
Kini mereka sudah berada di dalam mobil dan selama perjalanan tidak banyak obrolan di antara mereka hanya bunyi deru mesin mobil, dan transportasi lain yang lewat menjadi teman selama mereka dalam perjalanan.
"Bu, apa tidak sebaiknya kita membeli buah untuk Ibu Yana sebelum kita tiba di rumah sakit?" tanya Bunda Irene memecah kesunyian.
Nyonya Luciana pun menoleh kearah Bunda Irene kemudian tersenyum, "Kamu tidak perlu repot - repot mempersiapkan buah untuk Bu Yana, Karena Ibu sudah mempersiapkannya."
Bunda Irene pun hanya bisa menatap heran pada mertuanya itu, sebab sedari rumah Bunda Irene tidak melihat sang Ibu mertua membawa bingkisan atau semacamnya, hanya tas jinjing yang di bawa sang mertua.
"Oh begitu ya Bu?" tanya Bunda Irene.
Sang Ibu mertua hanya bisa mengangguk pelan.
Selang beberapa lama, "Pak Anas di depan kita belok kanan ya Pak!"
Nabila yang mendengar itu kini menatap wajah Nyonya Luciana tak mengerti sebeb jika mereka belok di depan itu artinya jalan menuju rumahnya dan bukan arah rumah sakit dan tidak ada jalan lain menuju rumah sakit selain jalan lurus kedepan.
"Nek, bukankah jika kita belok di depan itu arah rumah Nabila?"
Nyonya Luciana pun menoleh kearah Nabila, "Nenek ada urusan di sana sedikit dan kebetulan satu arah dengan rumahmu," ucap Nyonya Luciana berbohong. Nyonya Luciana tidak ingin memberitahukan Kepada Nabila tentang apa yang sebenarnya terjadi. Biarkan Nabila menyaksikan dan mengetahui dengan sendirinya tentang kebusukan sang Ibu dan sang Kakak.
Di sebuah rumah mewah berlantai dua, kini Arumi dan sang Ibu sudah selesai berdandan dan memakai pakaian terbaik mereka agar terlihat seperti wanita sosialita yang siap pergi memborong segala keperluan wanita. Kini mereka sudah beres dan sudah berjalan menuju teras rumah dengan pancaran kebahagiaan yang teramat sangat bahagia dengan senyum terbaik yang selalu mereka perlihatkan dari bibir mereka. Sambil bergandengan tangan, "Bu, Arumi sudah tidak sabar ingin segera tiba di pusat perbelanjaan," ujar Arumi.
__ADS_1
"Sama Ibu juga sudah sabar ingin segera tiba di pusat perbelanjaan."
"Bu, nanti Ibu mau beli apa aja?" tanya Arumi.
"Ibu mau beli tas baru, baju baru, pokoknya masih banyak lagi deh dan jika di ungkapkan dengan kata - kata Ibu tidak sanggup untuk mengungkapkannya."
Mobil mewah yang kini di kemudikan Tommy di jalan raya melaju dengan sangat santai sambil senyum - senyum sendiri serta membayangkan senyum wajah kekasih.
"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mu sayang dan jika kamu tau kalau Mama dan Papa sudah memberi kita restu, aku makin tak bisa membayangkan bagaimana ekspresimu," ucap Tommy pada diri sendiri.
Kini Pak Anas dan rombongan sudah masuk ke halaman rumah Bu Yana, Nabila makin penasaran dengan apa sebenarnya yang terjadi. Tapi, Nabila lebih memilih diam dan tak bertanya lagi.
Sementara Bu Yana dan Arumi sudah berada di teras rumah dan siap untuk mengunci pintu. Tapi, melihat mobil yang mereka kenal, pintu di kuncipun mereka urungkan.
"Mana Ibu tau," ucap sang Ibu dengan mencoba tetap tersenyum dan tidak gugup.
Satu persatu penumpang mobil pun turun dan langsung mendatangi Bu Yana dan Arumi yang masih setia berdiri di teras.
"Eh ... Ibu Yana apa kabar Bu sudah sehat?" tanya Nyonya Luciana dengan tetap menyunggingkan senyum ramah kepada mereka berdua.
Bunda Irene dan Ayah Bayu hanya bisa saling tatap menatap, sementara Nabila makin tambah bingung dengan pemandangan apa yang kini dia lihat.
__ADS_1
"Bu bukan kah Ibu seharusnya ada di rumah sakit? Kenapa Ibu ada di rumah?" ucap Nabila yang kini berjalan mendekat ke arah sang Ibu dan Kakak.
Dengan tetap tenang, "Nabila, sejak kapan kamu pandai berbohong dan mengatakan kalau Ibu sakit? Kamu mendo,a kan Ibu supaya cepat mati biar rumah ini bisa kamu kuasai," ucap sang Ibu berdalih dan mempersalahkan Nabila dalam hal ini.
Dengan mengerutkan kening, "Bu sejak kapan Nabila berbohong bukan kah kemarin kita sama - sama pergi kerumah sakit dan merawat Ibu disana dan dokter sendiri yang bilang kalau Ibu dalam keadaan sekarat?"
Namun kata - kata sang Anak tidak di gubris sang Ibu dan dalam hal ini Nabila lah yang tetap di persalahkan dan di anggap sudah berbohong dan memfitnah sang Ibu. Dengan menggunakan air mata buaya daratnya, "Nabila jika kamu dendam sama Ibu, bukan begini cara membalasnya." kini tangis sang Ibu kian pecah dan memeluk putri keduanya.
"Sabar Bu sabar," ucap Arumi sambil mengusap - usap bahu sang Ibu.
Dengan menatap tajam ke arah Nabila, dan memanfaat kan situasi ini untuk menarik simpati mereka, "Nabila, kok kamu tega banget sih berkata pada mereka kalau Ibu sedang sakit, sedangkan Ibu baik - baik saja."
Kesabaran Nyonya Luciana sudah habis untuk menonton drama yang dimainkan oleh Arumi dan sang Ibu.
"Main drama nya sudah?" tanya Nyonya Luciana dan sontak membuat Bu Yana mengangkat wajahnya dan menatap wajah Nyonya Luciana.
Dengan masih sesegukan dan air mata yang masih menetes dan sukses memporak - porandakan dandanannya, "Maksud Ibu apa? Drama apa?"
...🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎...
Terima kasih untuk yang sudah mampir memberikan like dan komentar dan terima kasih untuk like mode kalemnya. Maaf tidak membalas komentar - komentar kalian satu persatu. Untuk promo monggo promo, but no spam promo, lalu like karya aku dan tinggalkan jejak di kolom komentar nanti aku berkunjung balik ke karya keren anda semuanya. Terima kasih, semangat, mari saling mendukung dan tetap jaga kesehatan."
__ADS_1
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
...🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎...