
Kini Arumi sudah di dalam kamar. Kamar yang semula rapi, bersih dan barangnya tertata pada tempatnya kini sudah tidak lagi. Kini kamar sudah tidak layak di sebut kamar. Sang Ibu yang mendengar ada kegaduhan dari kamar sang anak pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya keluar kamar menuju kamar sang Anak.
Sang Ibu pun membuka pintu kamar sang Anak dengan sangat pelan - pelan dan mendapati tubuh sang Anak yang kini duduk termenung dan berantakan di depan tempat tidurnya. Sang Ibu pun berjalan mendekat dan duduk di samping sang Anak dan menepuk pelan pundak sang Anak, "Rumi sudah dong, jangan kayak gini."
Dengan masih sesegukan dan sekali - kali menghapus air matanya dengan tangannya tanpa menatap wajah sang Ibu, "Kenapa Ibu tega melakukan ini pada Arumi? Tommy ada salah apa sama Ibu?"
Dengan membuang nafas kasar, "Sudah lah Rumi ibu tidak mau lagi membahas ini. Lagi pula Ibu melakukan ini semuanya untuk kamu, semua untuk kebaikanmu."
Dengan tatapan sayu dan masih menitikkan air mata, "Kebaikan seperti apa yang Ibu maksud? Kebaikan seperti apa?Apakah dengan mengorbankan masa depam Arumi bisa di sebut kebaikan? Dimana harga diri Arumi sebagai wanita Bu dimana?"
"Sudah lah Ibu males dan bosan debat sama kamu. Ibu keluar dulu." ucap sang Ibu seraya berdiri dan berlalu pergi, kata - kata sang Ibu membuat luka hati Arumi bertambah hingga berkali - kali lipat.
**************
Di kediaman Widjayakusuma.
"Habibi ayo bangun ini sudah hampir siang. Kamu tidak mau kekantor?" ucap Nabila seraya berjalan kearah jendela dan membuka gordennya hingga nampaklah pancaran sinar matahari menembus kaca jendela yang transparan.
Namun Adam hanya menggeliat lalu kemudian tidur kembali. Nabila pun meninggalkan sang suami di dalam kamar sendirian, lalu segera turun kelantai bawah untuk membantu Ibu mertua dan para pelayan untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Assalamualaikum, pagi Bunda." sapa Nabila setelah sudah tiba di dapur.
"Waalaikumsalam, pagi sayang. Oh ya mana Adam?" tanya sang Bunda ketika melihat sang menantu yang datang sendirian.
Sambil membantu sang Ibu mertua, "Adam masih tidur Bun."
Bunda Dinda pun mengentikan aktifitasnya, "Apa Adam masih tidur. Yang benar saja, apa dia tidak ingin bekerja?" ucap sang Ibu seraya melanjutkan aktifitasnya.
"Apa kalian sedang menggosipkan aku?" tanya seseorang yang baru hadir tak jauh dari dua wanita yang di cintainya itu. Mereka pun menoleh kesumber suara. Sang Bunda pun menyambut kedatangan putra semata wayangnya itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Sambil melambaikan tangan, "Sini sayang duduk di sini dekat Bunda!" ucap sang Bunda melambaikan tangan agar sang anak mendekat. Adam pun menurut.
"Pagi habibah," ucap Adam seraya mencium kening sang istri. Nabila yang mendapat perlakuan itu hanya bisa tertunduk malu pasalnya bukan hanya mereka berdua yang ada di sana melainkan sang Ibu mertua pun ada di sana.
"Ekhem ... ekhem ... Bunda ada disini tau." ucap sang Bunda dengan sewotnya. Adam pun mengitari meja makan dan memeluk Bunda sebatas reher, "Adam sayang Bunda."
__ADS_1
Sang Bunda yang mendapat perlakuan itu serasa aneh sebab selama ini sang Anak tidak pernah bermanja seperti ini atau bahkan untuk memeluknya seperti sekarang pun tak pernah.
"Ada apa denganmu sayang, tidak biasanya kamu memeluk Bunda seperti ini," ucap sang Bunda seraya memegang pergelangan tangan sang Anak.
"Entahlah Bun, ada apa dengan Adam, bahkan sekarang aja nih ya Bund," seraya melepas pelukan kemudian duduk di kursi yang ada di samping Bunda, "Bahkan saat ini Adam pingin banget di suap sama Bunda dan habis di suap temani Adam kekantor, Adam pingin Bunda temani Adam dikantor."
Bunda dan Nabila yang mendengar itu hanya bisa mengerutkan kening dan saling melempar pandang tanda tak mengerti ada apa dengannya.
"Habibi kamu kenapa?" tanya sang Istri.
Adam pun hanya bisa mengangkat bahunya tanda tak mengerti.
🍏🍏🍏🍏🍏
Sekarang Adam sudah berada di dalam mobil bersama sang Bunda dan Nabila.
Sambil mengenggam tangan sang menantu, "Tumben sayang mau kegalery hari ini. Apa disana ada masalah?"
Sambil menoleh ke arah sang Bunda, "Hanya lagi kepingin aja Bun, sudah lama juga Nabila tidak ada berkunjung kesana."
****************
...4 Bulan kemudian...
...*******************...
Semenjak kejadian itu hubungan Tommy dan Arumi kian bertambah harmonis dan romantis walau pun sampai sekarang belum mendapatkan restu dari sang Mama dan kejadian di malam itu terlupakan begitu saja. Sementara hubungan Arumi dan sang Ibu pun kian membaik dan berangsur - angsur melupakan kejadian itu.
Sementara dilain sisi Siska semakin gencar mengejar Tommy yang sudah jelas - jelas tidak menyukainya sama sekali. Bahkan dia semakin tak segan dan tak tau malu meminta kepada Mama Dinda agar segera melamar dirinya di depan orang tuanya.
Siang itu di moll terbesar yang ada di kota itu kini Mama Dinda, Siska dan Tommy sedang menemani mereka berbelanja. Pada saat yang bersamaan pula, Arumi dan Ibu Yana juga ada di sana sedang melakukan hal yang sama.
Sambil bergelayut manja di lengan Tommy dan tak tau malu jika beberapa pasang mata untuk saat ini sedang memperhatikan mereka dengan tatapan jijik. Tommy yang menyadari itu kini perlahan - lahan melepaskan tautan tangan siska dan jaga jarak dengan Siska dan itu membuat Siska marah dan tak terima.
Pada saat mereka sedang asyik memilih barang keperluan mereka tanpa sengaja mereka pun bertemu.
__ADS_1
"Sayang kamu juga ada disini?" tanya Arumi tatkala melihat pria yang di cintainya kini berdiri di hadapannya.
Sambil tersenyum, "Iya sayang, aku disini menemani Mama dan Siska sedang belanja. Kamu sendiri kesini dengan siapa?"
"Rumi coba lihat baju ini lucu deh," ucap sang Ibu yang datang dari arah belakang dan membawa satu gaun nan indah di tangannya.
"Eh ada Nak Tommy. Kamu ngapain disini?" tanya Bu Yana.
"Tommy menemani Mama belanja."
Sambil memperhatikan sekeliling, "Mama kamu mana?" tanya Bu Yana penasaran karena yang dilihatnya sekarang Tommy hanyalah sendirian tidak bersama dengan siapa - siapa.
"Yuk Tom kita pulang." ucap wanita paruh baya sambil membawa beberapa paper bage di tangan dan menggandeng tangan wanita cantik yang tak lain adalah Siska dan mereka datang dari arah samping.
Tommy pun menoleh, "Mama sudah belanjanya?" tanya Tommy ketika jarak mereka dekat.
"Sudah." jawab sang Mama Dinda singkat.
"Bund buruan dong jalannya, ada seseorang yang mau Tommy kenalkan kepada Mah," ucap Tommy.
"Siapa sih Tom?"
Kini Mama Dinda dan Bu Yana bertemu mereka hanya saling tatap menatap satu sama lain. Dari sorot mata keduanya seolah - olah membangkitkan rasa sesuatu yang sangat sulit di artikan. Arumi, Tommy dan Siska hanya bisa menatap heran pada wanita paruh baya itu dan hanya bisa saling melempar pandang ada apa dengan kedua orang tua mereka.
Dengan sikap dingin dan tak bersahabat tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah Bu Yana, "Jadi, ini Tom Ibu nya Arumi."
"Iya Mah. Memangnya kenapa?"
"Kamu yakin masih mau menjalin hubungan asmara dengannya setelah tau apa yang sudah dia perbuat sama keluarga kita?"
...🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏...
...NO BULLY, TERIMA KASIH...
...🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏...
__ADS_1