
Arumipun berdiri dari duduk nya dan berjalan mondar - mandir sambil menggigit ujung - ujung kukunya yang panjang layaknya seorang artis papan atas di dapan orang tuanya.
"Rumi apa sih yang kamu lalukan?" tanya sang Ibu. Arumipun berhenti dan menatap wajah sang Ibu, "Bukankah tadi Ibu yang menyuruh Arum...."
"Sudah ... sudah ... Ibu rasa kamu sudah cukup tau dan paham dengan apa yang Ibu maksud," ucap sang Ibu menyela pembicaraan sang Anak kemudian berdiri dan berlalu dari hadapan sang Anak.
Arumi yang melihat itu hanya bisa menatap heran, lalu kemudian segera menyusul sang Ibu masuk kedalam rumah.
***************
Di sebuah perusahaan, seorang pria sedang berdiri sambil menatap keluar jendela gedung - gedung yang hampir menyamai tingginya dengan tempat di mana dia sekarang berdiri sambil sesekali mengembuskan nafasnya secara kasar dan menyapu wajah nya dengan telapak tangan.
"Tok ... tok ...." ketukan pintu membawanya kembali kedunianya.
Ceklek, pintu di buka.
Pria itu pun melirik kebelakang untuk melihat siapa tamu yang masuk ke dalam ruangannya.
Pria itupun berjalan mendekat ke arah bos sekaligus sahabat seperjuangannya dulu waktu masih sekolah hingga menyelesaikan kuliah mereka pun bersama - sama, hingga mereka terpisahkan dan mereka kembali di pertemukan di perusahaan ini yang ternyata milik dari sahabat nya yaitu Tommy Michael Prasetyo.
"Bos," sapa pria itu. Tommy pun memutar badannya, "Ada apa?"
Jimmy yang melihat raut wajah si bos yang sepertinya sedang tidak baik - baik saja, dia pun memberanikan diri bertanya, "Bos ada apa dengan wajahmu? Apa ada masalah?"
Tommy pun menghela nafas panjang lalu kemudian mengeluarkannya. Tommy pun berjalan ke arah sahabat sekaligus sekretarisnya itu, lalu kemudian duduk di kursi kebesarannya.
"Ada apa kamu kemari?"
"Saya kesini hanya ingin menyerahkan berkas ini sekalian mau tanya mau makan siang dimana?" ucap Jimmy seraya meletakkan berkas yang ada di tangannya di atas meja bosnya.
__ADS_1
"Kita makan di kantin kantor saja."
Setelah berucap begitu dia pun berdiri dan segera menuju ke kantin kantor disusul Jimmy di belakangnya.
**********
Setelah seharian menyusuri keindahan pantai, kini kami melangkahkan kaki ke salah satu kafe yang ada di pinggir pantai untuk makan siang.
"Baby, kamu mau pesan apa?" tanya Adam seraya menarik salah satu kursi untuk aku duduk.
Aku pun mendudukan bokongku di kursi yang Adam tarik, "Terima kasih. Apa aja deh yang penting minumannya yang adem - adem sesuai dengan cuaca sekarang."
"Tunggu bentar ya," ucap Adam seraya berlalu pergi.
Setelah sampai di kasir, Adam berbisik - berbisik kepada seorang wanita yang saat ini sedang berdiri di hadapannya sambil menyerahkan paperbage ukuran sedang, pramuniaga itu pun menerima sambil mangguk - manggukan kepalanya tanda mengerti dengan tugas nya, lalu Adam menyerahkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah sebagai tips atas pekerjaan apa yang akan pramuniaga itu lakukan sebentar lagi.
Kini Adam sudah berada di meja di mana sang Istri sedang duduk cantik menunggunya.
"Maaf Beb, aku lama meninggalkan mu di sini seorang diri," ucap Adam merasa bersalah karena sudah meninggalkanku.
Aku pun tersenyum, "Tidak apa - apa, Honey."
"Terima kasih ya beb atas pengertiannya," ucap nya seraya memegang tanganku.
Aku hanya menganggukan kepala sebagai jawabannya.
Beberapa saat kemudian, kini pesanan makan, minuman serta hidangan penutup sudah tersajikan di atas meja. Kami pun mulai menyantapnya dan sesekali Adam menyuapkan makanan kemulutku. Kini makan siang sudah kami selesai.
Adam pun membuka tutup saji yang tersisa.
__ADS_1
Sebuah kue tart berbentuk hati dan berwarna coklat dengan dihiasi bunga - bunga di atas nya. Simple dan sederhana.
Aku menatap kagum dan tak percaya serta di dalam hati bertanya - tanya apakah dia sedang berulang tahun.
"Beb apakah kamu menyukainya?" suara nya menyadarkan aku, aku pun menatap wajahnya, "Apa hari ini kamu ulang tahun? Tapi kenapa aku tidak di beri tahu biar aku mempersiapkan pesta kecil - kecilan untuk merayakan bertambahnya usiamu satu tahun?"
Dia pun tersenyum dan meraih tanganku lalu diciumnya punggung tanganku, "Beb, tidak ada yang ulang tahun."
"Lalu kue ini?"
"Kue ini untuk kita sebagai perayaan kalau perjalanan kita baru saja akan di mulai dan semoga akan tetap seperti ini hingga maut memisahkan kita, Aamiin." ucapnya.
Aku terharu, "inikah ganjaran yang pantas aku terima selepas perlakuan tak adil dari kedua kakakku dan ibu ku." gumam ku dalam hati. Tanpa terasa air mataku kini menetes membasahi pipiku, Adam pun segera menghapusnya dengan jari tangannya.
"Beb, di hari bahagia kita jangan ada air mata."
Aku hanya mengangguk sebagai jawabannya walau air mata terus saja turun dan menetes di kedua mata indahku.
...Perjalanan hidup akan selalu melewati sebuah terowongan gelap untuk itu kita perlu memastikan bahwa cahaya hati tidak pernah padam. Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari keberapa dan pada jam keberapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tau, kapan hidup akan membanting dalam sekali, membuat terduduk untuk memaksa kemudian kita mengambil keputusan. Satu, dua keputusan membuat bangga, sedangkan sisa nya hanya menghasilkan penyesalan....
...❤❤❤...
...Terima kasih untuk yang sudah mampir memberikan like dan komentar, terima kasih untuk like mode kalemnya maaf komentar - komentar kalian tidak aku balas. Untuk yang promo monggo promo but no spam promo, lalu like karya aku dan tinggalkan jejak di kolom komentar, nanti aku berkunjung balik kekarya keren anda semuanya. Terima kasih semangat, mari saling mendukung dan tetap jaga kesehataan....
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
...❤❤❤...
__ADS_1