramatis pertemuan mereka siang hari ini.
Selepas Tommy pergi, "Eh ... kamu ngapain masih berdiri di sini sekarang pulang," dengan suara meninggi satu oktaf.
Dengan tersenyum walau kesan senyum yang terpaksakan, "Nama saya bukan Eh nama saya Arumi, dan tidak usah pake urat leher kalau mengusir saya tanpa anda suruh pergi saya pun juga akan pergi." ucap Arumi dengan sangat kecewa atas perlakuan mereka, dan bukan niat Arumi untuk bertindak tidak sopan pada Mama Dinda tapi dia di paksa oleh keadaan yang kurang menguntungkannya saat ini.
Arumipun melangkah gontai meninggalkan rumah mewah itu, menangis? sudah pasti menangis tapi sebisa mungkin dia tahan karena dia ingin terlihat tegar di hadapan mereka semua walau sebenarnya dia sedang rapuh.
Arumi pun berlari pulang untuk menghilangkan rasa kecewa yang kini menjalar di seluruh tubuhnya.
...🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏...
Sesaat kemudian Adam pun tertidur setelah meminum teh hangat buatan sang Bunda. Mereka pun meninggalkan kamar itu.
Di ruang tamu.
__ADS_1
"Jadi, apa yang akan kita lakukan melihat kondisi Adam yang seperti ini," ucap sang Ayah dengan nada sedih. Raut wajah sedih tidak hanya di rasakan oleh Bima melainkan sang Istri dan Sang Nenek dan Nabila.
Sang Nenek pun menatap wajah sang menantu dengan penuh amaran dan penekanan, "Dasar menantu pembawa sial sudah tidak bisa memberi keturunan sekarang malah membuat sakit cucu ku satu - satunya. Bagaimana sih cara mu menjaga suami, mengurus orang satu aja kamu nggak bisa."
Deg....
Deg....
Deg....
Kata - kata itu membuat semua orang yang ada di sana membelalakan mata tak percaya dengan ucapan Nyonya Luciana yang menurutnya penyabar, penyayang dan penyabar.
"Bu ... Ibu ngomong apaan sih? Adam sakit kenapa harus menyalahkan Nabila? Nabila sudah pasti melakukan tugas nya dengan baik. Begini saja apa tidak sebaiknya kita datangkan dokter kerumah ini siapa tau asam lambung Adam kumat lagi. Kan Ibu tau sendiri kalau Adam punya riwayat penyakit asam lambung."
Dengan mendengus kesal, "Kamu kenapa membela dia, aku ini Ibu mu, Ibu yang sudah mengandungmu, Ibu yang sudah melahirkanmu dengan penuh perjuangan."
"Sudah ... sudah ... saat ini bukan perdebatan yang Adam butuhkan dari kita semua. Melainkan dukungan dari kita semua agar Adam bisa sembuh segera dari sakitnya dan bukan menyalahkan Nabila, karena Nabila juga pasti tidak mau Adam sakit seperti ini." kini Bunda Irene ikut angkat bicara yang entah dari mana keberaniannya itu dan berhasil dengan begitu muda dan lantangnya terucap dari bibirnya itu.
Sementara Nabila hanya bisa menangis sesegukan di dalam pelukan sang Bunda.
"Sudah sayang sudah semua kan baik - baik saja."
Dengan masih terisak, "Bagaimana kalau Adam punya penyakit serius dan susah untuk di obati?"
"Eh ... Nabila kalau bicara jaga mulutmu, kamu mendoakan yang buruk pada Adam? Kamu senang kalau ada apa - apa dengan Adam lalu mati biar orang - orang memberimu gelar si janda kaya mandul, jika kamu berfikir biar seluruh harta kekayaannya bisa kamu miliki, kamu salah besar. Karena sampai kapan pun kamu tidak akan dapat apa - apa dari sini apa lagi jika tidak bisa memberikan keturunan pada keluarga ini jangan harap sepeserpun kamu akan mendapatkannya," ucapan pedasa dari Nyonya Luciana sungguh menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Terutama Nabila namun bisa bilang apa.
Sambil menatap wajah sang Anak kemudian menatap wajah menantu dan menantu cucunya secara bergantian, kemudian berdiri dan kemudian berlalu pergi dari hadapan mereka semuanya dengan perasaan kecewa bercampur dongkol yang kini menyelimuti hati Nyonya Luciana.
"Yah ada apa dengan Ibu?" tanya Bunda Irene pada sang suami. Namun sang suami hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tau. "Yah telpon gih dokter Hasan untuk memeriksa putra kita!"
"Iya Bun tunggu bentar ya." sambil merogoh saku celananya. Sesaat kemudian kini dia sudah memainkan jarinya dengan lincah di atas ponselnya.
"Tut ... tut ... tut ...." bunyi sambungan telepon.
Dr Hasan 📞"Assalamualaikum," salam dari orang diseberang.
Ayah Bima 📞"Waalaikumsalam."
Dr Hasan 📞"Tumben Bim kamu menelepon, ada apa nih?"
Ayah Bima 📞 "Ah ... ini San, aku mau minta tolong kamu bisa tidak sekarang kerumah, Adam sakit dan tidak mau di bawa kerumah sakit. Barangkali aja kalau kamu yang menasehati dia mau kerumah sakit sama kamu."
Dr Hasan 📞 "Dia sakit apa?"
Ayah Bima 📞" Entahlah San, aku juga tidak tau. Yang pastinya dia sering merasakan mual dan sakit kepala tapi kadang - kadang mual dan muntah ini tidak mengenal waktu."
Dr Hasan 📞"Aku sarankan bawa dia kerumah sakit siapa tau dia terkena penyakit Refluks Gastroesofageal ( GERD )."
__ADS_1
Ayah Bima 📞"Penyakit apa itu?"
Dr Hasan 📞" Sudah bawa aja kerumah sakit, nanti dokter yang menanganinya yang menjelaskan GERD itu penyakit seperti apa."
Ayah Bima 📞"Kamu ada di mana sekarang?"
Dr Hasan 📞"Aku lagi ada di kalimantan sekarang, anak ku masuk kerumah sakit."
Ayah Bima 📞"Astaghfirullah, sakit apa siapa yang sakit?"
Dr Hasan 📞"Arshi yang sakit, diserempet orang beberapa hari yang lalu saat mereka mau melaksanakan sholat."
Ayah Bima 📞"Oh ... semoga lekas sembuh ya."
Dr Hasan 📞"Iya terima kasih. Aku putus sambungan teleponnya ya, Assalamualaikum."
Ayah Bima 📞"Waalaikumsalam."
...Sambungan telepon pun terputus....
"Bagaimana yah? Apa yang di katakan Dr Hasan?"
"Kita harus membawa Adam kerumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan lebih intensif." ujarnya dengan nada was - was dan khawatir dengan penjelasan sepintas dari Dr Hasan barusan.
Nabila semakin mempererat pelukannya namun sudah tidak menangis lagi.
"Tenang sayang, tenang Adam tidak akan apa - apa." ucap Bunda Irene menenangkan sang menantu yang tau betul jika saat ini sang menantu berada di zona tidak aman.
"Sudah yuk Bunda antar kekamar kamu, kamu istirahat dulu sambil menemani suami mu. kamu pasti capek kan baru datang dari perjalanan jauh."
Nabila pun hanya bisa menurut dengan perintah sang Ibu mertua. Kini mereka sudah berada di lantai atas.
"Sayang, Bunda antar kamu sampai di depan pintu ya."
"Makasih bunda."
Sambil mengelus lengan menantunya, "Iya sayang, sekarang masuk lah Bunda mau menemui Ayah dulu." ucap Bunda seraya tersenyum.
"Makasih sekali lagi Bun."
...Nabila pun memeluk sang Bunda....
...🍎🍎🍎🍎🍎🍎...
...TERIMA KASIH....
...🍎🍎🍎🍎🍎🍎...
__ADS_1