
Dikampus......
"Pagi ... Varo?"
"Pagi Anjani. Ngapain kamu berdiri di parkiran? Apa kamu sedang menunggu seseorang?"
"Iya nih aku sedang menunggu Chandra, kok lama sekali ya dia belum juga menampakan batang hidung nya padahal dosen pagi kan sebentar lagi masuk ruangan." ujar Anjani seraya menatap jam tangan yang melingkar cantik di pergelangan tangannya.
"Oh... menunggu Chandra paling sebentar lagi dia juga datang." ucap Varo seraya menatap wajah Anjani penuh arti.
Sambil menggerak - gerakkan tangannya di depan wajah Varo, "Varo ... hei ... Varo apakah diwajah ku ada yang salah?" tanya Anjani seraya meraba - raba wajahnya.
Dengan tergagap, "Tidak ada yang salah dengan wajahmu." ucap Varo.
"Hmmmmm..."
"Ya sudah yukkkk kita tunggu chandra di dalam ruangan saja." ucap Varo sambil melangkah pergi dan disusul Anjani dibelakang.
Dirumah besar nan megah.
"Kirana ... bangun!" ucap Mama Dinda sambil menepuk pelan pipi Kirana.
"Oma ... bawel, Kirana masih ngantuk tau." ucap Kirana sambil membenarkan posisi selimutnya dan menutupi sebagian tubuhnya.
"Benar - benar nih anak bikin naik darah aja ya pagi - pagi. Ibu ngajar Kirana gimana sih selama berada di luar negri? Apa begini ya didikan Ibu selama disana? Dimanjakan berlebihan ya begini ni hasilnya. Anaknya susah di atur dan harus kemauannya sendiri dituruti." Ucap bunda Irene dalam hati seraya berjalan kearah jendela dan membuka tirai - tirai yang masih setia menutup jendela kamar Kirana.
"Omaaaaaaaaaa ..... apa - apaan sih, silau tau." Ucap Kirana.
"Biarin." Ucap Bunda Irene seraya berlalu pergi meninggalkan Kirana yang masih ngoceh tidak jelas di atas pembaringan.
Sambil berjalan menuruni anak tangga dan memegangi pelipisnya yang terasa sakit, "Ibu mendidik tu anak gimana sih, baru juga beberapa hari di rumah sudah membuat kepala ku pusing tujuh keliling, bagaimana kalau dah cukup sebulan, dua bulan bisa - bisa kena strok dadakan aku." ucap bunda Irene sambil terus berjalan menuruni anak tangga.
"Loh, loh Bun, tuh muka kok cemberut aja padahal masih pagi!"
__ADS_1
"Itu loh Yah cucu kesayang Ibu, benar - benar membuat Bunda kesal minta ampun."
"Memangnya apa yang dia perbuat?"
"Masa Ayah lupa hari ini kan hari pertama dia masuk kuliah, tapi dia belum juga bangun malahan semua badannya ditutup dengan selimut."
"Ada apa nih ribut pagi - pagi?" tanya Nyonya Luciana yang datang dari arah dapur.
"Ibu." ucap Ayah Bima dan Bunda Irene Bersamaan.
"Di tanya kok malah bengong, ada apa pagi - pagi dah seperti orang di pasar aja?"
"Cucu kesayang Ibu tuh belum bangun jam sudah hampir jam 8 pagi. Memang dia tidak mau kuliah? Memang kampus yang dia tempati itu milik nenek moyangnya, bisa datang sesuska hatinya."
"Jaga mulutmu Irene! Bima ... telepon pemilik kampus itu tanya kedia berapa sih harga kampusnya itu, ibu mau membelinya! Kalau perlu seluruh kampus yang ada di kota ini ibu mau membeli semuanya. Biar cucu kesayangan Ibu mau berangkat jam berapa pun dan mau pulang jam berapa pun bisa suka - suka dia."
Sambil melototkan mata dan menatap kearah Nyonya Luciana, dengan masih rasa heran, "Ibu serius?" tanya Ayah Bima.
"Pagi oma, pagi opa!"
Sapaan itu membuat mereka menoleh keasal datangnya suara.
"Pagi cucu kesayangan omah." Ucap Nyonya Luciana seraya berlalu pergi meninggalkan sang anak dan menantunya.
"Pagi sayang. Bagaimana apa kamu dah siap untuk pergi kuliah?"
"Siap dong Oma."
"Ya udah kamu hati - hati di jalan, kalau ada yang macam - macam sama kamu di kampus katakan sama oma biar oma bereskan mereka."
"Syiaaappppp omah."
**********
__ADS_1
Dikampus.
Sambil menelusuri koridor kampus tiga sekawan itu berjalan sambil mengobrol.
"Chan, kamu dah dengar belum kalau hari ini kampus kita akan kedatangan mahasiswi baru? Katanya sih pindahan luar negri gitu."
Padangan tetap lurus kedepan, "Aku baru dengar."
"Iya aku juga baru dengar." Ucap Tiara ( Lupa ya nama ceweknya so author ganti dehππ ) ikut menimpali.
"Aduh kalian ini gimana sih, masa teman satu kelas kalian tidak tau."
"Ya mau gimana lagi kan emang tidak tau." Ucap Chandra seraya menoleh ke arah Tiara.
"Yup aku juga tidak tau."
"Dengar - dengar sih dia cantik dan anak orang kaya."
Sambil merangkul bahu Varo, "Apakah abangku ini menyukai wanita yang belum pernah dilihatnya, yang dia dengar baru dari katanya?"
Sambil melipat kedua tangannya di dada, "Issss apaan sih. Kamu juga kalau dah lihat dia pasti naksir."
"Aku bukan kamu, yang tidak bisa lihat bening - bening dikit saja dah mata kayak mo lepas noh dari tempatnya."
"Issss dasar adek kurang asem."ππ
Mereka pun tertawa bersama - sama.πππ
...ππππ...
...Terima kasih...
...ππππ...
__ADS_1