
Mendengar kata - kata Nabila, Mama Yulia merasa tidak rela jika Nabila meninggalkannya apa lagi sebentar lagi Adrian juga akan kembali kekota untuk bertugas di rumah sakit An Hospital di mana pemiliknya adalah Dokter Najwa, seorang wanita seperjuangan dengan Adrian sewaktu sama - sama menempuh pendidikan S1 Kedokteran dan pastinya Mama Yulia akan merasa sangat kesunyian dan kesepian.
"Mama bukannya mau mengekang kebebasanmu. Mama sama sekali tidak merasa di repotkan justru dengan adanya kamu disini Mama merasa tidak kesunyian lagi. Apa lagi beberapa hari kedepan Adrian juga akan kembali ke kota untuk bekerja di rumah sakit, trus kalau kamu pergi, Adrian pergi, Mama sama siapa selama ini Mama disini hanya seorang diri di temani oleh beberapa pegawai tapi dengan adanya kamu di sini ...." ucapan Mama Yulia terjeda, kini bening - bening kristal turun membasahi pipinya. Nabila yang melihat itu merasa sangat kasihan dan merasa sangat bersalah, "Mama maafkan Nabila, Nabila tidak akan meninggalkan Mama. Nabila akan disini bersama Mama." ucap Nabila seraya memeluk Mama Yulia dan Mama Yulia pun membalasnya.
Adrian yang melihat itu hanya bisa tersenyum bahagia setelah sekian lama Adrian tidak pernah melihat Mama Yulia sebahagia seperti ini dan serespek begini dengan orang yang baru di kenalnya.
"Terima kasih sayang, terima kasih," ucap Mama Yulia seraya mengecup kening sang Putri.
"Mama,"
Mereka pun kembali berpelukan.
"Ehm ... ehm...." suara deheman menyadarkan mereka dan membawa mereka kembali kedunia nyata.
Setelah hanyut dalam suasan haru, kini mereka kembali dalam suasana hangat penuh kekeluargaan.
"Memangnya kalau boleh tau kamu mau kerja apa ya?" tanya Adrian sambil menatap wajah Nabila.
"Nabila bisa melukis dan Nabila punya Geleri. Nabila Galeri adalah punya Nabila." ucap Nabila.
"Jadi Nabila Galeri itu punyamu?"
"Iya itu punya Nabila."
"Winda Galeri punya almarhum istriku dan Galeri itu kini di urus oleh asisten pribadi ku di rumah sakit sekaligus sekeretaris dari Winda Galeri." ucap Adrian menjelaskan.
Nabila sedikit terkejut mendengar penuturan dari Adrian karena selama ini dia hanya bekerja sama tapi belum pernah melihat secara langsung pemilik dari Winda Galeri. Sementara Winda Galeri ini adalah Galeri yang sangat besar dan populer dan banyak yang mengadakan kerja sama dengannya.
"Iya sayang kalau kamu mau kamu bisa bekerja di galeri saja, dan kamu tidak perlu repot - repot kekota untuk bekerja, kamu dari sini pun bisa bekerja, disini ada ruangan khusus yang biasa di gunakan winda untuk melukis dan nanti pak supir yang membawaa hasil tanganmu kegaleri di kota."
Dengan wajah berbinar, "Sungguh?"
Sambil mengangguk kepala, "Iya sayang. Lagi pula saat ini kamu harus banyak istirahat kan kamu lagi hamil, Mama tidak mau ada apa - apa dengan cucu Mama."
"Terima kasih Ma."
Mereka pun kembali berpelukan dan dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan keluarga seperti Mama Yulia, apa kah ini balasan di balik sakit hati yang sempat di torehkan sang suami, sang Nenek, sang Kakak dan Ibu kandung yang sudah menyakitinya. Entahlah..............
Setelah sama - sama terdiam.
"Nabila." panggil Adrian memeceh keheningan di antara mereka semua.
__ADS_1
"Hmmmmm...."
"Bagaimana kalau kamu ikut aku kekota beberapa hari kedepan, aku mau ngajak kamu USG kebetulan aku mau kerumah sakit An hospital di sana ada dokter Najwa yang akan memeriksamu, biar sore nya kamu pulang kesini bersama supir Mama." ucap Adrian menawarkan diri karena dia penasaran ingin mengetahui perkembangan calon anak Nabila dan sekali - kali merasai jadi Ayah halu yang siaga karena dari pernikahannya dengan Winda, Adrian belum mendapatkan keturunan.
"Tidak usah Mas, nanti merepotkan." tolak Nabila secara halus.
"Betul yang di katakan Adrian sayang sekali - kali kamu harus memeriksa kandungannya mu untuk memastika kalau semua baik - baik saja. Mama mau memberikan yang terbaik buat cucu Mama dan tentunya untuk kamu juga."
"Tapi Mah."
"Tidak ada kata tapi - tapi an demi kesehatan mu dan calon bayimu, aku siap memberikan yang terbaik untukmu," Adrian menyela.
"Alhamdulillah Nabila di kelilingi oleh orang - orang yang sangat mencintai dan menyayangi Nabila." ucap Nabila dalam hati.
...**************...
Kini mereka sudah berkumpul di meja makan.
Bunda Irene melayani Arumi dengan sangat baik dan tak henti - hentinya menyunggingkan senyum terbaik yang dia miliki. Setelah semuanya makan malam Bunda Irene pun menyuguhkan susu hamil yang di beli asisten rumah tangga tadi sore dan disuguhkan untuk Arumi sebagai minuman penutup dan tanpa curiga pada saat itu juga langsung di minum Arumi hingga habis.
Kini mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Bun tolongin Arumi dong betis Arumi sakit nih tolong di pijat," ucap Arumi seraya meletakkan betisnya di atas paha sang Ibu mertua. Tidak ada pilihan selain melakukannya.
Bunda Irene tidak bisa berbuat apa - apa selain menuruti keinginan sang menantu.
Ayah Bima yang baru bergabung merasa tidak rela melihat sang istri di perlakukan seeperti itu, "Arumi apa - apaan kamu?"
"Apa - apaan gimana Yah?"
"Itu kaki kamu turunkan dari paha istriku."
"Ayah yang menginginkan ini tuh bukan Arumi tapi bayi yang ada di dalam perut Arumi." ucapnya yang memang sengaja meletakkan kakinya di sana.
Ayah Bima pun berdiri dan menarik tangan sang istri dan membawanya pergi dari sana.
Dengan senyum menyeringai, "Awal yang mengesan. Aku akan membuat kalian tidak betah di rumah ini."
Di lantai dua
"Bunda tidak bisa di begini kah Yah, Bunda ingin membuat kejutan sedikit untuk Arumi," ucap Bunda Irene sambil membisiki sesuatu di telinga sang suami.
__ADS_1
Ayah hanya bisa mangguk - mangguk mendengar penjelasan sang Istri, "Baiklah, Ayah dukung. Kita tunggu aja reaksi obatnya."
Note : Selain campur tangan Bunda Irene dan Ayah Bima juga ada obat yang membantu mereka buat mengerjai Arumi.
Mereka pun mulai melancarkan aksinya, dengan di bantu beberapa asisten rumah tangga yang tidak menyukai Arumi dan membongkar tumpukan - tumpukan kotak baju Nabila dan menukar semua barang Arumi dengan Nabila setelah itu mereka pun menulis di cermin
"AKU AKAN KEMBALI MENUNTUT BALAS."
tiba - tiba lampu di rumah besar itu padam, sementara Adam masih lembur di kantor sedangkan Nenek sejak selesai makan malam dia lebih memilih masuk kamar dan beristirahat di sana.
Kini tinggal lah Arumi seorang diri di ruang keluarga dalam keadaan gelap - gelapan dengan perasaan yang tak karuan, saat sedang menikmati kesendirian dan kegelepannya, bel rumah tiba - tiba berbunyi
"Ting ... Nong ... ting Nong...."
Sontak Arumi menatap ke arah pintu dengan hati yang was - was. Dia pun memberanikan diri berdiri dan berjalan ke arah pintu dengan penerangan lampu ponselnya. Dan menyibak sedikit gorden jendela dan mengedarkan pandangannya keluar namun dia tidak menemukan siapa - siapa di sana hanya kotak berukuran besar yang ada di depan pintu rumah.
Arumi pun segera membuka pintu dan membawa masuk kotak itu dan membawanya langsung menuju keruang tengah, karena penasaran dia pun segera membuka dengan penerangan seadaanya. Setelah di buka dia pun terkejut bukan main setelah mengetahui isi dari kotak tersebut.
Baju Nabila yang penuh dengan lumuran darah dan sepucuk surat dengan tulisan,
"AKU AKAN KEMBALI MENUNTUT BALAS."
Arumi pun terkejut dan menutup mulutnya dengan tangannya. Dalam situasi yang kurang menguntungkan baginya saat ini perutnya pun tiba - tiba mulas dan kram. Sambil memegang perutnya dan meringis kesakitan
"Auwwwwwwww. Bunda, Ayah, Nenek perut Arumi sakit."
Mereka semua yang mendengar jeritan Arumi pun sontak menuju keasal suara di mana Arumi berada.
"Arumi ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Nyonya Luciana ketika sudah sampai disana sambil memeluk dan menenangkan Arumi.
"Ada apa ini? Kamu kenapa?" tanya Ayah Bima dan Bunda Irene ketika sudah sampai di sana.
Dengan syok, menangis dan menunjuk keberadaan kotak yang nyatanya sudah tidak ada.
"Tu...." sambil menunjuk.
Bunda Irene, Ayah dan Nenek pun mengikuti arah telunjuk Arumi, tapi mereka tidak menemukan apa - apa disana.
...❤❤❤❤❤❤...
...TERIMA KASIH...
__ADS_1
...❤❤❤❤❤❤...