ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 93.


__ADS_3

Selepas sang Nenek berucap begitu dia pun berdiri dan siap melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana dengan membawa rasa kecewa yang teramat sangat dalam. Nyonya Luciana bukannya tidak sayang dengan Nabila hanya saja ada sedikit rasa kecewa yang dia rasakan dari penuturan cucu menantunya itu yang belum memberikan ciri - ciri berbadan dua.


Diapun melangkah pergi dari sana dan tidak menoleh lagi kebelakang. Diruang keluarga Adam, Bunda Irene dan Ayah Bima sedang ikut menenangkan sang menantu yang kini sudah menangis akibat ucapan Nyonya Luciana dan efek dari dia belum bisa memberikan keturunan juga berdampak buruk pada sang suami yang notabennya pewaris tunggal dari kekayaan Nyonya Luciana.


"Bunda ... hiks ... hiks ..." kini Nabila beralih memeluk Bunda Irene. Ada rasa Iba dan kasihan melihat menantunya yang selalu di tekan oleh Ibu mertuanya itu.


"Sabar sayang, sabar. Bunda akan selalu ada untukkmu." sambil menghapus air matanya, "Sudah sayang jangan lagi menangis pasti ada jalan keluar, kan dokter juga bilang kalau kamu masih dapat hamil walau kesempatannya kecil dan coba aja ikut program bayi tabung barang kali aja kamu bisa hamil."


Dengan masih terisak, "Bun, kalau gagal bagaimana kan tidak selamanya bayi tabung itu sukses." ucap Nabila dengan masih sesegukan.


Sambil terus memeluk dan membelai rambut menantunya itu, "Tidak ada salahnya mencoba, jika gagal mungkin Tuhan belum mengijinkan kalian untuk memilikinya. Sabar, teruslah berdo,a dan jangan putus asa untuk selalu mencoba, mencoba, mencoba hingga berhasil. Bunda akan selalu ada untukmu."


"Iya Nabila benar yang di katakan Bundamu jangan takut untuk mencoba jika gagal coba lagi, lagi dan lagi sampai berhasil." ucapan Ayah dan Ibu mertuanya membuat Nabila seakan memiliki kembali kekuatan tersendiri.

__ADS_1


Mereka pun melepaskan pelukannya, "Sekarang pergilah kalian istirahat dan jangan kamu buat dia sedih karena saat ini yang dia butuhkan hanyalah dukungan dari kita," ucap Bunda Irene seraya menatap wajah sang Anak.


Adam pun mengangguk kemudian menuntun Nabila untuk berdiri dan berlalu dari sana, begitu pula dengan Bunda Irene dan Ayah Bima.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


"Oh ya kalian tidak lupakan kalau tidak lagi acara ulang tahun perusahaan?" ucap Akbar mengawali pembicaraan ketika mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga.


"Akbar mau mengadakan acara kecil - kecilan di kantor bersama para karyawan yang sudah lama bekerja dengan kita, ataupun karyawan baru."


"Wah itu ide cermelang, bebaskan undang? Maksudnya boleh siapa saja kan yang di undang?" ucap Arumi dengan antusiasnya.


Akbar pun menoleh ke arah sang Adik yang di liputi rasa keheranan, "Memangnya ada yang mau kamu undang?" tanya sang Kakak dengan penuh selidik dan menebak jika hati bahagia sang adik ada kaitannya dengan pertanyaannya.

__ADS_1


Sambil tersenyum kikuk dan menggaruk kepala nya yang tak gatal, "He ... he ... he ... Arumi ingin mengundang seseorang secara khusus kak, boleh kan?" tanya Arumi penuh harapa dan semoga dijinkan.


Selepas Arumi berucap seperti itu Ibu dan Akbar pun tertawa terbahak, "Ha ... ha ... ha ... ternyata anak ibu ini sudah punya gandengan ya? Kasih tau Ibu dong siapa dia dan apakah Ibu kenal dengannya?"


Arumi tidak bisa menjawab pertanyaan sang Ibu. Arumi takut jika nantinya dia berterus terang kalau - kalau di tentang oleh sang Ibu lantaran pria ini, pria yang pernah menyakitinya dulu.


Dengan menghembuskan nafas secara kasar lalu kemudian menatap wajah sang Ibu dalam - dalam, sementara sang Ibu yang mendapat tatapan mata sang Anak hanya bisa bertanya - tanya dalam hati ada apa dengannya.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


...TERIMA KASIH...


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...

__ADS_1


__ADS_2