
...Singkat cerita...
Sejak pertemuan antara Tommy, Varo, Akbar dan Mama Dinda Dua minggu yang lalu akhirnya mereka pun menemukan kata sepakat dan akan melakukannya bersama - sama. Sukses tidaknya rencana mereka itu urusan belakang yang pastinya mereka akan mencoba untuk tetap menjalankan rencana itu.
Diam - diam mereka pun semuanya bergerak dan mengerjakan sesuai dengan bidang yang sudah di tentukan dan di sepakati bersama dan tentunya tanpa sepengetahuan Arumi, anggaplah kejutan untuk Arumi.
.
.
.
Sore itu.
"Assalamualaikum," ucap Akbar sembari berjalan masuk kedalam rumah tanpa menunggu jawaban dari dalam rumah.
"Waalaikumsalam." ucap Arumi yang datang dari arah taman belakang rumah.
"Tumben jam segini dah pulang dari resto?" tanya Arumi yang kaget melihat sang kakak yang kini sudah duduk di sofa ruang tamu dengan wajah kurang sehat.
Arumi pun berjalan mendekat dan mendapati wajah sang kakak seperti sedang tidak baik - baik saja.
"Kakak kenapa? Apa ada masalah di resto?" tanya Arumi sambil duduk di sofa yang ada di hadapan sang kakak.
Akbar pun memperbaiki posisi duduknya dan menatap wajah sang adik, sambil membuang nafas secara kasar, "Tommy mau menikah. Ini ada undangan yang aku terima." ucap nya sambil mengeluarkan undangan berwarna kuning dari dalam tas kerjanya kemudian menyodorkannya ke Sang Adik. Arumi pun menerimanya kemudian membacanya.
"Syukurlah jika dia akan menikah. Bukan kah ini berita yang menggembirakan berarti dia sudah bisa move on dari Rumi. Rumi hanyalah masa lalunya dan masa depannya ada pada wanita yang tertera di dalam undangan ini."
"Apa kamu tidak sedih atau setidak nya fikirkan nasib Varo bagaimana?"
"Varo tidak akan apa - apa kak."
"Kamu yakin?"
"Yakin. Kan masih ada Arumi dan kakak, Varo tidak akan kekurangan kasih sayang sedikit pun."
"Apa kamu ikhlas berucap seperti itu?"
Dengan menarik nafas dalam - dalam kemudian menghembuskan secara perlahan, "Ikhlas kak, Rumi ikhlas."
"Syukurlah kalau begitu. Semoga mulut dan hatimu seiring sekata. Bukan hanya mulut mu yang berucap dan hatimu berkata lain."
"In sya Allah sama kak." ucap nya kemudian walau sebenarnya ada sesuatu yang tak biasa dia rasakan ketika menerima undangan itu dan tertulis dengan jelas nama orang yang pernah mengisi hatinya di empat tahun yang lalu.
"Bagus." ucap Akbar dalam hati.
"Aku kekamar dulu yah?" ucap nya kemudian berdiri dan berlalu pergi dari hadapan sang adik.
Arumi pun membaca kembali undangan yang masih ada di tangannya itu. Ada rasa yang lain yang dia rasakan dan sangat sulit untuk di ungkapkan dengan kata - kata.
...๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น...
__ADS_1
Persiapan demi persiapan telah mereka persiapkan dan rampungkan sesuai dengan yang sudah mereka rencanakan di awal. Dan tinggal menunggu hari H yang akan di laksanakan beberapa hari kedepan.
...Hari H...
Pagi itu....
"Rum kenapa belum siap?" tanya sang kakak yang kini sudah berdiri di ambang pintu sambil mengamati pergerakan yang di lakukan oleh sang adik yang hanya berjalan mondar mandir di depan tempat tidurnya.
"Kamu kenapa belum siap - siap?" tanya sang kakak yang kini berjalan mendekat ke arah sang adik. Arumi pun menoleh kearah asal datangnya suara.
"Kakak?"
"Kakak tanya kenapa kamu belum siap - siap?" ulangnya lagi sambil jalan mendekat dan membawa paper bage di tangannya
Sambil terus berjalan mondar mandir dan menggigit ujung jari - jari, "Arumi nggak usah ikut ya kakak? Arumi di rumah saja sampai kan saja kata selamat dari Arumi untuk kedua mempelai atau katakan jika Arumi kurang sehat atau apa gitu."
Sambil meletakkan paper bage di atas tempat tidur Arumi, mata Arumi pun tertuju pada paper bage itu.
"Apa itu kakak?"
"Ini baju yang sengaja Kakak beli untuk mu, untuk menghadiri acara spesial Tommy. Buka dan cobalah, semoga kamu menyukai hadiah dari kakak." ucapnya berbohong๐๐๐.
Arumi pun berjalan mendekat dan membuka paper bage itu, dan mengeluarkan isi nya. Dia pun takjub ketika tau apa isi paper bage itu.
Dengan wajah berbinar, "Ini serius nih kak untuk Arumi? cantik banget seperti gaun pengantin.
Sambil mengangguk, "Iya itu untuk kamu. Kakak hanya ingin kamu terlihat cantik di hari bahagia mereka, biar mereka tau kalau kamu bisa move on dari dia dan bisa menunjukkan kemereka kalau kamu baik - baik saja tanpa dia." ucap Akbar yang kini sudah memegang kedua bahu sang Adik, mereka pun berpelukan, "Terima kasih kakak." mereka pun berpelukan dan tanpa terasa air mata Arumi pun kini turun membasahi pipinya dan dia akan berusaha kuat untuk menyaksikan sang mantan kekasih yang sebentar lagi akan menikah.
"Hmmmmmmm."
.
.
.
Para tamu undangan sudah pada berdatangan satu persatu dan yang pastinya tetap memperhatikan protol kesehatan yaitu pakai masker, cuci tangan, dan jagak jarak. Dan tamu undanganpun di batasi mengingat keadaan yang belum aman terkendali.
Rombongan Arumi pun kini sudah tiba di sana, sambil berjalan dengan anggun dan membiarkan gaunnya menyapu lantai dan semua matapun tertuju kepadanya yang menurut mereka mampu mengalahkan dandanan mempelai wanita.
Setelah mengucapkan ijab dan kabul di beberapa menit yang lalu yang mengatasnamakan Arumi Dharmawangsa tanpa sepengetahuan Arumi tapi tidak dengan sang Kakak karena memang ini adalah rencana mereka semuanya bersama Tommy dan keluarganya.
Kini acara resepsi pernikahan, dan nampak di pelaminan Tommy duduk dengan gantengnya sambil menggandeng tangan wanita yang kini duduk di sampingnya yang ternyata adalah sepupunya yang datang dari luar negri 1 minggu yang lalu.
.
.
.
Akbar pun berbisik ketelinga sang adik, "Yuk apa kamu tidak mau memberikan kata ucapan selamat kepada mereka berdua?"
__ADS_1
Arumi pun mencoba mengulas senyum terbaiknya, "Yuk, biar kita bisa cepat pulang kerumah."
Mereka pun berdiri dan berjalan berdampingan serta memegang tangan sang Adik.
.
.
.
Kini mereka sudah berdiri di hadapan sang pengantin baru, Tommy pun berdiri bersama wanita yang duduk di sampingnya.
Sambil menyatukan tangan Arumi dan Tommy, "Mas aku titip Arumi dan Varo sama kamu, tolong jaga dan bahagiakan dia, jangan buat dia sedih dan menangis. Cintai dan sayangi dia baik dalam suka maupun duka."
Arumi pun bingung dan menatap wajah sang kakak penuh keheranan kemudian beralih menatap wajah wanita yang kini berdiri di samping Tommy yang sama sekali tidak keberataan tangan suaminya bersentuhan dengan wanita lain.
"Aku akan mengingat pesan mu Mas. Terima kasih untuk semuanya," ucap Tommy sambil memeluk sang Kakak ipar.
Dengan tergagap, "Tunggu dulu ini ada apa ya?"
Tommy pun memegang kedua tangan sang bidadarinya, "Sayang mau kah kamu menjadi istri dan ibu untuk anak - anak kita kelak? Dan menjadi keluarga utuh untuk Varo dan kita akan sama - sama membesarkan Varo nantinya."
"T_tunggu, ini ada apa sebenarnya?"
Sambil menoleh ke arah sang Kakak, "Kakak jelaskan kepada Arumi ini ada apa?"
"Kamu cukup jawab ya atau tidak?" kini wanita yang disamping Tommy ikut menimpali.
"Tapi bukankah mbak adalah istrinya?"
Wanita itu pun berjalan mendekat, serta mengulas senyum, "Aku bukan istrinya. Istrinya mas Tommy itu kamu. karena di pengucapan ijab dan kabul nama yang terucap adalah nama kamu. Aku dan Mas Tommy adalah sepupuan dan tidak akan mungkin menikah karena aku sudah mencintai pria lain."
"Tapi itu tidak penting sayang. Bagaimana mau kah kamu menjadi istri dan menjadi ibu dari anak - anak kita kelak dan hanya maut yang akan memisahkan kita?"
Para tamu undangan pun menyuarakan
Terima
Terima
Terima
Karena memang tidak ada pilihan lain๐๐๐.
...Mereka pun berpelukan dan berakhir dengan bahagia....
...TAMAT...
...๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น...
...TERIMA KASIH...
__ADS_1
...๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น...