ISTRI PILIHAN

ISTRI PILIHAN
Bab 183. Istri pilihan ( S3 )


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...Terima kasih untuk yang sudah mampir dan memberikan like and komentar pada karya saya Istri Pilihan. Yang mau promo silahkan promo 1 karya aja ya sertakan judul karyanya....


...πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™...


...Up gabut dan suka2 jidatπŸ˜‚πŸ˜‚...


...πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™...


"Apa alasan nenek menolak Nabila untuk mendonorkan darahnya untuk Kirana?" tanya Adam kepada sang nenek.


"Apakah menolak sesuatu harus disertakan dengan alasannya!" ucap sang nenek kembali bertanya seraya mengerutkan kening.


Dalam hati sang nenek sangat bahagia ketika Nabila bersedia mendonorkan darahnya untuk Kirana tapi disisi lain jika Nabila di biarkan mendonorkan darahnya untuk Kirana, Nyonya Luciana takut jika yang di tolong nya adalah putri kandungnya yang memang sengaja dia culik ketika masih kecil dulu. Katika dia sedang sibuk dengan isi hati dan kepalanya yang tidak bisa sejalan sebuah suara membuyarkan lamunannya, "Bagaimana Ibu, apa anda bersedia jika dia mendonorkan darahnya untuk cucu anda?"tanya sang dokter kemudian.


"Saya tetap tidak setuju jika dia mendonorkan darahnya untuk cucu saya." ucap Nyonya Luciana masih pada pendiriannya seraya melirik kearah Nabila


"Dimana salahnya jika Nabila mendonorkan darahnya untuk Kirana," tanya Ayah Bimo.


Disaat Nyonya Luciana ingin menjawab kata - kata sang anak, seorang suster datang menghampiri mereka, dengan nafas sedikit ngos-ngosan, "Dok gawat tekanan darah Kirana kian menurun secara drastis."


Suasana dikoridor rumah sakit kian memanas... tanpa berucap sepatah katapun sang dokter segera meninggalkan mereka semua dan segera menuju ruang perawatan dimana Kirana kini tergeletak tak berdaya. Semua bingung dimana mereka harus mencari pendonor darah yang siap mendorkan darahnya untuk Kirana.


"Nabila siap mendorkan darah untuk kesembuhan Kirana." ucap Kirana kembali mengulang kalimatnya seperti beberapa menit yang lalu.


❀️


❀️


❀️


Setelah dipikir-pikir dan di pertimbangkan akhirnya Nyonya Luciana pun setuju jika Nabila yang akan mendonorkan darahnya untuk Kirana walau sebenarnya didalam hatinya dia tidak ikhlas untuk itu, dia takut jika misteri hilangnya sang anak dia lah dalang di balik semua ini. Kini Kirana sudah di tangani dokter - dokter terbaik yang ada di rumah sakit itu sesuai permintaan sang nenek.


3 hours Later.


Masa kritis sudah dia lewati dan dia pun sudah di pindahkan kekamar VVIP atas permintaan sang nenek yang menginginkan pelayan yang terbaik buat sang cucu.


"Kenapa Kirana belum sadar juga ya?" tanya Nyonya Luciana pada diri sendiri seraya menatap tubuh Kirana yang kini masih tergeletak di atas tempat tidur berseprei putih.

__ADS_1


Sambil mengusap - usap bahu sang Ibu, "Sabar bu sebentar lagi juga pasti Kirana bangun," ucap Ayah Bimo menenangkan sang Ibu walau sebenarnya didalam hatinya pun turut merasakan hal yang sama.


Tok....


tok......


tok......


Terdengar ketukan pintu dari luar.


"Masuk," ucap mereka serempak mempersilahkan masuk.


Krek...... suara pintu dibuka.


Semua orang pun menoleh kearah pintu dan setelah tau siapa orang yang bediri disana mereka pun menyambut nya dengan hati yang gembira tapi tidak dengan nyonya Luciana, wajah sombong dan penuh dengan kebencian masih saja tampak di wajahnya.


Bunda Irene pun berdiri dan berjalan mendekat kearah Nabila, kemudian memeluknya dangat sangat erat, lalu berkata, "Terima kasih sayang, karena kamu sudah menolong Kirana. Tanpa kamu kami semua tidak akan pernah tau bagaimana nasip Kirana."


Nabila pun membalas pelukkan sang mantan Ibu mertuanya itu, "Sama - sama Bunda, bunda tidak perlu mengucapkan terima kasih sudah sewajarnya kan kita harus saling tolong menolong." ucap Nabila kemudian melepaskan pelukannya.


"Mau apa kamu datang kesini?" tanya Nyonya Luciana tanpa menoleh kearah Nabila.


"Tanpa kamu Kirana pun akan selalu baik - baik saja."


"Nenek sudah jangan terus-terusan marah - marah yang tidak jelas seperti ini. Memang salah Nabila apa sih?" Kini Adam ikut menimpali percakapan diantara mereka.


"Sayang kamu tidak usah mendengar kan apa kata nenek." ucap Bunda Irene. Kemudian mata Bunda Irene tertuju pada anak laki-laki yang bersama Nabila, "Apa kah ini putra kamu sayang?"


Sambil melirik kearah sang anak, "Iya Bund dia anak Nabila."


"Sayang beri salam sama Nenek Irene, Kakek Bima dan Ayah Adam serta Oma Luciana!" ucap Nabila kepada sang anak.


Sebelum sang anak menjalankan perintah sang bunda,"Bund, memangnya siapa mereka?"


"Mereka ini Nenek, Kakek dan Om kamu?"


Jreng.......


Jreng.......

__ADS_1


Jreng.......


Mendengar pengakuan Nabila memperkenalkan siapa mereka sebenarnya, membuat hati Adam sakit bak teriris pisau yang tajam. Chandra pun segera mencium punggung tangan mereka satu persatu tapi lagi - lagi Nyonya Luciana tetap pada keangkuhan nya.


"Bund, sebelum Nabila pergi Nabila ingin melihat Kirana!" ucap Nabila mengulang permintaan.


"Silahkan."


Nabila pun berjalan mendekat kearah tempat tidur Kirana.


Sambil mengusap- usap kepala Kirana, "Nona manis cepat sembuh dan sadar ya! Semua keluarga mu menantikan hadirmu di tengah - tengah mereka." ucap Nabila seraya mencium kening Kirana dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Ketika Nabila ingin beranjak pergi dari sisi Kiarana, tiba - tiba tangan Kirana memegang tangan Nabila, Kirana pun mengigau memanggil nama seseorang dengan sebutan Bunda.


Dengan mata masih terpejam, "Bunda jangan pergi, Bunda temani Kirana disini, Kirana takut."


Kata - kata itu terulang hingga berkali-kali.


Nabila pun kemabali pada posisi sebelumnya kemudian mengusap punggung tangan Kirana, "Bunda tidak akan pergi, Bunda akan menemanimu disini hingga kamu sembuh." ucap Nabila kemudian kembali mengecup kening Kirana dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Pada saat Nabila ingin meletakkan kembali tangan Kirana di atas tubuhnya, Nabila pun terdiam ketika melihat tanda lahir Kirana di pergelangan tangan Kanan Kirana. Kamudian Nabila menatap wajah mereka satu persatu meminta penjelasan siapa Kirana sebenarnya. Tanpa Nabila sadari kini butiran-butiran kristal jatuh membasahi pipinya. Orang yang menyaksikan itu sedikit bingung dan terkejut sebenarnya apa yang terjadi.


Memahami situasi ini Bunda Irene pun berjalan mendekat kearah Nabila, kemudian memeluknya lalu kemudian bertanya, "Nabila apakah kamu baik - baik saja."


Dengan suara parau, "Bunda, siapa sebenarnya Kirana? katakan bunda siapa Kirana? Apakah Kirana anak Nabila? Anak Nabila yang hilang selama belasan tahun?"


"Apa maksud kamu Nabila?" tanya Bunda Irene tidak mengerti. Karena yang mereka tahu ketika penculikan itu terjadi memang Kirana tidak pernah ditemukan hingga sekarang dan pencarian tentang hilangnya balita berusia lima tahun pada waktu itu pun dihentikan


Dengan suara sedikit meninggi," Atas dasar apa kamu mengatakan kalau Kirana itu anak kamu?" tanya Nyonya Luciana semakin tidak tenang dan akan menghalalkan cara agar Kirana tidak kembali pada Nabila.


"Sutttttttt ibu pelankan sedikir suaramu!" ucap Ayah Bima.


"Nenek katakan pada kami semuanya siapa Kirana sebenarnya? Apakah benar apa yang dikatakan Nabila? kalau Kirana itu anak yang hilang selama belasan tahun yang lalu?" kini Adam ikut menimpali.


...❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️...


...Terimakasih...


...Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya...


...❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️...

__ADS_1


__ADS_2