
Note : Panggilan Ayah di rubah ya jadi Papa.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
"Lalu kenapa kita tidak tinggal sama Papa dan Nenek?" tanya Varo dengan rasa penasarannya.
Arumipun menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya secara berlahan, "Sayang perjalanan kisah cinta Mama dan Papa dulunya sangat, sangat rumit bahkan tidak di restui oleh nenek yaitu orang tua Papa."
"Kenapa bisa begitu? Apa Mama dulu nakal? Kata Mom di sekolah tidak boleh nakal kalau kita nakal orang nggak akan ada mau yang berteman."
Sambil mencubit pipi sang anak, "Hebat anak Mama. Suatu saat nanti kelak Varo sudah dewasa Varo akan mengerti dengan semua cerita yang Mama ceritakan sama Varo. Sekarang sudah malam yuk Mama temani Varo bobok!"
"Siap Mah."
Mereka pun beranjak dari duduknya dan berjalan kearah tempat tidur Varo.
...🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏...
Keesokan Harinya.
Sesuai dengan harapan tes Dna telah keluar, Mama Dinda sedang menunggu hasil lab rumah sakit di rumah setelah sebelumnya di kabarkan dari dokter Teguh bahwa hari ini akan ada petugas rumah sakit yang akan mengantarkan langsung kekediamannya dan dari hasil tes Dna Varo dan Tommy di nyatakan 99,999999999 %😂😂 memiliki kesamaan.
.
.
.
.
Ting ... Nong ... Ting ... Nong ...." Bell berbunyi.
Mama Dinda pun segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu utama.
"Ceklek," pintu terbuka.
"Pagi Bu," Sapa tamu di pagi itu.
"Pagi Pak, Maaf apa ada yang bisa saya bantu?"
Dua petugas itu pun tersenyum dan satu di antaranya ada yang mengeluarkan amplop putih dari dalam tas jinjingnya dan menyerahkannya pada Mama Dinda.
"Ini Bu ada titipan dari Dr. Teguh," ucap petugas itu seraya tersenyum ramah.
__ADS_1
Mama Dinda pun menerimanya, "Terima kasih ya Pak." ucap Mama Dinda berbasa basi.
"Oh iya Pak, apa tidak masuk kedalam dulu!" ucap Mama Dinda.
"Tidak usah Bu kami harus kembali kerumah sakit sekarang." tolak petugas itu dengan halus dan sopan.
"Oh iya kalau begitu sekali lagi terima kasih."
"Sama - sama Bu, kalau begitu kami permisi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati - hati di jalan Pak." ucap Mama Dinda kemudian masuk kembali kedalam rumah dan menutup pintu.
"Tommy ... Tommy ...." teriak Mama Dinda seraya berjalan masuk lebih dalam kedalam rumah.
"Apa sih Mah masih pagi dah heboh aja. Ada apa?" tanya Tommy seraya berjalan menuruni anak tangga dari lantai atas.
Sambil berjalan mendekat kearah tangga dengan membawa amplop putih di tangannya, dengan senyum mengembang di dibibirnya, "Coba tebak apa isi amplop ini?"
Tommy kini sudah berdiri di hadapan Mamanya, "Memang isinya apaan Mah?"
"Ini isinya laporan tes Dna yang kemarin kita minta dan kamu tau kalau ternyata Varo itu benar anak kamu." sambil menyodorkan amplop putih itu kepada Tommy dan Tommy pun menerimanya lalu membukanya.
"Jadi benar...."
"Yup, Varo anak kamu."
...🍄🍄🍄🍄🍄🍄...
"Sayang belajar yang benar ya, jangan nakal, patuhi apa kata Mom di sekolah. Mama mau pergi kerja dulu beberapa jam kedepan Mama kesini jemput kamu. Ok."
"Ok Mah."
Namun ketika Varo dan Arumi baru akan beranjak dari tempatnya berdiri, "Tut ... Tut ... Tut ...." bunyi klakson mobil.
Arumi dan Varo pun menoleh kebelakang dan turunlah Tommy dari dalam mobil dan berjalan mendekat ke arah Arumi dan Varo.
Sambil tetap menggandeng tangan sang Mama, "Pagi Papa."
Sambil mengusap rambut sang pangeran kecil, "Pagi jagoan Papa."
Dengan mendengus kesal, "Ngapain kamu kesini?"
Tommy pun menoleh ke arah Arumi, "Saya rasa disini tidak ada tulisannya di larang."
__ADS_1
"To the poin!"
Tommy pun mengambil amplop putih itu dari balik jas yang dia kenakan dan menyerahkan amplop itu kepada Arumi. Arumi pun menerimanya.
"Apa ini?"
"Buka saja!"
Arumi pun membuka amplop itu dan membaca isi surat itu, setelah membaca kemudian melipat kembali surat itu dan memasukannya kembali kedalam amplop.
"Lalu masalahnya di mana dengan isi amplop ini?"
"Kenapa kamu tidak pernah jujur sama aku tentang hal ini?"
"Maksudmu?"
"Mengenai Varo."
"Ada apa dengan Varo?"
"Kalau Varo itu anakku. Kenapa kamu tidak bilang sama aku mulai kemarin - kemarin?"
"Apa untungnya aku bilang kekamu kalau Varo itu anakmu? Varo tidak butuh Ayah pengecut sepertimu."
Arumi pun menoleh kearah Varo, "Varo sayang buruan masuk kelas, bell sebentar lagi berbunyi!"
"Iya Mah." ucap Varo tanpa membantah dan tanpa mengucapkan sepatah kata kepada Tommy.
"Kalau sudah tidak ada yang mau kamu bicarakan lagi, sebaiknya kamu pergi biar kisah ini segera author Up karena author mau main perang di aplikasi sebelah."
"Pasti SM lagi ya?"
"Hmmmmm...."
"Benar - benar author kagak ada ahlak."
"Kenapa bisa begitu?"🤔🤔🤔
"Ya ... karena dia belum ada berkunjung ke karya orang. Benar - benar yah ni authornya minta di gantung di pohon toge kek nya nih." 😂😂😂.
Author, "Iri bilang bossssssss😂😂😂."
...🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑...
__ADS_1
...TERIMA KASIH...
...🍑🍑🍑🍑🍑🍑🍑...