
Kini malam telah menyapa. Di kediaman Widjayakusuma sedang makan malam bersama dan tidak ada percakapan di antara mereka hanya dentingan sendok dan garpu yang saling bertautan menjadi teman makan malam mereka.
Tidak butuh waktu lama kini mereka sudah menyelesaikan makan malamnya dan semua sedang berkumpul di ruang keluarga sementara Nabila membantu membereskan piring kotor bersama para Art, setelah itu baru Nabila menyiapkan minuman hangat dan beberapa cemilan untuk menemani saat - saat bersantai bersama keluarga.
Kini Nabila sudah selesai dengan tugasnya dan siap berjalan menuju ruang keluarga dengan nampan ditangannya.
Di ruang keluarga.
"Jadi, kapan Dam Nenek akan di kasih cucu sama kalian?" tanya sang Nenek dengan mimik wajah yang sedikit menyeramkan.
Adam pun menoleh kearah sang Nenek, "Nenek bukankah sebelumnya permasalahan ini sudah kita bahas? Kenapa sekarang di bahas lagi?"
"Nenek bukannya membahas hanya saja Nenek bertanya karena usia pernikahan kalian sudah masuk usia ke 6 bulan, jadi wajar jika Nenek sangat menginginkan generasi penerus dari kalian karena harapan Nenek hanya ada pada mu karena kamu cucu tunggal dari keluarga ini."
"Nenek ini juga Adam sedang usaha membuat Nabila agar secepatnya hamil, jadi sabar Nek semua butuh proses,"
__ADS_1
"Berapa lama lagi Nenek harus menunggu sampai itu terwujud?" tanya sang Nenek dengan tidak bersahabat. "Sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun atau hingga ajal menjemput Nenek begitu maksud kamu?"
Adam merasa buntu untuk menjawab pertanyaan sang Nenek karena sejauh ini mereka sudah usaha dan usahanya belum membuahkan hasil dan harus berakhir dengan kata kecewa.
Melihat ketegangan di antara Nenek dan Cucu itu, Bunda Irene dan Ayah Bima pun menengahi, "Bu ... sudah, sudah, ini sudah malam tidak baik berbicara pake urat nanti para tetangga berdatangan lagi kerumah kita," ujar Ayah Bima mengingatkaan sang Ibu.
Sang Ibu pun menoleh ke arah sang Anak dengan tatapan tajam dan mematikan, "Apa kamu bilang? Sudah? Sekarang Ibu mau tanya sama kamu, kamu menikahkan Anak kamu bukankah tujuannya untuk memiliki generasi penerus? Lalu kalau mereka tidak bisa memberikan kita penerus, kira - kira apa yang akan kamu lakukan? Mempertahan pernikahan mereka? Iya itu maksud kamu?"
Nabila yang berdiri tak jauh dari mereka dan mendengar seluruh percakapan mereka kini benar - benar kecewa, bukan kecewa pada mereka tapi melainkan kecewa pada diri sendiri salah sendiri kenapa belum hamil.
Bunda Irene yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia kini ikut menimpali, "Bu ... yang sabar semua butuh proses dan kondisi fisik kan beda - beda dan rejekinya pun juga beda - beda barang kali aja tuhan sedang menuji keabaran kita lewat menantu kita yang belum kunjung hamil - hamil."
...Kembali keruang keluarga....
Sambil mengalihkan pandangannya, "Atau jangan - jangan di antara kalian ada yang tidak beres?" ucap sang Nenek menatap tajam ke arah sang cucu.
__ADS_1
Adam yang mendapat tatapan itu kini nampak berfikir, dan mencerna kata demi kata sang Nenek ucapkan barusan yang memang dia tak mengerti apa maksud dari ucapan sang Nenek.
"Kami tidak beres, maksud Nenek?" tanya Adam tak mengerti.
Sang Nenek pun berusaha meredam amarahnya yang sudah berada di ujung tanduk dan berusaha menjelaskan kembali apa maksud ucapannya, "Mandul," ucap Nyonya Luciana dengan entengnya.
Kata - kata yang diucapkan Sang Nenek sukses membuat mereka semua yang ada di sana terkejut dan syok, walaupun kata - kata itu hanya terdiri dari berapa kata namun artinya sangat dalam dan melukai perasaan.
"Ibu ... tidak boleh berbicara sembarangan, kalau Nabila sampai mendengarnya bagaimana?" ucap Bunda Irene memelankan suaranya.
"Bagus dong jika dia mendengarnya." ucap sang Ibu tanpa merasa bersalah sedikit pun, sementara Adam tidak tau lagi harus berkata apa, dia pun memilih pergi dari sana.
"Ayah, Bun, Nenek, Adam kekamar dulu yah?" ucap Adam seraya berdiri dan berlalu pergi dari hadapan mereka semuanya.
...❤❤❤❤❤❤...
__ADS_1
...TERIMA KASH...
...❤❤❤❤❤❤...