
Keesokan harinya Nabila pun pergi kekota ditemani untuk kali pertama Mama Yulia dan si dokter tanpam Adrian. Tak henti - hentinya Nabila berdo,a dalam hati semoga tidak ada kejadian apa - apa di rumah.
Berita kematian Nyonya Dharmawangsa begitu sangat cepat tersebar hingga keberbagai daerah. Satu persatu warga yang datang melayat berdatangan termasuk keluarga Pratama dan Widjaya.
Nampak di sana Akbar sedang memgobrol dengan keluarga Pratama dan Widjaya.
" Tante sebelum Ibu pergi, Ibu berpesan untuk menyampaikan amanah terakhir beliau sebelum menutup mata yaitu Akbar di suruh untuk menyampaikan permintaan maaf Ibu kepada Tante dan semuan yang ada di sini."
"Sayang sebelum Yana meninta maaf sama Bunda, Bunda sudah memaafkannya," ucap Bunda Irene sambil tersenyum.
"Iya, Mama juga sudah memaafkan Yana." kini Mama Dinda ikut menimpali.
Setelah acara maaf - maafaan, mereka semua pun mendekat ke arah di mana jasad Ibu Yana terbujur kaku di letakkan. Di sana nampak Arumi yang masih menangis sesegukan, sekarang kedua sayap yang dia miliki benar - benar sudah patah dan sudah tidak ada lagi. Dan mulai hari ini pula dia berjanji akan hidup lebih baik bersama putra kesayangannya dan kakaknya.
Keluarga Widjaya pun memeluk Arumi secara bergantian walau bagaimana pun mereka pernah tinggal dalam satu atap dan pernah menjadikan Arumi sebegai menantunya. Begitu pula keluarga Pratama turut melakukan yang sama.
"Sayang kamu yang kuat dan sabar, Bunda berharap setelah ini kamu dapat hidup dengan baik dan lebih mendekatkan diri lagi kepada sang pencipa!" ucap Bunda Irene seraya memeluk Arumi.
Adam, Nenek, Ayah Bima pun turut memeluknya dan memberikan kekuatan agar Arumi jangan terlalu lama dalam keterpurukan.
Beberapa saat kemudian kini rombongan Nabila pun tiba di halaman rumah itu. Betapa terkejutnya dia tatlaka melihat banyak orang berpakaian putih dan ada bendera kematian tertancap sempurna di depan rumahnya.
Dia pun segera menyerahkan baby girl nya ke Adrian dan segera melangkah masuk kedalam rumah, semakin kedalam, kedalam perasaan Nabila semakin tidak menentu dan karuan. Hingga dia kini nampak melihat Kakanya Arumi dan Akbar masih menangisi kepergian sang jasad.
Sambil menutup mulutnya, "Jadi........"
"Ibu."
Dia pun segera berhambur memeluk Sang Ibu yang kini sudah terbujur kaku dan dingin.
"Ibu maafkan Nabila, Ibu bangun Nabila janji akan menjadi anak yang baik, anak yang penurut."
Akbar pun memegang pundak sang Adik, "Sudah jangan lagi bersedih, hapus air mata mu, setiap yang bernyawa pasti akan mati tinggal menunggu waktu saja kapan tiba waktunya."
Akbar pun membawa Nabila dalam pelukannya, begitu pula dengan Arumi, "Maafkan Kakak sudah menghancurkan kebahagiaanmu. Kakak salah hukum aku jika itu membuatmu bisa tenang."
Mereka pun melerai pelukan, "Kakak, Nabila sudah memaafkanmu."
__ADS_1
Nabila pun mengedarkan pandangannya, dan melihat Bunda Irene sekeluarga, dan tatapan mata Nabila dan Adam pun sempat bertemu ada rasa yang tak biasa yang mereka rasakan untuk saat ini. Dari sorotan mata keduanya mengandung unsur kerinduan setelah sempat berpisah selama berbulan - bulan tapi Nabila segera mengalihkan pandangannya kearah yang lain dia tidak ingin jika cinta harus kembali hadir di hati keduanya khusunya Nabila.
Bunda Irene pun memeluk Nabila, "Sayang maafkan Bunda."
"Nabila sudah memaafkan Bunda." kemudian melepas pelukan dan beralih menatap wajah Nyonya Luciana kemudian memeluknya, "Nenek maafkan Nabila belum bisa menjadi menantu yang baik untuk Nenek dan belum bisa menjadi seperti yang Nenek harapkan."
"Iya sayang Nenek juga minta maaf, Nenek terlalu egois dan tak melihat bagaimana hancurnya perasaanmu waktu itu."
"Nabila sudah memaafkan Nenek jauh sebelum Nenek minta maaf."
Nyonya Luciana pun menatap wajah pria yang tak asing yang kini duduk tak jauh dari jasad Bu Yana dengan si kembar berada dalam gendongannya bersama wanita paru baya di sampingnya.
"Nabila apa mereka cucu Nenek?"
Nabila hanya mengangguk.
Bunda Irene, Adam, Ayah Bima pun menoleh pada pria yang tempo lalu di temui nya di rumah sakit dengan menggendong bayi mungil bersama dengan wanita paru baya yang duduk di sampingnya.
"Apa mereka anak - anak kita?" tanya Adam yang kini dengan air mata menetes membasahi pipinya.
Nabila pun mengangguk, "Iya mas mereka anak - anak kita."
Beberapa saat kemudian kini jasad Bu Yana siap untuk di kebumikan. Beberapa saat kemudian kini Bu Yana sudah berada di tempat peristirahatannya yang terakhir. Para peyat pun segera meninggalkan area pemakaman itu termasuk Mama Dinda yang memilih langsung pulang dia tidak ingin jika Arumi membahas dan bertanya tentang keberadaan Tommy biarkan nanti waktu yang akan mempertemukan mereka.
Di rumah.
Kini mereka nampak duduk bersama dan mengobrol seperti biasa di ruang kelurga. Si kembar pun sudah dalam gendongan Adrian dan Mama Yulia.
"Sayang sepertinya dede kecilnya ngantuk dan haus. Kamar kamu di mana?" tanya Mama Yulia mencari alasan agar tidak mengganggu percakapan di antara mereka.
"Kamar Nabila ada di atas Mah, di pintu ada kok tertulis nama Nabila."
Mama Yulia pun berdiri, diikuti Adrian di belakang sang Mama menuju lantai dua.
Adam pun menggeser duduknya menjadi dekat dengan Nabila, walau dia ragu tapi demi mengobati rasa keraguannya dia pun memulai mengungkapkan rasa yang ada di dalam hatinya.
"Nabila aku ingin kita kembali seperti dulu lagi!" ucapnya to the poin.
__ADS_1
Nabila hanya bisa diam dan mematung mendengar kata - kata Adam, hingga tepukan lembut dari sang Bunda menyadarkannya.
Dengan tergagap, "I_ya ya ada apa?"
Dengan tersenyum, "Sayang Anak Bunda meminta kamu untuk kembali lagi seperti dulu lag. Apa kamu menerimanya?"
Dengan membuang nafas secara kasar, "Bunda untuk rasa sayang dan cinta untuk mas Adam memang masih ada Nabila simpan didalam hati Nabila. Tapi semua itu hanya berlaku dulu dan tidak dengan untuk saat ini dan seterusnya."
"Maksud kamu apaan?" kini Adam menimpali.
"Maafkan Nabila. Nabila tidak bisa kembali pada mas seperti sebelum - sebelumnya."
"Apa kamu belum memaafkan mas?"
"Nabila sudah memaafkan mas jauh sebelum mas minta maaf. Ibarat paku yang mas tancapkan di hati Nabila memang mas bisa cabut paku itu kembali tapi bekas nya masih ada tertinggal, begitu pula dengan hati Nabila yang mas sakiti."
Deg....
Deg....
Deg....
Adam pun berdiri dan berlutut di kaki Nabila sambil memegang kedua tangan Nabila, "Sayang berika mas kesempatan kedua, Mas ingin menebus kesalahan mas karena sudah menyakitimu dan mas akan menjadi suami dan Ayah yang baik untukmu dan anak - anak kita."
Nabila pun perlahan - lahan menarik tangannya dari pegangan sang mantan suami, "Maafkan Nabila Mas, Nabila tetap tidak bisa. Mas selingkuh mungkin masih bisa Nabila maafkan tapi Mas selingkuh dengan saudara Nabila sendiri dan itu membuat Nabila tidak bisa terima dan di mana perasaan mas waktu itu, waktu mas hina di depan orang - orang ketika kita bertemu di rumah sakit. Nabila bukan seorang pendemdam tapi kata - kata mas masih terekam jelas di otak Nabila."
Adam hanya bisa menunduk karena benar adanya yang di katakan Nabila. Mungkin benar cinta tak harus memiliki. Nyonya Luciana pun turut berdiri dan kini melakukan hal yang sama seperti Adam, Nabila pun terkejut dan berusaha membangunkan Nyonya Luciana dari berlututnya.
Sambil menangis dan menangkupka kedua tangannya di dada, "Sayang ini semua salah Nenek yang sudah mendesak mu untuk segera medapatkan momongan. Jadi silahkan Nenek yang disalahkan dan kembali lah pada cucu nenek maafka segala kesalahannya. Nenek mohon!"
Nabila pun membantu Nenek Luciana berdiri, "Nenek, Nabila sudah memaafkannya tapi Nabila tidak bisa kembali padanya karena Nabila sudah menautkan hati Nabila untuk seorang Pria yang selama ini selalu ada di sampinf Nabila."
Kemudian Nabila pun membantu sang mantan suami untuk berdiri, "Mas carilah wanita yang lebih baik, sempurna dan segala - galanya melebihi Nabila, jangan mencari yang standar seperti Nabila yang cuma bisa membuat mas repot dan nyaris tak bisa memberikan keturunan untuk Mas. Mas berbahagialah, mas bahagia Nabila juga turut bahagia. Mas dan Nabila hanyalah sebuah masa lalu, carilah bahagia mu Mas meski tidak bersama dengan Nabila. Nabila akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Mas."
Mencinta tidak harus memili, mencintai adalah memberi tanpa berharap untuk diberi kembali. Cinta tak harus memiliki. Cinta itu akan hadir di setiap hati seseorang, sekecil apapun itu. Dan cinta itu sebuah keikhlasan agar orang yang kita cintai merasa bahagia dan nyaman walau dia tak memiliki kita
Note : untuk mengharapkan Nabila kembali ke Adam maaf tidak author kabulkan. Untuk seasson dua mungkin setelah acara 40 hari abah. Author mau tanya nih jika judul seasson dua nya author beri judul CLBK kira - kira apa yang ada di benak anda - anda semua....πππ. Apakah Cinta Lama Bersemi Kembali π€π€π€π€. Atau kah Cinta Lama Belum Kelarππππ. Silahkan tunggu UP nya beberapa hari kedepan. Untuk karya author yang sudah up maaf kalau belum diriku kunjungi tapi jangan khawatir kalau ada waktu luang nanti diriku berkunjung. Terima kasih untuk yang sudah setia mendukung IP dari awal hingga akhir.
__ADS_1
...Akhir kata Assalamualaikum,Wr, Wb....
...TAMAT...