
Tiba hati ku jadi galau dan gundah. Ghea pun memegang tanganku, "Ayo buruan masuk orang - orang di dalam pasti sudah menunggumu."
"Aku takut."
"Sudah tidak apa - apa."
"Kamu temani aku masuk ya," ucap ku memohon seraya menangkupkan kedua tanganku di dada.
Ghea hanya menganggukan kepalanya sebagai jawabannya.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita turun sekarang!"
Aku hanya menganggukan kepalaku sebagai jawabannya. Kini aku dan Ghea sudah berada di teras rumah. Ghea yang sedari tadi memperhatikan aku dengan gelisah, "Anda kenapa Nona muda?" tanya Ghea.
"Aku gugup," ucapku pelan sambil menatap wajah Ghea.
"Sudah tenang, santai saja Nona," ucap Ghea seraya memegang pundakku.
"Hmmmmm...."
Baru mau melangkah masuk tiba - tiba...
"Tut ... tut ... tut ...." bunyi klakson mobil.
Aku dan Ghea pun sontak menoleh kebelakang. Sebuah mobil limosin jenis sedan dan memiliki body yang lebih panjang dan hanya orang - orang tertentu yang dapat memiliki mobil jenis ini. Keluarlah dari dalam mobil seorang wanita yang tampak tak lagi muda berjalan dengan anggun sambil menenteng tas hermes berwarna hitam yang kira - kira jika di kalkulasikan harga tas itu mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah. Ya dia adalah Nyonya Lusiana Widjayakusuma Ibunda dari Bima Widjayakusuma yang tak lain suami Bunda Irene Annisa Gunawan.
Walau usia tidak lagi muda tapi beliau masih tampak anggun dan cantik di banding dengan usia yang sebenarnya.
Kekayaan yang di dapat Tuan Bima selama ini berasal dari pemberian sang Ibunda. Semenjak sang suami pergi untuk selama - lamanya seluruh aset kekayaan Widjayakusuma jatuh ketangan istrinya lalu kemudian menyerahkan sepenuhnya perusahaan dan lain sebagainya untuk di urus dan di percayakan kepada putra satu - satunya yaitu Bima Widjayakusuma.
__ADS_1
Setelah tiba di teras rumah Nyonya Luciana pun membuka kecamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya itu. Sambil menatap tajam ke arahku, kaki hingga kepala, kepala hingga kaki.
Aku yang mendapat tatapan mata itu pun jadi salah tingkah dan mencoba menatap penampilan ku dari ujung kaki hingga bajuku.
"Tidak ada yang salah," gumam ku dalam hati. Aku pun menoleh ke arah Ghea, Ghea pun menoleh ke arah ku seolah - olah mengisyaratkan "Ada apa?"
"Kenapa kalian bengong disini dan tidak masuk kedalam," ucap sesorang dari arah yang lain. Aku dan Ghea pun menoleh kebelakang, nampak laki - laki yang sudah tak lagi muda namun masih gagah perkasa sedang berdiri tak jauh dari kami semua.
Ya, laki - laki itu adalah Tuan Bima Widjayakusuma.
Dia pun berjalan kearah kami semua.
"Ibu, sejak kapan datang? Dan kenapa datang tidak bilang - bilang terlebih dahulu kan bisa nanti Bima jemput di bandara?" ucap sang Anak seraya meraih punggung tangan sang Ibunda lalu menciumnya serta memeluknya. Setelah saling melepas pelukan. Nyonya Lucia pun tersenyum kemudian berucap, "Tak perlu di jemput, ibu masih ingat alamat rumahmu dan ibu belum setua itu," ucap sang ibu protes sambil menatap tajam kearah sang Anak.
Nyonya Kucia pun beralih manatap wanita yang sedari tadi diam mematung menyaksikan kedekatan antara ibu dan anak itu sambil melirik ke Bima, "Bim, siapa mereka?" tanya sang Ibu.
"Oh...." Ghea menyela ucapan Tuan Bima.
Aku pun meraih tangan Nyonya Lucia lalu mencium punggung tangannya, "Perkenalkan Nyonya nama saya Nabila."
Nyonya Lucia pun kembali menatap tajam ke arah sang Anak, "Bim, apa maksud Nona muda? Jangan bilang kalau cucu ku sudah menikah tanpa sepengetahuan ibu," ucap sang Ibu.
Sambil merangkul pundak sang Ibu, "Ibu kan capek baru datang ayo kita masuk dulu kedalam! Dan duduk cantik baru kita cerita - cerita bagaimana kehidupan ibu di sana dan bagaimana pengalaman Ibu tanpa ada kami semua dia sana menemani Ibu."
Nyonya Lucia hanya mengangguk kepala tanda mengerti.
...Setelah semua duduk di dalam....
"Ghea siapa dia," tanya Nyonya Irene seraya menatap Nabila lalu beralih ke arah Ghea.
__ADS_1
"Perkenalkan Nyonya nama saya Nabila."
"Nama yang cantik secantik orang nya. Tapi, ngomong - ngomong tidak usah panggil Nyonya, cukup panggil Ibu atau Tante atau Bunda," ucap Nyonya Irene menjelaskan seraya menatap wajah ku.
Ghea yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia kini ikut menimpali, "Nyonya ini lah wanita yang berhasil memakai sepatu itu. Dan wanita ini pula secara resmi yang akan menjadi calon istri Tuan muda."
Semua mata tertuju pada ku. "Jadi ini Yah orang yang di maksud Adam semalam? Wah cantik sekali Yah," ujar sang Istri menatap sang suami lalu menatap ku lalu berdiri dan duduk di sampingku.
Nyonya Irene pun menggenggam tanganku. Dengan malu - malu, "Tante apa kabar?"
"Jangan Tante dong sayang, panggil saja Bunda seperi Adam memanggiku." ucap Nyonya Irene seraya menyelipkan rambutku kebelakang telinga ku.
"Terima kasih Tante, Hmmm Bunda." ucap ku grogi.
"Hm ... Hm ...." deheman dari Nyonya besar Lucia.
Kami pun sontak menatap wajah Nyonya Lucia.
Nyonya Irene pun bertanya, "Ada apa Ibu?"
Dengan nada judes dan tidak suka, "Memang begini ya caramu saat bertemu calon ibu mertuamu?" tanya Nyaonya Lucia yang kini sudah menatap tajam kearah ku.
Delapan mata sontak mengarah ke arah Nyonya Lucia. Nyonya Lucia yang menyadari itu, "Kenapa kalian menatap ku seperti itu?"
...❤❤❤...
...Terima kasih untuk yang sudah berkenan mapir dan memberikan like dan komentar. Dan terima kasih juga atas like mode diam. maaf kagak bisa membalas komentar kalian satu persatu. Untuk yang ingin promk silahkan promo tapi sebelumnya like dulu ya karya author. lalu tinggalkan pesan di kolom komentar, dan tunggu kehadiran ku di karya keren anda semuanya....
...Terima kasih, semangat dan mari saling mendukung....
__ADS_1
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
...❤❤❤...