ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
BAB 185. PSH ( IP : S4 )( Lumpuh )


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...****************...


Akan ada pelangi setelah turunnya hujan. Akan ada sesuatu yang indah setelah kesusahan melanda. Mungkin itulah yang dialami Kirana saat ini.


Setelah sebulan lamanya Kirana dirawat dirumah sakit, hari ini dia sudah diperbolehkan untuk pulang kerumah. Namun, wajah Kirana terlihat murung dan sedih. Melihat itu, bunda Irene menjadi ikut sedih dan turut prihatin atas apa yang menimpa sang cucu satu bulan yang lalu. Bunda Irene pun berjalan mendekati pembaringan Kirana, kemudian duduk di tepi pembaringan Kirana, lalu merapikan anak rambut Kirana yang sebagian menutupi wajah cantik Kirana dan menyelipkan di belakang telinga Kirana.


"Ada apa sayang? Kok wajah kamu murung? Bukan kah seharusnya kamu senang karena hari ini kamu sudah di perbolehkan untuk pulang kerumah?"


"Berapa lama Kirana akan duduk di atas kursi roda dan berapa lama Kirana akan buta?" ucap Kirana lirih seraya mengusap air matanya yang kini menetes membasahi pipinya.


Bunda Irene pun meraih tangan Kirana kemudian mengelusnya. Bunda Irene paham betul dengan apa yang dirasakan Kirana saat ini dan andai kata Bunda Irene ada di posisi Kirana mungkin ia pun akan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Kirana saat ini.


Akibat dari kecelakaan itu ia harus mengalami kebutaan dan kelumpuhan secara bersamaan ditambah lagi dengan perginya sang oma untuk selama - selamanya dan itu membuat Kirana teramat sangat terpukul dan syok.


"Sayang...kamu sudah dengar sendiri apa yang dikatakan dokter kalau apa yang kamu alami saat ini bukanlah buta dan lumpuh yang permanen, kamu masih memiliki kesempatan untuk sembuh, kamu masih memiliki kesempatan untuk bisa melihat keindahan dunia, kamu masih bisa berjalan kembali, yang kamu butuhkan saat ini adalah bersabar sedikit lebih lama, rajin latihan berjalan dan melakukan terapi, dan berdo,a. Dan jangan lupa kalau kamu masih punya kami yang akan selalu ada untukmu dan membantumu untuk bisa berjalan dan melihat kembali seperti sediakala." ucap Bunda Irene menguatkan sang cucu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Matahari tampak malu-malu melihat dunia di hadang gerombolan awan seakan mengisyaratkan


bahwa hari ini tidak akan baik - baik saja. Benar saja satu persatu kini air hujan turun membasahi jalanan dan dedaunan. Kirana yang kala itu duduk diatas kursi rodanya hanya bisa menyaksikan hujan lewat suara tanpa harus melihatnya secara langsung seperti sebelumnya.


Dikejauhan samar - samar terdengar suara anak - anak sedang tertawa dibawah guyuran air hujan.


"Mereka sangat bahagia." ucap Kirana lirih, tapi apalah daya ia hanya bisa menyaksikan hujan lewat suara, tanpa harus bisa melihat dan menikmati betapa indahnya setiap tetesan air hujan.


Karena hujan semakin deras Kirana pun segera memutar dan memerintahkan kursi rodanya lewat suara agar segera diantarkan masuk kedalam kamar.


...****************...


Diruang keluarga.


"Jadi, sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Ayah Bima penuh dengan kembimbangan.


"Bunda tidak tau."


Kemudian sang Ayah pun menoleh ke arah Adam, "Jadi, bagaimana menurutmu? Apa yang akan kita lakukan untuk kesembuhan Kirana?"

__ADS_1


"Bagaimana kalau Kita bawa Kirana keluar negri untuk berobat?" ucap Adam mengemukakan pendapat nya.


"Hmmmmm...."


"Bagaimana kalau kita minta tolong Nabila?" ucap Bunda Irene menyela sang suami.


"Jangan melibatkan Nabila." ucap Ayah Bima. Ayah Bima merasa sungkan untuk meminta tolong kepada Nabila jika mengingat perlakuan sang Ibu yang menurut nya tidak adil kepada Nabila.


"Kenapa tidak? Bukan kah Nabila ibu kandung Kirana? Sudah seharusnya dia membantu kita memikirkan jalan keluar untuk Nabila." ucap Bunda Irene mempertahankan pendapat nya. Setelah terdiam beberapa saat Adam pun bersuara,


"Ayah dan Bunda tidak usah pusing memikirkan nasib Kirana kedepannya dan kalau bisa Nabila tidak usah dilibatkan dalam hal ini. Ayah dan Bunda lupa, kalau Kirana masih memiliki Adam."


"Maksud bunda bukan seperti itu. Bagiamana pun juga...."


tiba - tiba kalimat Bunda Irene terhenti tatkala mendengar barang pecah yang berasal dari lantai atas, mereka pun segera berdiri dan langsung menuju keasal suara. Setelah tiba dilantai atas mereka pun langsung menuju kamar Kirana.


Mereka pun langsung membuka pintu kamar Kirana yang kebetulan memang tidak terkunci. Betapa terkejutnya mereka ketika pintu kamar sudah terbuka. Kamar yang semulanya rapi, bersih dan barang - barang tertata pada tempat yang semestinya kini sudah jadi berpindah tempat bahkan tidak sedikit barang rusak parah akibat dilempar Kirana kelantai.


...****************...

__ADS_1


...TERIMAKASIH...


...****************...


__ADS_2