ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 111.


__ADS_3

Di tempat yang berbeda kini mereka semua sudah siap untuk menuju gedung aula yang tertera di dalam undangan.


⭐⭐⭐⭐⭐


Di perjalanan Ibu Yana tak henti - hentinya menyunggingkan senyum yang sulit di artikan, di dalam benaknya kini menari - nari entah permainan seperti apa yang akan dia main kan sebentar lagi.


Beberapa saat kemudian kini mereka sudah tiba di tempat tujuan hampir bersamaan. ketika mereka sama - sama berada di luar mobil Nabila pun melihat sang Ibu dan kedua kakaknya berdiri tak jauh dari mobilnya. "Assalamualaikum Bu, Apa kabar?" salam sapa Nabila ketika melihat Ibu beserta kedua kakaknya masih berdiri di parkiran tak jauh dari mobil, lalu Nabila pun berjalan mendekat bersama sang suami dan menyalami lalu mencium punggung tangan sang Ibu beserta ke dua tangan sang Kakak, begitu pula dengan Adam melakukan hal yang sama seperti sang Istri.


"Waalaikumsalam," jawab serempak Ibu dan kedua anak - anaknya.


"Kabar Ibu baik," seraya menatap malas kepada Adam karena gara - gara keluarganya Arumi harus menderita.


"Hai Dek apa kabar? Bagaimana sudah ada tanda - tanda belum kalau aku akan segera jadi paman?" tanya Akbar seraya menatap wajah sang Adik dan Adik ipar secara bergantian. Nabila dan Adam pun hanya bisa saling berpandangan, kemudian menggeleng dan tertunduk lesu.


"Mandul kali tuh," ucap sang ibu nyerocos dan menekankan kata "Mandul."


Semua orang yang ada disana hanya bisa menatap tajam kearah sang Ibu tapi tidak dengan Nabila. Nabila hanya bisa tertunduk dan diam merasakan sakit yang teramat sangat pedih mendengar ucapan sang Ibu yang menurutnya sungguh sangat keterlaluan.


"Jaga ucapan Ibu, apa Ibu tau kalau setiap kata adalah do,a dan apa Ibu mau kalau Nabila mandul dan tak bisa memberi aku keturunan dan juga kepada Ibu, apa Ibu tidak mau kalau di beri seorang cucu yang akan menemani mu di kala usiamu sudah senja nantinya." ucap Adam membela sang Istri seraya mempererat genggamanan tangan mereka untuk saling mengalirkan energi positif.


"Ibu ngomong apaan sih," lerai keributan kecil antara sang Ibu dengan sang menantu.


Dengan sewotnya dan memutar kedua bola matanya seraya bersedekap dada, "Lah memang benar kan adanya. Jika dia tidak mandul lalu kenapa sampai sekarang dia belum memberi Ibu cucu, ha...."

__ADS_1


Ketika Akbar ingin membalas perkataan sang Ibu, Arumi terlebih dahulu angkat bicara, "Sudah, sudah, kita berada disini karena ingin meramaikan acara ulang tahun perusahaan, bukan untuk berdebat dan saling menjatuhkan. So, pliss hentikan dan sekarang mari kita masuk kedalam. Dan soal Nabila bisa hamil atau tidak ,ngapain juga kita repot - repot harus memikirkan itu paling tinggal kita tunggu dia ditendang dari rumah mertuanya," ucap Arumi seraya tertawa puas karena dapat menghina saudara nya sendiri dan mempermalukan saudaranya di tempat umum dan secara tidak langsung rasa sakit hati kepada keluarga Widjaya sedikit bisa terobati melalui Nabila tepat didepan sang suami atau cucu wanita yang sudah mempermalukannya beberapa bulan yang lalu.


Adam yang mendengar itu terasa ada sengatan alur listrik yang mengalir di dalam tubuhnya secara mendadak dan tanpa persetujuan dan rasa - rasanya dia ingin melayangkan satu tonjokan kepada bibir cantik Arumi agar lain kali kalau bicara pake saringan terlebih dahulu. Namun, mungkin disini Adam harus bersabar karena tidak mungkin dia memukul seorang wanita, lebih - lebih dia adalah kakak iparnya sendiri yang harus dia hormati.


Dengan tersenyum, "Setiap kata adalah do,a dan semoga ucapanmu kelak menjadi bumerang untukmu sendiri."


Dengan tatapan sinis, dan mengejek, "Ha ... ha ... ha ... mana mungkin penyakit begituan level denganku. Itu hanya berlaku untuk orang mandul seperti kalian. Terutama istri tercinta mu itu."


"Arumi." bentak sang Kakak.


Dengan Wajah kesal, "Ada apa kak?"


"Sudah cukup dan sekarang kalian masuk." perintah sang kakak dengan nada membentak dan malu atas ucapan sang Adik yang menghina saudaranya sendiri didepan suaminya dan di depan orang - orang yang kini sedang menatapnya aneh.


"Sudah ah bu yuk kita masuk kedalam. Kaki Arumi sudah pegal berdiri disini dan semakin lama kita disini bisa mood Arumi lebih tambah buruk lagi." ucap Arumi,Arumi pun menghentakkan kakinya kemudian pergi sambil menarik tangan sang Ibu.


Akbar pun mendekat dan memegang pundak Adik iparnya itu, "Maafkan atas perkataan ibu dan Arumi. Bukan niat mereka untuk menjatuhkan Nabila. Mereka hanya bercanda, kamu kan tau sendiri mereka jarang bertemu dan baru kali ini mereka bertemu kembali. Aku harap setiap kata yang mereka ucapkan tidak kamu masukan kedalam hati," ucap Akbar tulus minta maaf atas perlakuan sang Ibu dan Adik yang memang sangat diluar batas.


Dengan tersenyum, "Baiklah aku maafkan."


"Terima kasih."


"Oh iya hampir lupa dengan tujuan awal kita kesini. Ayo kita masuk sekarang," Sambil melihat arloji yang melingkar di tangannya, "Sebentar lagi acara akan dimulai." ucap Akbar seraya berlalu pergi.

__ADS_1


Kini hanya ada mereka berdua, sambil mengelus - elus tangan sang Istri, "Sudah ... sudah ... jangan sedih lagi. Bagaimana mau kita lanjutkan atau kita pulang kerumah saja."


Dengan suara pelan dan parau efek habis menangis, "Kita pulang saja."


"Yakin tidak masuk kedalam?"


"Hmmmmm...."


"Ini acara penting loh?"


"Biarkan saja. Aku ingin pulang kalau kamu mau masuk, ya masuk lah sendiri aku tetap mau pulang." ucap Nabila yang kini sudah memutar balikkan badannya dan kemudian melangkahkan kakinya pergi.


Adam hanya bisa mengikuti kemauan sang istri dan mengikutinya dari belakang dengan berjalan kaki. Hancur, sedih dan kecewa mungkin inilah yang dirasakan Nabila saat ini.


Nabila terus saja berjalan tanpa memperdulikan panggilan sang suami sedari tadi, tapi Adam bisa apa selain membiarkan sang istri mungkin inilah yang di butuhkan sang istri sekarang tanpa harus melibatkan diri. Membiarkan sang istri menenangkan diri dengan caranya tapi tetap masih dalam pengawasannya.


Mereka terus berjalan dan menjauh dari gedung acara itu, tanpa sepata kata pun. Air mata kini kian deras turun membasahi pipinya. Tiba - tiba di rasakannya air turun satu persatu dari atas langit, Nabila pun segera menengadahkan tangannya dan semakin lama air itu turun semakin deras dan membuat Nabila basah kuyup namun tak menyurutkan hatinya dan tak berniat sama sekali untuk mencari perlindungan apa lagi di sekitar dia berdiri sekarang ada halte bis.


Dengan masih menengadahkan kedua tangannya, "Aku titipkan rindu ini pada langit untuk di sampaikan kepada Ayah lewat hujan. Sederas apa pun hujan turun, semenakutkan apapun hujan turun, sesakit apapun hujan turun, hujan tetaplah air yang akan selalu menghadirkan sesuatu kenangan dan kelembutan."


Dilihatnya ada sedikit senyum yang terpancar di wajah sang istri ketika berbaur dengan hujan.


...❤❤❤❤❤❤...

__ADS_1


...NO BULLY, SEMANGAT UP DAN TERIMA KASIH....


...❤❤❤❤❤❤...


__ADS_2