
Terima kasih untuk yang masih setia mengikuti kisah IP, memberi like dan dukungan untuk IP tanpa kalian aku bukanlah apa - apa. Komentar - komentar positif dari kalian adalah semangat ku untuk tetap up IP setiap harinya. Sekali lagi terima kasih semangat, saling dukung ya.
...🍦🍦🍦🍦🍦...
Selepas Adrian pergi Mama Yulia pun keluar dari persembunyiannya dan berjalan menuju dimana Nabila saat ini sedang duduk.
"Lagi mandangin apa sih sayang?" tanya Mama Yulia tatkala sudah berada di luar dan duduk di samping Nabila.
Sambil terseyum, "Eh Mama."
"Anak Mama yang cantik ini lagi mikirin apa sih?" sambil membelai rambut Nabila.
Sambil menoleh kearah Mama Yulia, "Nabila tidak memikirkan apa - apa Mah."
"Nak Mama boleh tidak mengelus perut?" tanya Mama Yulia. Nabila mengangguk, "Boleh Mah.
Mama Yulia pun meraba perut buncit Nabila sambil mengajak sang bayi bicara, "Sayang, kamu laki - laki atau perempuan?"
"Mau laki - laki atau perempuan sama saja Nenek yang penting sehat," ucap Nabila menirukan suara anak kecil.
Kemudian mereka pun tertawa bersama - sama.
...*******************...
"Ada apa kalian ribut - ribut?" suara Nyonya Luciana yang datang secara tiba - tiba. Arumi pun lari menuju Nyonya Luciana dan mengadu di sana, dengan manjanya, "Bunda, Nek masa barang yang ada di kamar ini tidak boleh Arumi pegang dan barang Nabila tidak boleh Arumi pindahkan,"
Sambil menepuk pundak Arumi, "Sayang pemilik kamar ini sekarang adalah kamu jadi apapun yang mau kamu lakukan di kamar ini itu terserah kamu, kamu mau kumpulkan semua barang Nabila dan membuangnya pun Nenek tidak akan melarang mu atau biar bermanfaat sumbangin aja pakaian Nabila untuk korban bencana banjir Kalimantan Selatan dan gempa Sulawesi Barat." ucap Nyonya Luciana.
"Bu," ucap Bunda Irenen tidak suka dengan ucapan sang Ibu mertua.
"Ah ... apa? Kamu tidak suka? Kamu mau marah? Sekarang keluar dan balik kamar!" perintah sang Ibu mertua. Arumi yang melihat itu hanya bisa tersenyum puas.
"Ternyata di rumah ini tidak ada yang membela Nabila," ucap nya dalam hati.
Bunda Irene pun keluar kamar dengan perasaan dongkol, selepas Bunda Irene pergi, "Sudah lah sayang selagi ada Nenek disini tidak akan ada yang berani ganggu kamu. Jaga cucu nenek dengan baik, kamu jangan terlalu kecapean nanti Nenek panggil beberapa asisten untuk bantu kamu memindahkan barangnya si mandul," ucap sang Nenek kemudian Nenek pun keluar dari kamar.
Beberapa saat kemudian kini Arumi sudah berhasil memindahkan barang Nabila kedalam kotak dan niatnya akan di sumbangkan pada korban benacana Alam. Di kamar Bunda Irene sungguh tidak terima di perlakukan seperti ini sambil senyum - senyum sendiri sepertunya dia memiliki beberapa ide konyol yang akan di lancarakan untuk Arumi.
Kembali ke Arumi.
Kini Arumi sudah duduk dan Istrirahat di atas pembaringan.
__ADS_1
Ceklek,
suara pintu di buka. Arumi pun menoleh kebelakang dan mendapati sang suami berdiri di ambang pintu kemudian Adam pun berjalan masuk dan duduk di samping sang istri dan mengamati keadaan kamar yang sudah berubah bahkan untuk foto - foto Nabila pun dalam sekejab sudah terganti dengan foto Arumi.
Adam pun bertanya, "Foto Nabila kamu kemanakan sayang?"
"Sudah aku buang," jawabnya singkat.
"Kenapa di buang?"
Arumipun menatap tajam seolah - olah tak suka dengan pertanyaan sang suami, "Ada masalah kalau aku buang? Nabila itu hanyalah masa lalu mu, aku dan calon anak kita adalah masa depanmu."
Adam pun hanya bisa membuang nafas secara kasar, "Ya sudah lakukan lah sesuka kamu, aku mau mandi dulu," ucap Adam seraya berdiri dan meninggalkan Arumi begitu saja.
Kini Adam sudah berada di dalam kamar mandi, sambil mengguyur tubuhnya di bawah shower kini pikiran sedang melayang - melayang bagai burung yang terbang kesana kemari.
"Dimana Nabila sekarang? Dia sedang ngapain? Apakah dia berada di tempat yang aman dan nyaman."
Setelah satu jam lamanya berada di dalam kamar mandi, namun Adam masih belum juga menampakan batang hidungnya, Arumi mulai tersulut emosi pasalnya sekarang dia pun sudah siap untuk mandi dan mengganti baju yang sejak siang dia pakai.
Arumi pun berjalan mendekat ke arah pintu kemudian menggedor pintu dengan sangat kencang, lalu sedikit berteriak, "Dor ... dor ... dor ... sayang buruan dong keluar aku juga mau mandi nih."
Adam pun segera menyelesaikan mandinya. Tapi ketika dia sedang keramas rambut di tangannya sangat banyak tapi dia lebih memilih mengabaikannya karena dia berfikir bukankah rambut rontok biasa terjadi.
Kini Adam sudah menyelesaikan mandinya, dia pun segera keluar dengan menggunakan handuk sebatas pinggang. Arumi yang melihat penampilan Adam yang menurutnya menggoda, dia pun berniat ingin menggodanya tapi Adam memilih mengabaikannya.
Dengan perasaan kesal dan menghentakkan kakinya kelantai dia pun segera masuk kekamar mandi dan menghilang di balik pintu. Sementara Adam langsung menuju arah lemari dan mengambil pakaiannya di sana. Sesaat kemudian kini dia sudah memakai bajunya, dia pun segera berjalan kearah meja rias dan merapikan rambutnya di sana, tapi lagi - lagi rambutnya banyak tertinggal di sisir yang dia pakai. Dia pun memilih untuk cuek karena menurutnya itu adalah hal yang wajar.
Selang beberapa saat Arumi pun sudah menyelesaikan mandinya. Dia pun segera keluar dengan hanya memakai handuk sebatas dada dan di atas lutut.
Adam yang melihat itu hanya bisa menelan salivanya melihat pemandangan yang tersaji sekarang di hadapannya,
"Tidak usah menggodaku sekarang, buruan pakai bajumu lalu kita turun ke bawah," ucap Adam dingin dan cuek.
Arumi tidak kehabisan akal, kini tangan Arumi sudah melingkar di leher Adam secara mendadak karena memang jarak mereka saat ini sangat dekat dan Adam pun memegang pinggang Arumi.
"Apakah kamu siap untuk melakukannya sekarang?." tanya Adam sambil mencolek hidung sang istri. Tanpa menunggu jawaban dari Arumi, Adam pun segera memboyong tubuh sang istri keatas pembaringan dan mulai melancarkan aksi demi aksi dan itu membuat Arumi mendesah manja.
Ketika melancarkan aksi ketingkat yang lebih menantang tiba - tiba Arumi mendesah manja tapi desahannya bukan desahan kenikmatan melainkan desahan menahan sakit, perutnya tiba - tiba kram
"Auuuuwwwwwwww sayang perutku sakit, " rintihnya sambil mendorong tubuh sang suami agar segera turun dari atas tubuhnya.
__ADS_1
Adam pun segera turun dan duduk di samping sang istri dan mengelus perut buncit sang istri, "Apa nya yang sakit sayang? Apakah anak kita tidak menginginkannya?"
Dengan manjanya, "Sayang bantu aku bangun!" ucap Arumi sambil mengulurkan tangannya. Adam pun dengan cekatan membantu sang istri bangun.
Lagi - lagi dengan manjanya, dan memasang wajah sok imut, "Sayang bantu aku pakai baju!"
Adam pun segera berdiri dan berjalan kearah lemari, lalu mengambil baju sang istri yang sedikit lebih besar sekiranya bisa memberikan kenyamanan untuk sang istri dan calon anaknya.
...********************...
Malam kini menjelang.
Di meja makan
"Wah sayang masakanmu enak sekali," puji Mama Yulia sambil menyuapkan makannya kedalam mulut untuk yang kesekian kalinya dan itu berhasil membuat Nabila tersipu malu.
"Mama bisa aja, ini kan berkat Mama juga yang mengajarkan pada Nabila resep masakan ini."
Adrian hanya bisa tersenyum melihat wajah ceria dari dua wanita beda generasi itu.
Sambil melirik ke arah Adrian, "Benarkan sayang masakan Nabila enak." seketika Adrian tersedak karena mendapatkan pertanyaan mendadak dari Mamanya, dengan cepat Nabila dan Sang Mama menyodorkan air putih kepada Adrian.
"Nih minum dulu," ucap mereka pula dengan bersamaan.
Adrian hanya melirik kearah Nabila dan sang Mama, kemudian mengambil gelas yang di sodorkan Nabila dan Sang Mama dan meminumnya secara bergantian.
Dengan tersenyum, "Adilkan." 😂😂😂.
Sesaat kemudian kini mereka sudah berada di ruang keluarga sambil menikmati siaran televisi. Setelah sama - sama terdiam akhirnya Nabila pun buka suara, dan ini pun sudah Nabila fikirkan secara baik - baik dan mungkin ini lah saatnya untuk mengatakannya.
"Mah, Nabila ingin berkata sesuatu sama Mama tapi Mama jangan tersinggung ya."
Sang Mama pun menoleh kearah Nabila, "Ya katakan saja sayang, apa kamu menginginkan sesuatu nanti Adrian yang bantu cari kan." Seketika Adrian menatap wajah sang Mama dan Nabila bergantian.
Nabila pun menghembuskan nafas secara kasar dan kemudian mulai mengutarakan maksudnya, "Sebelumnya Nabila mau ngucapin terima kasih karena sudah mau menerima dengan baik Nabila di sini dan sudah menganggap Nabila seperti putri Mama sendiri. Nabila tidak bisa menggantung hidup sama Mama dan Mas Adrian terus menerus tanpa harus berbuat sesuatu. Kalau boleh Nabila mau hidup mandiri dan untuk memenuhi kebutuhan Nabila, Nabila akan bekerja."
...❤❤❤❤❤❤...
...TERIMA KASIH...
...❤❤❤❤❤❤...
__ADS_1