ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 119 Up Setengah hati Versi 5


__ADS_3

Keesokan hari nya Arumi sudah siap menjalankan misi sesuai yang di rencanakan dengan sang Ibu. Kini Arumi sudah siap dengan seragam ala kantor.


...Di teras rumah...


"Bu Arumi berangkat dulu," ucap Arumi sambil meraih tangan sang Ibu kemudian mencium punggung tangan sang Ibu, lalu berlalu pergi.


*****************


Sementara Adam di kantor sedang uring - uringan mengingat dan memikirkan ucapan sang Nenek. Kini dia sedang merebahkan dirinya di atas sofa empuk sambil meletakkan tangan di kepalanya. Dia bingung, dia gundah, sang Nenek sepertinya tidak main - main dengan ancamannya. Dan kali ini Adam yakin tidak akan bisa lolos dari ancaman sang Nenek dan hari ini juga banyak pekerjaan yang terbengkalai atas ketidak fokusannya dalam bekerja, beruntung dia memiliki seorang sekretaris yang dapat diandalkan dan selalu siap sedia menghandle semua tugas - tugasnya.


"Tok ... Tok ...." ketukan pintu dari luar.


Dengan nada malas, "Masuk."


Nampaklah wanita muda nan cantik, berpakaian sopan dan tertutup dari balik pintu. Wanita itu berjalan masuk dengan santai dan anggunnya.


"Hai, selamat siang," sapa wanita muda itu.


Adam pun membuka matanya dan nampak masih samar wanita cantik yang kini berdiri di hadapannya efek menutup mata terlalu lama dengan lengannya. Katika kesadarannya sudah terlumpul semua dan penglihatannya berangsung - angsur membaik, dia pun bangun dari tidurnya, "Silahkan duduk!" ucap Adam kepada tamunya di kala siang itu yang tak lain adalah Arumi.


"Tumben kesini ada keperluan apa?" tanya Adam yang nampak cuek dan terganggu dengan kehadirannya. Arumi pun memandangi wajah Adam dengan seksama, "Sepertinya kamu kurang sehat? Apa kamu ada masalah? Kalau ada kamu bisa cerita ke aku, barang kali aku bisa jadi teman atau sahabat dan aku siap jadi pendengar setiamu," ucap Arumi seraya memegang bahu Adam. Adam pun melirik dimana tangan Arumi.

__ADS_1


"Oh maaf."


Namun Adam hanya diam tak menjawab pertanyaan Arumi. Arumi pun membuang nafas secara kasar, "Ya sudah kalau tidak mau cerita tidak apa - apa."


Tapi, Arumi tidak kehabisan ide untuk terus menggodanya agar mau menoleh kepadanya, "Bagaimana kalau kita jalan - jalan. Ya siapa tau dengan jalan - jalan pikiran kamu jadi fresh kembali dan apa pun yang kamu hadapi sekarang walaupun aku tidak tau, semoga segera terselesaikan," ucap Arumi mencari perhatian agar Adam mau menerimanya menjadi sahabatnya walau ada sesuatu di balik itu semua. Adam pun membuang nafas secara kasar lalu kemudian berdiri dan berjalan ke arah pintu.


"Kamu mau kemana?"


Namun Adam tak menjawab, Arumi pun berdiri dan menyusulnya. Kini mereka sudah berdiri di lobi kantor dan mereka hanya diam dan tidak saling menyapa. Setelah terdiam akhirnya Adam pun membuka suara, "Ada keperluan apa Kakak kesini?" ucap Adam tho the poin.


Arumipun menatap wajah Adam, kemudian menetralkan kembali pandangannya kedepan, "Tidak ada. Hanya kebetulan lewat karena aku tau kalau ini kantor kamu dan aku kira ada Nabila di sini makanya aku singgah." ucapnya berbasa basi.


"Oh...."


Dengan senyum mengembang, "Baiklah. Tapi, jangan panggil aku Kakak dong, panggil Arumi aja biar lebih akrab geto."


"Hmmmm ... baiklah."


Kini mereka sudah berada di dalam mobil dan sudah menuju kesalah satu restoran yang tak jauh dari kantor.


*************

__ADS_1


"Sekarang Tommy ada di mana ya Pah?" tanya sang Istri yang kini tengah sibuk di taman belakang sambil menikmati makan siang. Hari ini mereka hanya ingin terlihat dimata semua orang tidak memiliki beban hidup yang sangat berat setelah aib yang di perbuat sang Anak sementara sang Anak sendiri hilang entah kemana bak di telan bumi.


"Entahlah Mah, Papa juga tidak tau di mana Tommy sekarang. Anak buah papa sudah papa kerahkan keseluruh penjuru kota ini tapi hasilnya nihil dan dari keterangan mereka sepertinya Tommy benar - benar pergi jauh dari kota ini."


Mama Dinda pun membuang nafas secara kasar dan tak terasa butir - butir kristal kini jatuh satu persatu membasahi pipinya.


Sambil menggenggam tangan sang Istri, "Sudahlah Mah jangan menangis semoga di luar sana Tommy baik - baik saja dan tidak menjadi gembel kebutuhannya terpenuhi semua."


"Apa Mama keterlaluan sama Arumi dan ini membuat Tommy tak terima sehingga dia lebih memilih pergi dari rumah ini dan meninggalkan kita? Apa lagi sekarang Arumi hamil anak Tommy? Tapi tunggu dulu bukankah Arumi punya hobby gonta ganti pacar? Dan apa Papa yakin kalau itu cucu kita? tanya sang Istri panjang lebar.


Sang suami hanya bisa mangguk - mangguk menanggapi kata - kata sang istri.


"Mama jangan suudzon begitu. Mari kita tes apakah benar cucu kita atau bukan sebelum mama memvonis seseorang. Ujung - ujungnya jadi dosa tau Mah."


"Memang benar kan pah apa yang mama bilang. Buktinya anak kita yang sudah jadi korban."


"Tapi ini kan lain cerita Mah."


sang istri tidak lagi menjawab.


...*****************...

__ADS_1


...TERIMA KASIH...


...*****************...


__ADS_2