ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 147. CLBK 11.


__ADS_3

...1 Minggu kemudian...


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Sudah seminggu Varo nampak murung pasalnya hari Ayah semakin dekat dan Ayah nya belum juga datang - datang jika bertanya dengan sang Ibu sudah dapat dipastikan jawabannya akan sama. Kini Varo sudah berada di dalam kamar sedang mengurung diri, menangis? Ya mungkin dengan menangis adalah solusi yang terbaik untuk saat ini.


Sambil menengkurapkan badannya di atas pembaringan, sambil pula menangis dan menyebut nama Ayah.


"Ayah... hiks ... hiks ... Kenapa Ayah belum pulang - pulang juga? Apa Ayah tidak merindukan Varo?"


Arumi yang sejak makan malam merasa ada yang tidak beres kepada sang anak, dia pun berjalan ke arah kamar sang anak sambil membawakan susu dan beberapa cemilan kesukaan Varo sambil menemaninya belajar karena itulah kebiasaan dia, sebelum tidur Arumi akan menemaninya untuk belajar.


Kini Arumi sudah berdiri di depan pintu sang Anak, "Tok ... tok ... sayang apa kamu sudah tidur?" tanya Arumi dari luar.


"Sayang Mama masuk ya?"


Kini Arumi sudah di dalam. Dia pun mendapati sang anak sedang menengkurapkan badannya di atas pembaringan sambil menangis. Arumi pun mempercepat langkahnya dan segera meletakkan nampan yang dia bawa di atas meja yang ada di dalam kamar itu. Kemudian menghampiri sang anak dan duduk di tepi pembaringan sang anak. Sambil mengusap kepala sang Anak, "Sayang kamu kenapa? Kalau kamu ada masalah kamu bisa cerita ke Mama, barang kali aja Mama bisa bantu. Hmmmmmm... ayo sayang cerita! Masa laki - laki cengeng."


Varo pun bangun dan langsung memeluk sang Ibu dengan mata yang kini agak membengkak dan hidung memerah efek menangis.


Sambil tetap mengalungkan tangannya di leher sang Ibu, "Mama, kapan Ayah pulang? Varo sudah rindu ingin bertemu Ayah."


Dada Arumi serasa sesak mendengar penuturan sang pangeran kecil dan pertanyaannya ini bukan lah pertanyaan yang pertama melainkan pertanyaan yang sudah berulang kali Arumi dengar.


Sambil mengusap lembut kepala sang pangeran dengan derai air mata yang kini bercucuran dari kedua mata indahnya, "Sabar sayang sebentar lagi Ayah pasti pulang. Sudah ya jangan menangis lagi. Masa laki - laki cengeng."


Sambil sesegukan, dan tetap pada pelukan sang Ibu, "Iya Mah tapi kapan Ayah pulang? Varo rindu Ayah. Varo ingin bertemu Ayah. Hiks ... hiks ... hiks ...."


"Sabar sayang. Sebaiknya Varo bobok ya sudah malam!"


"Temani Varo bobok di sini!"


"Baiklah pangeran kecil Mama akan tidur di sini bersama mu."

__ADS_1


Mereka pun mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur milik sang pangeran kecil, dan tidak lama kemudian mereka terlelap dalam buaian mimpi indah.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


Di tempat yang lain, kini Tommy sudah siap - siap untuk kembali ke kota C setelah beberapa hari melakukan perjalanan dinas keluar kota. Sambil duduk di tepi tempat tidur, tiba - tiba pangeran kecil yang dia jumpai di sekolah waktu itu bersama Arumi kini terlintas dalam benaknya.


"Siapa dia dan kenapa malam ini aku sangat merindukannya? Aku sangat ingin melihat wajahnya, memeluknya dan menciumnya."


Dia pun melihat jam tangan yang melingkar sempurna di tangan kirinya, "Masih Jam 8 malam, apa sebaiknya aku keluar sebentar, aku ingin membelikan sesuatu untuk pengeran itu, ahhhh.... sebaiknya tidak usah aku bawa saja dia besok jalan - jalan dan biarkan dia memilih apa yang mau dia beli."


Setelah berkutat dengan dilema persaannya akhirnya Tommy memutuskan untuk tidur karena besok dia akan melakukan penerbangan pagi untuk kembali kekota C.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


Di kamar kini Adam sedang berbicara dengan sang nenek dengan seriusnya.


"Jadi apa rencana kamu sekarang untuk mengambil hak asuh si kembar yang ada pada mantan istrimu itu?"


Adam pun menatap wajah sang Nenek, "Apa harus kita ambil mereka? Tidak bisakah 1 minggu di sini, satu minggu mereka di sana bersama Bundanya?"


"Lalu?"


"Yang Nenek mau hak asuh jatuh ketangan kamu seutuhnya."


"Caranya."


Sambil senyum menyeringai, "Masuk dan hancurkan rumah tangga mereka dengan begitu kamu akan dengan sangat mudah mendapatkan, apa yang seharusnya memang kamu dapatkan."


"Apa Nenek yakin dengan cara begitu kita akan mendapatkan apa yang kita mau."


"Nenek sangat yakin."


"Baiklah akan Adam coba."

__ADS_1


...🍨🍨🍨🍨🍨🍨🍨🍨🍨...


Sambil berjalan mondari mandir, "Yah cari solusi bagaimana cara kita untuk mencegah niat jahat Ibu kepada Nabila. Apa selama ini Ibu belum juga puas menyakiti Nabila?"


Tanpa sengaja ketika melintas di depan kamar sang Ibu mertua, Bunda Irene dan Ayah Bima mendengar perbincangan mereka yang kebetulan juga pintu kamar Nyonya Luciana tidak tertutup rapat jadi dengan leluasa Bunda Irene dan Ayah Bima masuk kedalam tanpa mereka sadari keberadaannya.


Sambil membuang nafas secara kasar, "Bunda mau Ayah berbuat apa? Kan kamu tau sendiri bagaimana watak Ibu dan jika sudah menginginkan sesuatu bagaimana pun caranya harus Ibu dapatkan."


"Ya terus apa kah Ayah rela melihat rencana Ibu akan menghancurkan rumah tangga Nabila? Ayah cukup satu kali Ibu menyakiti Nabila dan jangan sampai kejadian serupa kembali terjadi untuk yang kedua kalinya."


"Jika Bunda sudah siap mati untuk Nabila silahkan ikut campur dalam rencana Ibu. Bukannya Ayah tidak sayang pada Nabila tapi Ayah terlalu pengecut untuk menghentikan langkah kaki ibu. Mungkin Ayah akan berdo,a semoga Nabila di mana pun berada selalu dalam lindungan Tuhan yang maha Esa dan rencana jahat Ibu tidak tersampaikan untuk Nabila."


"Aamiin."


"Ya sudah Bun ayok kita istirahat." ajak sang suami yang kini sudah berdiri dan berjalan kearah lemari untuk mengambil pakaian tidurnya, lalu menggantinya di dalam kamar mandi.


...🍔🍔🍔🍔🍔🍔🍔🍔🍔...


Pagi ini seperti biasa sebelum Arumi berangkat kerja, Arumi akan mengantar Varo kesekolah. Kini mereka sudah berada di halaman sekolah dan mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan mengantar sang pangeran kecil hingga di ambang pintu kelasnya.


Sambil berjongkok mensejajarkan tinggi tubuh sang pangeran kecil, serta mengusap lembut rambut si pangeran kecil, "Sayang udah dong jangan cemberut mulu!"


Sambil tertunduk, "Iya Mah."


"Sayang senyum dong!"


"Iya Mah." ucap Varo yang kini mengangkat wajahnya kemudian tersenyum walau kesan di paksakan.


Sambil tersenyum, "Ini baru pangeran Mama. Ya sudah kamu masuk dan belajar yang benar ya sayang beberapa jam kedepan Mama akan datang menjemputmu." ucap Arumi seraya mengecup kening sang pangeran kecil.


Sambil mengangguk, "Hmmmmm...." Varo pun mencium punggung tangan sang Ibu kemudian masuk kedalam kelas dan duduk di kursinya.


...****************...

__ADS_1


...TERIMA KASIH...


...****************...


__ADS_2