ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
BAB 186. PSH ( IP : S4 ) ( 7 thn Kemudian)


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...****************...


Setelah mendengar teriakan dan barang - barang pecah dari lantai atas, mereka pun segera berlari menuju kelantai atas. Mereka kini sudah berada di depan pintu kamar Kirana dan segera membuka pintu kamar Kirana, setelah terbuka alangkah terkejutnya mereka melihat pemandangan yang tak biasa. Kamar yang semula rapi, bersih dan barang - barang terletak pada tempat yang semestinya, kini barang - barang itu sudah berpindah tempat dan dalam keadaan pecah berkeping-keping.


Mereka pun segera masuk kedalam, dan mendapati Kirana duduk tersungkur dilantai sambil menangis.


"Pergi kalian dari sini! Kirana tidak butuh bantuan kalian, kenapa waktu kecelakaan itu tidak kalian biarkan Kirana mati saja?" ucap Kirana.


Adampun berjalan mendekat kemudian berjongkok mensejajarkan dengan tubuh Kirana, sambil mengelus kepala Kirana kemudian memeluknya, untuk memberikan rasa nyaman agar Kirana tidak merasa sendirian di dunia ini dan sebagai wujud tanda kasih sayang dari sang Ayah.


"Sayang, berhentilah menangis dan jangan lagi kamu berucap kata - kata seperti itu Ayah tidak suka mendengarnya. Ayah akan melakukan apa saja demi kesembuhan mu, Ayahpun tidak menginginkan kamu seperti ini, Ayah pun ingin agar kamu segera bisa melihat dan berjalan lagi. Ayah sangatlah menyayangi mu walaupun perhatian dan kasih sayang Ayah terlambat tapi mulai saat ini Ayah tidak akan membiarkanmu melewati ini sendirian, kita berdua akan melewatinya bersama hingga di kemudian hari kamu bisa berjalan dan melihat seperti sebelumnya. Dan kamu juga jangan lupa selain masih ada Ayah, Omah dan Opah pun akan berada disisimu menemani mu hingga kamu sembuh, kami semua akan ada untukmu." ucap Adam yang saat ini pun tiba - tiba matanya berubah jadi memerah karena menahan tangis, walaupun Kirana tidak bisa melihat tapi Ia tetap ingin terlihat kuat di depan sang anak.


Bunda Irene dan Ayah Bima sudah hampir selesai membersihkan sebagian barang - barang yang telah di lempar Kirana kelantai. Mereka berdua pun segera berjalan menuju dimana Kirana dan Adam berada. Bunda Irene dan Ayah Bima pun berjongkok mensejajarkan dengan tubuh Kirana kemudian memeluknya.


"Benar apa yang dikatakan Ayahmu sayang, kami akan selalu ada bersamamu, kami tidak akan membiarkan mu sendirian. Kita semua akan melewati ini bersama-sama."

__ADS_1


Kirana pun melepaskan pelukannya dari sang Ayah, kemudian memeluk sang omah. "Terimakasih Omah, Terimakasih."


Sambil mengelus pundak sang cucu, "Kamu tidak perlu berterima kasih sayang karena ini sudah menjadi kewajiban kami untuk selalu menjagamu semampu sebisa kami."


...Anggaplah 7 tahun kemudian...


...****************...


Mereka kini sudah dewasa, Kirana sudah bisa berjalan seperti sebelumnya berkat dorongan dan dukungan dari keluarga dan teman-teman terdekatnya. Tapi sayang hingga tujuh tahun berlalu, tapi Kirana juga belum mendapatkan pendonor mata yang cocok untuk dia. Chandra meneruskan usaha almarhum sang Ayah dan almarhumah sang nenek, sementara Varo dan Kirana meneruskan usaha Widjaya. Walaupun hingga 7 tahun Kirana masih setia menunggu, tapi belum juga menemukan pendonor mata yang cocok dengannya, tapi dia tetap optimis jika dikemudian hari akan ada orang baik yang akan menolongnya. Sementara Tiara, semenjak lulus kuliah dia meninggalkan Indonesia dan pergi keluar negri melanjutkan studinya seperti yang diharapkan oleh sang Mama.


...****************...


Walaupun Kirana belum bisa melihat tapi dia masih memiliki mata yang lain yaitu mata sang omah yang akan selalu setia menemaninya dan membantu nya dalam hal apapun.


"Sudah selesai." ucap sang Omah setelah semua kebutuhan Kirana terpenuhi.


Kirana pun meraba - raba wajahnya kemudian bertanya, "Omah, apakah Kirana cantik?"

__ADS_1


"Kamu sungguh sangat cantik sayang, percaya apa kata Omah."


Tiba - tiba wajah Kirana murung, kemudian berkata lirih, "Andai kata kecelakaan itu tidak pernah terjadi mungkin sampai saat ini Kirana masih bisa melihat dan menikmati keindahan dunia. Omah kapan Kirana mendapatkan donor mata?"


Sang Omah pun mengelus pundak Sang cucu kemudian menghapus butiran - butiran air mata yang tiba - tiba meluncur tanpa permisi, "Sayang sabar ya dan jangan pernah bersedih dan putus asa."


"Iya Omah."


"Yuk kita kebawah!"


Mereka pun berjalan bersama-sama sambil bergandengan tangan.


...****************...


...TERIMAKASIH...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2